Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Pak Midun dan Tragedi Kanjuruhan: Misi Membawa “Kue Busuk” sebagai Kado di Ulang Tahun Indonesia

Devandra Abi Prasetyo oleh Devandra Abi Prasetyo
6 Agustus 2023
A A
Pak Midun dan Tragedi Kanjuruhan: Misi Membawa "Kue Busuk" sebagai Kado di Ulang Tahun Indonesia

Pak Midun dan Tragedi Kanjuruhan: Misi Membawa "Kue Busuk" sebagai Kado di Ulang Tahun Indonesia (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Usaha Pak Midun adalah bukti bahwa Tragedi Kanjuruhan belum selesai, dan tuntutan serta perjuangan belum usai!

Di mana letak keadilan? Saya dan kalian jelas tak bisa menjawabnya dengan pasti. Keadilan mungkin saja terletak di bawah palu hakim saat persidangan. Dia juga bisa terselip di antara kalimat pada berkas-berkas di pengadilan. Atau, ia berada di tempat yang semestinya: hati nurani setiap manusia. Tapi, satu yang pasti, keadilan tidak tiba-tiba datang. Sama seperti cinta, ia harus diperjuangkan.

Miftahudin Romli atau yang akrab disapa Pak Midun, pria paruh baya yang memiliki misi mulia. Misi mencari “keadilan” selepas Tragedi Kanjuruhan. Sama seperti kita semua, blio juga tak tahu letak pasti dari “keadilan”. Ia akan mencarinya dengan teliti di sepanjang jalan Malang menuju Jakarta. Menggunakan sepeda tua yang telah ia modif sedemikian rupa, lengkap dengan replika keranda mayat sebagai pengingat. Tak hanya itu, Pak Midun juga ingin menagih bukti kepada negeri ini. Bahwa apa yang gurunya ajarkan bertahun-tahun silam tak hanya bualan belaka: di mata hukum, semua manusia setara.

Pak Midun dan usaha untuk tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan

Usianya sudah menginjak 53 tahun. Tak lagi muda. Otot-ototnya sudah tak seperkasa sebelumnya. Tapi, tekadnya jelas jauh lebih bulat dari saya. Semangatnya pun lebih merah. Nuraninya jauh lebih putih dari kebanyakan orang-orang di luaran sana. Dengan aksinya bersepeda beratus-ratus kilometer, singgah di pelbagai stadion yang ia lewati, Pak Midun ingin menunjukkan bahwa perjuangan ini belum usai.

Dilansir dari Times Indonesia, “Melalui sepeda ini saya ingin berekspresi supaya masyarakat tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan. Target saya sampai Jakarta pada 17 Agustus nanti atau bertepatan dengan Hari Kemerdekaan.” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Bagi saya, dalam misi ini, jarak bukanlah musuh utama. Lawan terbesar Pak Midun adalah cibiran dari mereka yang tak menyukainya. Saya yakin betul, tak semuanya pro dengan apa yang dilakukannya. Pasti akan ada segelintir orang yang tak menyukai apa yang ia lakukan. Mereka berusaha untuk memadamkan semangatnya. Berupaya untuk menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan akan berujung sia-sia.

Namun, pria yang juga bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pariwisata Batu juga mendapatkan dukungan banyak pihak. Setidaknya dari para pencinta sepak bola yang masih waras. Terpenting adalah restu dari sang istri, Nowo Dyah Sihkanti, yang mengatakan sangat mendukung aksi yang dilakukan sang suami.

Itu semua sudah cukup untuk meyakinkan Pak Midun bahwa ia tak sendirian, di belakangnya ada ribuan, puluhan, bakan jutaan kepala yang siap mendukungnya. Doa-doa dirapalkan agak ia selalu mendapat lindungan dari Yang Maha Kuasa.

Baca Juga:

Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

Mencoba merangkul semua elemen

Pak Midun memang bukan satu-satunya yang senantiasa berjuang untuk memperjuangkan hak para korban Tragedi Kanjuruhan. Kita juga mengenal Devi Atok, sosok Ayah yang kehilangan kedua putrinya di malam tersebut. Seperti tanpa lelah, keduanya tetap ingin mencari hal yang sampai saat ini masih belum ditemukan: keadilan.

Berat untuk diakui, tapi banyak elemen yang saat ini mulai terpecah. Di Malang sendiri, aksi-aksi perjuangan perlahan mulai meredup, hal ini sedikit banyak karena imbas ditangkapnya delapan suporter beberapa waktu silam. Sebagai Arek Malang, satu yang bisa saya pastikan bahwa masih ada dan masih banyak manusia yang tak kenal lelah memperjuangkan apa yang semestinya didapatkan.

Pun di media sosial, saat saya membaca sebuah twit yang berkaitan dengan tragedi ini, selalu saja ada suara-suara sumbang dengan tujuan memecah belah. Kembali, jika kasus ini tak diurus dengan sebaik dan sebenar-benarnya, bukan tak mungkin, ke depannya akan ada Tragedi Kanjuruhan jilid dua. Ahh, coba sejenak kita lepas baju bernama rivalitas antarklub tersebut. Bukannya kita telah sepakat bahwa tak ada nyawa yang sebanding dengan sepak bola?

Saya yakin, perjuangan seperti apa yang dilakukan Pak Midun, Devi Atok, Rini Hanifah, Cholifatul Noor, dan yang lainnya akan berbuah manis di kemudian hari. Saya yakin betul bahwa di setiap putaran roda sepeda Pak Midun akan menggerakkan setidaknya satu hati nurani untuk tetap hidup memperjuangkan mereka-mereka yang telah tiada.

Hadiah di ulang tahun Indonesia

Dalam beberapa hari ke depan, Pak Midun dengan sepedanya akan melintasi beberapa stadion yang ada di Jawa—setidaknya di kota-kota yang ia lewati. Misinya adalah sampai di Stadion Gelora Bung Karno pada 17 Agustus 2023, bertepatan dengan hari kemerdekaan republik ini.

Saya pribadi sangat berharap bahwa blio bisa tiba di Jakarta tepat waktu. Memberikan kado paling istimewa yang dibawa dari Malang. Kue dengan “bau paling busuk” di hari ulang tahun Indonesia. Ya, sebuah kegagalan dalam menyelesaikan kasus yang telah berjalan setidaknya 10 bulan lamanya.

Sebagai salah satu manusia yang selamat dari malam mencekam tersebut, bagi saya, ini merupakan kado terindah di hari bahagia republik ini. Pasalnya, Bumi Pertiwi masih diingatkan bahwa di umurnya yang telah menginjak 78 tahun, terlampau banyak lubang yang perlu dijahit, pun banyak noda yang harus dihilangkan.

Tidak mudah memang bagi manusia menghadapi sesuatu yang sangat besar. Keraguan dan ketakutan jelas menghantui. Bayangan terkait kegagalan jelas tak bisa lepas di kepala. Namun, tekad yang kuat, semangat yang membara, serta nurani yang masih hidup—selama bukan Tuhan—agaknya sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan apapun.

Pak Midun, selamat menempuh perjalanan panjang. Semua tahu bahwa ini merupakan pertarungan yang mungkin saja tak akan kita menangkan. Namun, saya yakin bahwa akan ada hal manis di akhir sebuah perjuangan. Serta, seperti sebuah kata-kata yang dengan mudah kita temukan di setiap sudut Kota Malang, ‘setidaknya kami akan terus berjuang’.

Penulis: Devandra Abi Prasetyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tragedi Kanjuruhan: Menormalisasi Hal yang Tidak Normal Adalah Mula Malapetaka

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2023 oleh

Tags: aremakeadilanpak midunpssitragedi kanjuruhan
Devandra Abi Prasetyo

Devandra Abi Prasetyo

Mas-mas Jawa penggemar sepak bola yang sedang mengadu nasib di belantara Jakarta. Hidup penuh ujian, terutama karena terjebak toxic relationship,

ArtikelTerkait

KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

Vonis Hukuman Jaksa Pinangki yang Dipotong dan Akal Sehat yang Diludahi

15 Juni 2021
Apa Betul PSSI Mau Bikin Boyband?

Apa Betul PSSI Mau Bikin Boyband?

29 Desember 2019
Menyatukan Air Mata untuk Tragedi Kanjuruhan, Memeluk Rival Menyudahi Pertikaian (Foto ini milik: @Dicki66)

Menyatukan Air Mata untuk Tragedi Kanjuruhan, Memeluk Rival Menyudahi Pertikaian

5 Oktober 2022
PSSI dan FIFA sama-sama brengsek. (Mojok.co/Ega Fansuri)

PSSI dan FIFA Membuang Empati ke Tempat Sampah

19 Oktober 2022
PSSI, Erick Thohir, AFC, Bali United (M. Wigya Permana Putra via Shutterstock.com)

Kok Ada yang Puas dengan Kepemimpinan Erick Thohir di PSSI?

23 Agustus 2023
KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

Putusan Sidang Kode Etik Wakil Ketua KPK: Mengharap Rasa Malu dalam Drama yang Belum Berlalu

4 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.