Sebagai seorang ibu yang memiliki dua anak usia sekolah, sekaligus bakul online shop yang HP-nya tidak pernah berhenti bergetar, saya menyadari satu hal: Neraka dunia itu bocorannya ada di Grup WhatsApp Wali Murid.
Bagi kalian yang belum menikah atau belum punya anak sekolah, bersyukurlah. Nikmati masa tenang kalian. Karena begitu anak kalian masuk PAUD atau SD, nomor HP kalian akan dimasukkan ke dalam sebuah ekosistem digital yang penuh dengan intrik, drama, dan spam stiker yang tidak ada habisnya.
Saya sering mengamati (baca: menahan emosi) perilaku ibu-ibu di grup ini. Sebagai lulusan Sastra Arab yang diajarkan untuk mencintai keindahan bahasa, membaca chat di grup wali murid seringkali membuat saya ingin meruqyah HP saya sendiri.
Ada yang panik berlebihan, ada yang pamer terselubung (humblebrag), dan ada yang menjadikan grup sekolah sebagai lapak jualan frozen food (oke, yang terakhir ini kadang saya pelakunya).
Sama seperti makan di Angkringan Jogja yang ada tata kramanya biar nggak dibilang ndeso, hidup di Grup WA Wali Murid juga ada etikanya.
Demi menjaga kewarasan kita bersama dan agar kalian tidak diam-diam di-mute oleh wali kelas, berikut adalah panduan tak tertulis agar tampak santun, elegan, dan berintelektual di dalam grup keramat tersebut.
Hentikan teror ‘terima kasih’ berjamaah
Ini adalah dosa terbesar dan paling umum. Bayangkan skenario ini: Bu Guru mengirim pengumuman penting di grup. “Bapak/Ibu, besok anak-anak harap membawa botol bekas dan lem untuk prakarya. Pulang jam 10.00.”
Satu informasi penting. Cukup dibaca. Dipahami. Dilakukan.
Tapi apa yang terjadi? Ibu A membalas: “Baik Bu, terima kasih informasinya.” 🙏 Ibu B membalas: “Siap Bu, terima kasih.” 👍 Ibu C membalas: “Terima kasih Bu Guru.” 🌹
Dan seterusnya sampai 30 wali murid membalas hal yang sama. Akibatnya? Pengumuman penting dari Bu Guru tadi tenggelam (ketimbun) ke atas. Wali murid yang baru buka HP siang hari harus scroll up setengah mati melewati hutan belantara ucapan terima kasih hanya untuk mencari info harus bawa apa besok.
Etika: Cukup satu atau dua orang perwakilan paguyuban yang membalas. Atau kalau gatal ingin merespons, gunakan fitur React (tahan pesan, kasih jempol). Itu lebih elegan, hemat kuota, dan tidak menyiksa layar HP orang lain.
Wahai wali murid, pahami definisi ‘japri’ (jalur pribadi)
Grup WA Wali Murid itu adalah ruang publik, bukan ruang tamu pribadi Anda.
Saya sering menemukan ibu-ibu yang curhat colongan tentang anaknya di grup umum. “Bu Guru, si Kevin kok nilainya jelek ya, padahal di rumah sudah belajar lho. Apa dia nggak dengerin di kelas?”
Aduh, Bun. Please. Pertama, itu membuka aib anak sendiri. Kedua, wali murid lain tidak perlu tahu masalah Kevin. Ketiga, itu membuat guru merasa diinterogasi di depan umum.
Etika: Kalau urusannya spesifik menyangkut anak Anda sendiri (izin sakit, tanya nilai, komplain anak dipukul teman), silakan Japri ke nomor pribadi guru. Jangan jadikan grup sekolah sebagai panggung drama keluarga. Simpan drama itu untuk sinetron Indosiar.
Kendalikan jempol ‘si paling stiker’
Stiker WhatsApp memang lucu. Ada stiker kucing joget, stiker pentol nangis, sampai stiker wajah sendiri yang diedit pakai tulisan “Mantap Jiwa”.
Tapi tolong, wahai Bunda-bunda yang budiman. Grup sekolah adalah forum resmi. Mengirim stiker gambar bayi Korea yang sedang ngupil untuk menanggapi pengumuman jadwal ujian sekolah adalah tindakan yang… agak laen.
Apalagi kalau stikernya stiker gerak yang ukurannya memakan separuh layar. Itu polusi visual. Itu mengganggu konsentrasi.
Etika: Gunakan teks. Kita ini manusia yang dianugerahi kemampuan berbahasa. Kecuali Anda memang tidak bisa mengetik, hindari penggunaan stiker berlebihan. Apalagi stiker yang “menyerempet” (Anda tahu maksud saya, stiker-stiker vulgar yang kadang nyasar dari grup bapak-bapak). Simpan stiker itu buat grup arisan saja.
Waspada hoaks penculikan dan permen narkoba
Biasanya ini terjadi saat jam-jam rawan (jam 9 pagi atau jam 8 malam). Tiba-tiba ada satu ibu yang forward pesan berantai.
“Hati-hati Bun! Info valid dari grup sebelah. Ada mobil van putih keliling sekolah, modus jual permen narkoba, target penculikan organ. Tolong disebarkan!!”
Tanpa tabayyun (klarifikasi), pesan itu diteruskan. Satu grup panik. Ada yang mau jemput anaknya sekarang juga. Ada yang nangis. Guru jadi sibuk menenangkan massa.
Padahal, setelah dicek, itu berita tahun 2014 yang didaur ulang. Atau kejadiannya di Brazil, bukan di Kecamatan Dau, Malang.
Etika: Sebagai kaum terpelajar, biasakan saring sebelum sharing. Cek Google dulu. Kalau infonya meragukan dan cuma bikin panik, Stop di Anda. Jangan jadi kompor. Grup WA Wali Murid sudah cukup panas dengan tagihan LKS, jangan ditambah dengan hoaks.
Jangan jualan (kecuali kepepet banget)
Nah, ini kritik oto-kritik buat saya sendiri dan sesama bakul online.
Godaannya memang besar. Di grup itu ada 30-40 target pasar potensial (ibu-ibu) yang memegang kendali keuangan rumah tangga. Rasanya ingin sekali mengirim foto gamis terbaru atau promo frozen food dengan caption: “Maaf Bu Admin, izin lapak sebentar ya…”
Tapi, sadarilah. Orang masuk grup itu untuk memantau pendidikan anaknya, bukan untuk belanja daster. Kalau setiap wali murid jualan, grup itu akan berubah jadi Marketplace Tanah Abang. Ibu A jual Tupperware, Ibu B jual Kue Kering, Ibu C jual jasa pijat bayi. Info sekolah bakal hilang.
Etika: Tahan diri. Kecuali ada momen khusus (misal bazar sekolah atau memang ada yang tanya), jangan promosi di grup utama. Buatlah grup terpisah, misal “Bazar Mama Kelas 1B”. Yang mau gabung silakan, yang tidak ya jangan dipaksa.
Wahai wali murid, jangan menggunakan grup untuk pamer (humblebrag)
Ini tipe yang paling halus tapi paling bikin darah tinggi.
Contoh kalimatnya: “Duh, Bu Guru. Maaf ya si Kakak kemarin ikut olimpiade Matematika tingkat Provinsi jadi nggak sempat ngerjain PR Bahasa Indonesia. Padahal dia udah saya beliin iPad Pro buat belajar, tapi emang anaknya sibuk banget.”
Terjemahan: “LIHAT ANAK SAYA PINTAR DAN KAYA RAYA!”
Kalimat ini dibungkus dengan permintaan maaf, tapi isinya pamer prestasi dan pamer harta. Ini membuat ibu-ibu lain yang anaknya baru bisa baca “Ini Budi” jadi insecure dan minder.
Etika: Rendah hati itu emas. Kalau anak berprestasi, cukup bersyukur. Tidak perlu diumumkan dengan gaya merendah untuk meninggi. Ingat, di atas langit masih ada langit. Dan di atas anak Anda yang pintar Matematika, masih ada anak tetangga yang hafal 30 juz (dan ibunya diam-diam saja).
Hormati jam istirahat guru
Mentang-mentang punya nomor WA Guru, bukan berarti kita bisa tanya PR jam 11 malam.
“Bu, besok pakai seragam apa ya? Maaf ganggu malam-malam.”
Ya jelas ganggu, Bun! Bu Guru juga manusia. Punya suami, punya anak, punya kehidupan, dan butuh tidur. Menanyakan hal sepele di jam istirahat adalah bentuk kelurangajaran feodal gaya baru.
Etika: Chat di jam kerja (07.00-16.00). Di luar itu, usahakan tahan jempol Anda, kecuali darurat (misal sekolah kebakaran). Biasakan anak untuk mencatat sendiri tugasnya, jangan sedikit-sedikit ibunya yang tanya ke guru. Latih kemandirian anak, bukan melatih kesabaran guru.
Penutup: jadilah wali murid yang ‘cool’
Grup WhatsApp Wali Murid memang medan perang mental. Tapi, ia adalah kebutuhan zaman. Kita tidak bisa lari darinya (kecuali mau anak kita ketinggalan info).
Maka, kuncinya adalah Empati dan Literasi. Bacalah pesan dengan teliti (jangan malas scroll). Pikirkan perasaan orang lain sebelum mengirim pesan. Dan yang paling penting: Jangan baperan.
Jadilah wali murid yang cool. Yang jarang muncul, tapi sekali muncul memberikan solusi atau info valid. Yang tidak pernah ribut, tapi selalu bayar iuran tepat waktu.
Percayalah, wali murid yang seperti itu adalah idaman para guru dan admin sekolah. Mari kita ciptakan ekosistem grup WA yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta bebas dari spam stiker kucing joget.
Sekian panduan ini saya buat di sela-sela packing paket gamis. Semoga bermanfaat dan tidak ada yang tersinggung. Kalau tersinggung, berarti Anda pelakunya.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Misuh Terbuka untuk Wali Murid Tukang Protes Guru Sekolah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















