Kalian lebih pilih bakmi Jawa atau gudeg?
Ada banyak alasan orang berwisata ke Jogja. Ada yang mengincar wisata alamnya, wisata edukasi, hingga sejarah. Tidak sedikit juga yang mampir ke daerah ini untuk kulineran.
Sulit dimungkiri, Jogja punya khazanah gastronomi yang luas dan melimpah. Kuliner di Jogja ini terbentang dari yang manis hingga yang pedas, yang kering hingga yang berkuah. Dari segala macam baceman hingga mangut lele, dan dari Gudeg hingga sate klatak. Semuanya ada, semuanya punya penggemarnya sendiri, dan tentunya semuanya punya posisi tawar.
Dari sekian banyak kuliner yang ada di Jogja, gudeg ternyata masih jadi top of mind orang-orang kalau bicara soal kuliner Jogja. Maklum, otentik khas Jogja, Gudeg juga punya sejarah panjang yang sulit terlepas dari Jogja. Itu mengapa, tidak berlebihan rasanya kalau menyebut Gudeg sebagai duta kuliner Jogja.
Akan tetapi, nggak semua orang suka dan cocok dengan Gudeg. Terutama buat orang-orang luar Jogja, Gudeg mungkin bukan sesuatu yang selalu dicari ketika pergi ke Jogja. Bahkan, bagi sebagian orang luar Jogja, Gudeg cukup dicoba sekali saja. Setelah itu nggak perlu.
Itu mengapa, sebagai orang luar Jogja, saya punya alternatif lain tentang tujuan kulineran ketika pergi ke Jogja. Iya, seperti di judul, kalau di jogja mending kulineran Bakmi Jawa ketimbang Gudeg. Sini tak jelasin mengapa.
Baca juga 5 Bakmi Jawa khas Gunungkidul yang Autentik dan Mantap.
Karakter rasa bakmi Jawa lebih bisa diterima oleh lidah orang-orang luar Jogja
Hal yang paling kentara tentunya soal rasa. Gudeg punya karakter rasa manis yang dominan, sedangkan Bakmi Jawa punya paduan manis gurih yang pas. Inilah yang jadi alasan mengapa banyak orang, terutama orang luar Jogja, yang sudah males makan Gudeg. Rasanya gitu-gitu aja, ya dominan manis aja seperti nggak terlalu ditopang rasa yang lain. Gurihnya nggak kelihatan, menjadikan Gudeg serasa cukup untuk dimakan sekali saja, tanpa perlu “dibaleni” kalau kata orang Jawa.
Sedangkan bakmi Jawa, mereka punya kekhasan rasa yang menarik. Karakter dasarnya memang masih manis, tapi bukan manis yang dominan seperti gudeg. Manis makanan ini masih ditopang dengan rasa asin-gurih, yang menjadikannya sebagai makanan yang ciamik. Bagi orang luar Jawa, orang Jawa Timur seperti saya misalnya, kalau disuruh memilih antara gudeg atau bakmi Jawa, tentu saja akan memilih bakmi Jawa. Secara rasa lebih bisa diterima oleh lidah.
Baca halaman selanjutnya: Nggak semua orang …



















