Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Outfit Mahasiswa FISIP UI Membuat Saya Sadar bahwa Kuliah Tidak Mesti Pakai Kemeja dan Celana Bahan

Dinar Maharani Hasnadi oleh Dinar Maharani Hasnadi
9 Juli 2024
A A
Outfit Mahasiswa FISIP UI Membuat Saya Sadar bahwa Kuliah Tidak Mesti Pakai Kemeja dan Celana Bahan

Outfit Mahasiswa FISIP UI Membuat Saya Sadar bahwa Kuliah Tidak Mesti Pakai Kemeja dan Celana Bahan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah “doktrin” lama yang disampaikan oleh orang tua saya ketika saya baru saja diterima sebagai mahasiswa baru di FISIP UI: kuliah itu harus pakai kemeja atau atasan berkerah lainnya dan celana bahan. Kalau mau lebih lengkap, sekalian pakai sepatu yang menutup jari kaki dan gesper (kalau bisa hitam).

Tak ayal, salah satu persiapan saya pada masa awal perkuliahan adalah membeli kemeja (dan baju berkerah lainnya) serta celana bahan sebanyak mungkin.

Namun, setelah menjalani setahun perkuliahan di FISIP UI, ada satu hal yang saya sadari. Aturan mengenai kemeja dan celana bahan itu nyatanya sudah usang, tidak relevan lagi.

Memang, aturan itu tidak sepenuhnya menghilang. Saat mahasiswa harus menghadiri acara penting atau kegiatan formal lainnya, khususnya yang mewajibkan dress code tertentu, ia biasanya memakai kemeja dan celana bahan. Sama juga kalau magang, kemeja dan celana bahan hitam putih itu sudah menjadi ciri klasik.

Selain itu, ada beberapa dosen yang tegas soal berpakaian, misalnya dengan melarang mahasiswa memakai kaus oblong atau sandal jepit. Selain itu, memang sudah menjadi aturan tidak tertulis bagi kami para mahasiswa untuk memakai kemeja, atau setidaknya pakaian rapi berkerah, ketika mendapat giliran presentasi di hadapan kelas.

Namun, sesuai yang saya amati, secara umum, aturan tersebut sudah tidak berlaku sepenuhnya lagi. FISIP UI menjadi lingkungan fesyen yang unik, tempat mahasiswa bereksperimen tentang selera berpakaiannya dan menghadirkan warna baru ke lingkungan kampus.

FISIP UI tak kalah “liberal”

Saya pernah mendengar bahwa dalam soal per-outfit-an, FIB (Fakultas Ilmu Budaya) memegang juara satu outfit kampus paling “liberal”. Memang, pernyataan itu benar. Namun, outfit anak FISIP juga tidak kalah “liberal”.

Di FISIP UI, saya menyaksikan segala macam tren fesyen “aneh” bermunculan. Saya sebut “aneh” bukan karena saya menganggapnya buruk, melainkan karena memang saya tidak pernah melihat gaya berpakaian seperti itu sebelumnya.

Baca Juga:

Betapa Jahatnya Orang yang Ngatain Anak Daerah Gara-gara PPKB UI, Orang Luar Jakarta Juga Berhak Masuk UI!

Depok, Adik Tiri Jakarta Selatan yang Kini Punya Gaya Sendiri

Misalnya saja, ada yang memakai dasi nyentrik, biasanya dengan kaus oblong biasa. Padahal, sebelumnya, saya hanya pernah melihat orang memakai dasi dengan kemeja dan jas (atau seragam tertentu).

Ada yang memakai baju dengan warna-warna nabrak, kain tradisional, sarung kotak-kotak, hingga outfit yang menunjukkan selera musik tertentu. Bahkan, saya pernah menjumpai laki-laki dengan setelan jas lengkap atau pakaian adat ke kampus sebagai pakaian sehari-hari. Dengan kata lain, walaupun di FISIP UI sedang tidak ada acara, penampilannya tetap always on.

Terkadang, saya juga menemukan gaya berpakaian yang lumayan mengejutkan. Memakai crop top atau bustier ke kampus, misalnya. Semacam kemben terbuka.

Entah dapat inspirasi dari mana, orang-orang pada jago memadu padankan outfit yang dikenakannya sehingga tampak ciamik, sopan, dan tidak norak. Misalnya, dengan menggunakan blazer sebagai outer.

Jujur, saya kagum dengan para mahasiswa FISIP UI yang berani tampil “beda” dengan percaya diri di kampus. Terus, kombinasinya macam-macam, jadi yang dipakai harus banyak pula. Kok bisa, ya, mereka bawa pakaian sebanyak itu ke kosan?

Untuk melengkapi outfit, banyak juga yang sekaligus menggunakan tas, sepatu, dan perhiasan yang sepadan. Kalau sudah begini, ada kemungkinan harus bangun lebih pagi demi berdandan. Punya niat yang besar untuk tampil all out di kampus juga membuat saya salut.

Menurut saya, kampus menjadi salah satu tempat yang cocok untuk menunjukkan jati diri melalui gaya berpakaian. Apa lagi, bagi anak-anak rantau yang jauh dari mulut keluarga yang julid (“mau kuliah apa fashion show…”).’

Fakultas lain

Yang saya perhatikan, di UI, tiap fakultas memiliki ciri berpakaian yang berbeda-beda. Di fakultas yang terkenal ketat seperti FMIPA atau FK, misalnya, rata-rata pakaian mahasiswanya rapi, berkerah. Wajar, soalnya mereka banyak kegiatan di lab.

Biasanya, perempuan sering pakai hijab syar’i dan rok A line, sementara yang laki-laki pakai outer kemeja flannel merah-hitam kotak-kotak. Ngomong-ngomong, kemeja kotak-kotak ini juga sering diidentikkan dengan cowok Teknik. Soalnya kebanyakan cowok Teknik outfit-nya begitu.

Nah, di FISIP UI sendiri, uniknya, tidak ada satu “ciri khas” tertentu. Tidak ada pakem yang membuat kita bisa langsung tahu, “oh, itu anak FISIP, ya” dari caranya berpakaian, kecuali ia memang sedang memakai kaus merchandise fakultas. Soalnya, gaya berpakaian anak FISIP memang sevariatif itu.

Tetap harus rapi

Saya akui, berpakaian sopan dan rapi di kampus memang tetap diperlukan. Apa lagi, dosen-dosen tertentu terkenal ketat soal aturan berpakaian mahasiswa. Pakaian sopan dan rapi yang dimaksud, kalaupun tidak berkerah, setidaknya tidak terbuka dan pantas. Sebagai mahasiswa ilmu sosial, saya tetap meyakini bahwa fesyen dan ekspresi identitas dalam lingkungan kami di tingkat fakultas merupakan fenomena sosial yang unik dikaji.

Hal ini yang, bagi saya, merupakan ciri khas anak FISIP. Jangankan di satu fakultas, di satu jurusan yang sama pun, mahasiswanya beda semua. Walaupun aturannya kami mempelajari ilmu-ilmu sosial dan politik, nyatanya banyak mahasiswa yang menggeluti dunia kesenian di sini, jadi selera berpakaiannya seperti seniman semua.

Saya tidak yakin bisa menemukan keunikan yang sama di fakultas lain. Keunikan fesyen anak FISIP ini saya anggap kekhasan sendiri. Anggap saja identitas. Apa lagi jika di jalan ketemu dengan sesama mahasiswa FISIP yang sedang memakai kaus merchandise bertuliskan “FISIP Juara”. Beuh, rasa kekeluargaannya tiada tara.

Penulis: Dinar Maharani Hasnadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Outfit Anak UGM : (Dulu) Nggak Segitunya Deh!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Juli 2024 oleh

Tags: FIBFISIPfisip UIoutfitUIUniversitas Indonesia
Dinar Maharani Hasnadi

Dinar Maharani Hasnadi

Mahasiswi HI. Penulis lepas. Suka makan sushi pakai ikan asin.

ArtikelTerkait

alumni itb

Kata Siapa Kuliah di ITB itu Keren?

9 Mei 2019
Jembatan Aborsi, Contoh Nyata Beratnya Perjuangan Kuliah di UI

Jembatan Aborsi, Contoh Nyata Beratnya Perjuangan Kuliah di UI

1 Mei 2023
Mahasiswa UI Wajib Tahu, Ini 10 Istilah Tempat yang Cuma Ada di UI!

Mahasiswa UI Wajib Tahu, Ini 10 Istilah Tempat yang Cuma Ada di UI!

3 April 2023
Makara Art Center, Tempat Terbaik untuk Menikmati Sore Hari di Universitas Indonesia

Makara Art Center, Tempat Terbaik untuk Menikmati Sore Hari di Universitas Indonesia

9 Agustus 2023
Mahasiswa Bandung yang Kuliah di ITB, UNPAD, UNPAR, UPI, dan UNISBA Punya Ciri Masing-masing terminal mojok.co

4 Hal yang Bikin UIN Jauh Lebih Unggul dari UI

2 April 2020
Mencari Alasan di Balik Desain Foto Sambutan untuk Calon Mahasiswa Baru UI terminal mojok (1)

Mencari Alasan di Balik Desain Foto Sambutan untuk Calon Mahasiswa Baru UI

16 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mengenal Ampo, Camilan Khas Tuban yang Terbuat dari Tanah Liat Mojok.co

Ampo, Makanan Khas Tuban Nggak Akan Pernah Saya Coba

10 Maret 2026
Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan (Unsplash)

Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan, Mending Makan Mangut Lele atau Bakmi Jawa kalau Pertama Kali Kulineran di Jogja

9 Maret 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Menyiksa Suzuki Swift di Jalanan Pantura yang Tak Pernah Mulus dari Kudus ke Rembang

9 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan
  • Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika
  • Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja
  • Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki
  • Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda
  • ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.