Orang Tua yang Memutuskan Nikah Lagi Setelah Bercerai Itu Nggak Seburuk Cerita FTV – Terminal Mojok

Orang Tua yang Memutuskan Nikah Lagi Setelah Bercerai Itu Nggak Seburuk Cerita FTV

Artikel

Tazkia Royyan Hikmatiar

Saya sepakat jika perceraian orang tua adalah sesuatu yang menyebalkan dan merugikan. Tapi saya nggak setuju kalau setelah serangkaian hal  menyebalkan itu kita akhirnya mesti mengesampingkan hal lain. Misalnya ketika orang tua yang sudah bercerai ingin nikah lagi. Jangan terlalu terbawa suasana FTV yang selalu menampilkan orang tua tiri sebagai tokoh jahat. Nggak semua begitu kok.

Meskipun nggak menyaksikan FTV langsung, omongan dari mulut ke mulut dari orang yang udah nonton itu menyebarkan anggapan yang tidak selalu benar tentang orang tua yang nikah lagi. Tahu sendiri kan gimana bapernya penonton Indonesia sama acara televisi? Aktris antagonis The World of Married aja habis dicaci maki.

Mindset yang dibangun terhadap orang tua tiri udah jelek aja dari awal. Kebanyakan dituduh telah merenggut kebahagiaan keluarga, dibilang perusak rumah tangga segala. Padahal nggak selamanya seburuk itu. Sayangnya orang-orang menutup mata sama kebaikan dan sisi positif dari orang tua yang nikah lagi setelah bercerai.

Makanya perlu diubah dulu mindset itu. Bahwa nggak semua orang tua tiri itu otomatis jahat. Nggak semua orang yang cerai itu karena mereka orang bejat dan disebabkan adanya orang ketiga. Dengan begitu, kita bisa mengidentifikasi dengan jelas gimana sifat sebenarnya orang tua tiri kita. Lagian nih, ya, dalam beberapa hal, perpisahan itu kadang jadi pilihan paling baik setelah semua cara untuk bersama sudah dilakukan, tapi tetap nggak membuahkan hubungan yang harmonis.

Sebab, bertahan dengan orang yang udah beda tujuan itu susah, loh. Kalau dipaksakan, untuk beberapa orang justru malah jadi beban, dan pelampiasannya bisa jadi hal-hal buruk. Dan bisa dipastikan dari pelampiasan itu anak bakal kena imbasnya. Katakanlah bentuk pelampiasannya adalah ayah jadi jarang di rumah karena nggak nyaman, si ibu curiga dong karena si ayah jarang pulang. Maka pas si ayah pulang, cekcoklah mereka berdua. Adu omong yang nggak sehat, cuma ribut doang.

Baca Juga:  Rafathar Sudah Mulai Protes Terlalu Sering Di-prank, Raffi-Gigi Kapan Mau Tobat?

Setelah itu si ibu jadi bete seharian, ngelampiasin betenya ke siapa? Ya, ke anaknya. Sudah pasti nggak ada pendidikan anak yang baik dari sana. Sudah ibu marah-marah, eh ayah nggak ada untuk anaknya. Untuk mengatasi itu, kadang pisah memang jadi pilihannya. Orang tua kita jelas paham itu. Ada risiko? Ya, tapi mereka tetap bersama juga resikonya lebih parah.

Pengalaman saya, setelah pisah justru orang tua saya lebih paham bahwa saat mereka bersama, sudah banyak waktu yang mereka buang tanpa kami anak-anaknya. Jadi setelah pisah bisa berpikir jernih. Meski sudah nggak serumah, mereka bisa lebih kasih waktu buat kami, ngajak ngobrol, diskusi, dan main-main.

Memang mindset tentang perceraian juga harus diubah sih. Maksud saya bukan jadi menghalalkan perceraian loh, ya, tapi ini kita berbicara pasca-perceraiannya. Kalau sudah terjadi begitu, maka kita juga harus melihat sisi-sisi baik dari perceraiannya. Daripada malah jadi anak broken home karena kejadian itu. Sudah cukup sial dengan hubungan orang tua yang nggak harmonis, maka janganlah dipraktikkan ke diri sendiri. Perceraian orang tua nggak otomatis bikin kita jadi anak yang broken home.

Cukup dijadikan pelajaran, bahwa ternyata nikah itu bukan cuma tentang cinta. Ada juga komitmen yang harus terus tertanam, kepercayaan yang terus dipukuk, dan saling menerima yang terus harus sering ditumbuhkan.

Pada akhrinya, meski orang tua bercerai bahkan memutuskan nikah lagi, nggak ada yang namanya mantan anak. Perceraian itu cuma perpisahan antara suami dan istri, bukan perceraian orang tua dan anak. Setelah berpikir gitu, rasanya nggak akan terlalu sulit untuk menerima kalau orang tua nikah lagi dan kita punya orang tua tiri. Hanya yakinkan saja orang tua kita untuk memilih pasangan yang nggak cuma bisa terima mereka, tapi juga terima keadaan kita sebagai anaknya..

Baca Juga:  Pendidikan Akademik Beda dari Vokasi, Ngarep Sarjana Langsung Bisa Praktik ya Jelas Salah

Setelah itu, yang perlu kita lakukan pada orang tua tiri adalah bersikap biasa aja. Ngobrol sama orang tua tiri itu bukan hal mustahil. Lama kelamaan, kita juga bisa terima mereka sebagai orang tua sendiri kalau sudah kenal betul. Bahkan, beberapa orang tua tiri justru terkadang secara materi lebih bisa bikin kita sejahtera loh, haha. Just enjoy it. Kalau ada sesuatu yang buruk sudah terjadi, itu nggak otomatis hal lainnya bakal buruk juga ke depannya.

BACA JUGA Preman Pensiun Kesempatan Kedua: Jawaban buat Ending Preman Pensiun 4 yang Gantung dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.