Memang, banyak orang Salatiga yang bilang kalau tempatnya punya tempat wisata. Padahal, nyatanya, tempat wisata itu ada di Kabupaten Semarang. Namun, jangan salah, saat ini banyak orang menggilai kota kecil ini.
Saya sering mendengar kalau banyak orang dari Kabupaten Semarang, saat mendapat pertanyaan soal asal, mengaku dari kota sebelah. Rada lucu, sih, tapi lama-lama saya bisa memaklumi. Ada yang namanya gengsi.
Jadi, kalau kalian ketemu sama orang yang mengaku dari Salatiga, coba tanya lebih detail. Nyataya, mereka ini orang dari daerah Kabupaten Semarang yang berbatasan sebelah timur Suruh, Tengaran, Pabelan, dan Tuntang. Saya bisa gampang menebak.
Asal Kabupaten Semarang ngaku Salatiga karena malas menjelaskan
Beberapa orang yang saya kenal mengaku kalau ini perkara malas menjelaskan saja. Jadi, kalau ada yang tanya asal, mereka menjawab dari Salatiga, padahal aslinya kabupaten sebelah.
Mereka malas menjelaskan bedanya Kabupaten Semarang dan Semarang. “Kalau sama kotanya, sebelah mana?”, “Kenapa kok berbeda?” Ah, itu basa-basi yang nggak penting bagi mereka.
Orang akan lebih mudah mengingat “Salatiga”. Selain karena lebih simpel, nama kota ini juga sedang terkenal. Jadi nggak perlu repot menjelaskan.
Ada juga masalah gengsi
Perkara gengsi ada yang membuat orang “terpaksa” mengaku dari Salatiga, padahal asli Kabupaten Semarang. Ini bukan tanpa sebab.
Pertama, ada unsur “kabupaten” di sana. Sudah jelas, bakal lebih keren kalau kamu dikenal berasal dari Kota Semarang. “Dih, anak kabupaten, ya?
Lalu, kalau jujur mengaku dari darah Tengaran, banyak yang akan bilang kalau mereka udik karena anak gunung. Mengaku orang Suruh? Ah, dikira anak petani karena banyak sawah. Makanya, jawab aja dari Salatiga. Beres.
BACA JUGA: Kabupaten Semarang Dianggap Tertinggal dari Kota Semarang, padahal Lebih Nyaman untuk Ditinggali
Salatiga memang layak menjadi kota idaman
Saya, sih, maklum, kalau ada anak Kabupaten Semarang mengaku dari Salatiga. Meski kecil, tapi Salatiga saat ini terbilang lengkap. Mulai dari sekolah favorit, tempat makan kekinian, serta supermarket yang lengkap. Ini menunjukkan kota ini mampu membentuk citra baik yang bisa dibanggakan.
Penulis: Wulan Maulina
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













