Panduan Mengucapkan 'Baarakallaah' dan 'Tabaarakallaah' – Terminal Mojok

Panduan Mengucapkan ‘Baarakallaah’ dan ‘Tabaarakallaah’

Artikel

Muhammad Dzal Anshar

Bangsa kita memang bangsa yang terjajah. Setelah dijajah oleh Belanda dalam hal birokrasi, rupanya kita juga dijajah oleh bangsa Arab dalam hal agama dan bahasa. Sebagai negara mayoritas muslim, banyak kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Beberapa bertahan sesuai dengan kata aslinya, seperti: Insya Allah, adat, asli, jawab, dan sebagainya. Sebagian lagi disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, seperti: khatulistiwa dari dua kata “khattu” dan “al-istiwa”, kalang kabut dari kata “ka” dan “al-ankabut” berarti “seperti laba-laba”, dan mutakhir dari kata “muta’akhkhir”.

Lantaran mulut saya pernah berbusa-busa akibat berurusan dengan nahwu, shorof, jurumiyah, dan alfiyah Ibnu Malik. Telinga saya cukup sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan kaidah dan tata bahasa Arab.

Berikut ini dialog imajiner menggunakan bahasa antum-antuman dan ukhti-ukhtian.

Ukhti 1 menggendong bayi

“Lucu sekali ukhtiii! Tabaarakallaaah~”

Ukhti 2 dan ukhti 3 kompak memuji bayi ukhti 1

Ukhti 1: Jazaakallaah

Ikhwan (suaminya): Wabaarakallaah fiik

(Suami istri itu menjawab dua ukhti yang memuji bayi mereka)

Sebentar, ungkapan, “Tabaarakallaah” dijawab dengan “Jazaakallaah” dan “wabaarakallaah fiik”? Jawaban atau balasan itu memang berlebihan jika dibilang salah, tapi jelas jawaban itu juga tidak sepenuhnya benar.

Pertama, “Jazaa(ka)llaah” dan “jazaa(kum)ullah” adalah kata ganti untuk laki-laki dan banyak laki-laki. Jika objeknya adalah perempuan seperti di atas, kata gantinya menggunakan dhamir mu’annats atau perempuan yakni “jazaa(ki)llah”.

Kedua, ungkapan “wabaarakallaah fiik” sebagai jawaban dari “tabaarakallaah”, memang tidak sepenuhnya salah, tapi pada dasarnya tidak tepat. Bukannya ribet, pun kalau ada yang mau bilang saya ribet, silakan, saya izinkan.

Mohon maaf, ya, akhi dan ukhti fillah, sebagai orang yang kurang kerjaan, saya merasa terpanggil untuk membicarakan dan mengkritisi kembali penggunaan istilah bahasa Arab tersebut sebagai ungkapan takjub dan kagum dalam percakapan sehari-hari.

Tak ada salahnya dan ada baiknya jika kita mempelajari tentang makna, tujuan, dan fungsi dari kata atau kalimat Arab tersebut. Tidak lucu, kan? Kalau tujuanmu yang mulia sebagai doa kepada temanmu itu ternyata digunakan dalam konteks yang keliru.

Berikut ini penjelasan tentang Baarakallaah dan Tabaarakallaah sesuai pengetahuan dan pemahaman saya. Mohon antum koreksi jika salah.

#1 Baarakallaah

Kata Baarakallaah terdiri dari dua kata, “baaraka” dan “Allah”. Adapun kata “ba(a)raka” dengan tambahan “alif” setelah huruf “ba”, berasal dari fi’il madhi (kata kerja lampau) atau kata asli “baraka” tanpa alif, yang berarti berkah. Apabila ditambah “alif” setelah “ba”, yakni “Ba(a)rakallaah” artinya adalah semoga Allah memberkahi.

Kata ini digunakan sebagai doa baik untuk laki-laki maupun perempuan. Menjadi keliru ketika ada yang mengatakan “Baara(ki)llaah” dengan alasan orang yang didoakan adalah perempuan. Kesalahan itu karena huruf “ka” pada kata ini bukanlah dhamir atau kata ganti, melainkan huruf asli dari kata tersebut.

Kata Baarakallaah sebagai doa, agar lebih lengkap, ditambahkan kata ganti untuk menunjukkan kepada siapa doa itu ditujukan:

  • Untuk laki-laki, “Baarakallaah fiika” atau “laka” dan “Baarakallah fiikum” atau “lakum” berarti semoga Allah memberkahimu/kalian (laki-laki).
  • Untuk perempuan, “Baarakallaah laki” atau “lakunna”, artinya semoga Allah memberkahimu/kalian). Begitupun di kalangan ikhwan dan akhwat, kita biasa mendengar “Baarakallaah, akhi” atau “Baarakallaah, ukhti”, artinya semoga Allah memberkahi saudara(i)ku.
  • Untuk orang ketiga, “Baarakallaah lahu/lahum”, untuk laki-laki atau banyak laki-laki. Dan “Baarakallaah lahaa/lahunna, untuk perempuan atau banyak perempuan.

Bagi orang yang sedang berulang tahun, kamu bisa mengatakan, “Baarakallaah fii umrik”, yang artinya semoga Allah memberkahi umurmu atau sisa umurmu.

Jika ditujukan untuk dua orang, khususnya bagi pasangan yang menikah maka dhamir-nya diubah menjadi “Baa~rakallaahu lakuma~ wa baaraka~ ‘alaykuma~” seperti di lagu Maher Zain, yang berarti semoga Allah memberkahi kalian berdua. Kalau mau lengkapnya, putar saja lagu Maher Zain, ya.

Saat mendapat ungkapan atau doa seperti itu, bisa dijawab dengan mengembalikan doa itu, “jazaakallaah” (semoga Allah membalasmu) atau “wabaarakallaah fiik”. Atau cukup dengan “wa fiika(i/kum/kunna) berarti “dan bagimu/kalian juga”.

#2 Tabaarakallaah

Kata “Tabaarakallaah” adalah wazan tashrif “tafaa’ala”, dengan penambahan “ta” di awal dan “alif” setelah huruf “ba” “taba(a)raka”. Hal ini memberikan makna “yang maha” sebagaimana kata “Allah subhana wa ta’aalaa,” bermakna yang maha suci dan maha tinggi.

Kata “Tabaarakallaah” lebih dekat bermakna atas berkah Allah. Kata ini digunakan sebagai ungkapan takjub dan kagum atas ciptaan Allah dengan mengembalikan kepada-Nya, agar terhindar dari penyakit ‘ain. Biasanya disertakan dengan ungkapan “MasyaAllah”, seperti, “MasyaAllah Tabaarakallaah~”

Kata ini terdapat pada QS Ar-Rahman (yang biasa dijadikan sebagai mahar pernikahan), “Tabaarakasmu rabbik” Juga pada QS. Al-Mu’minun, “Fatabaarakallaahu ahsan al-khaaliqiin”. Pada kedua ayat itu, kata “Tabaaraka-allaah” memiliki makna sama dengan ungkapan “Subhaanallah” yang berarti Maha suci Allah.

Ungkapan ini biasa digunakan saat mendapat kabar gembira seperti kelulusan, pernikahan, kelahiran, ditraktir teman, Omnibus Law dibatalkan, Naruto tidak jadi mati, Pevita Pearce ngajak saya balikan, dan hal-hal membahagiakan lainnya.

Lantas, bagaimana jawaban dari ungkapan ini? Seperti yang saya jelaskan tadi, kata ini adalah ungkapan takjub dan kagum untuk mengagungkan Allah, maka tentu tidak membutuhkan jawaban sebagaimana kata “Baarakallaah fiik”.

Ketika ada yang menjawab kata “Tabaarakallaah” dengan “Wabaarakallaah fiik” saya jadi heran, Begimane ceritanye? Ini, kan, ungkapan takjub atas ciptaan Allah, jika dijawab begitu, konteksnya aja berbeda, jadinya, kan, nggak nyambung. Eh, atau gimana, yak?

BACA JUGA Pesantren dan Romantisme Hidup Santri Saat Hafalan Wazan Fa, ‘A, La dan tulisan Muhammad Dzal Anshar lainnya.

Baca Juga:  Kebun Raya Bogor dan Salah Kaprah Tentang Mitos di Dalamnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.