Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Jarang Srawung karena Lingkungannya Toxic dan Pemikirannya Jalan di Tempat!

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung (unsplash.com)

Beberapa waktu lalu, ada artikel di Terminal Mojok yang menggugat fenomena kehidupan di kampung. Isinya keresahan penulis melihat hilangnya budaya srawung pada generasi muda di lingkungan kampungnya. Dan ya, tulisan dengan judul “Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Jarang Srawung” itu jujur aja sangat relate. Terutama bagi saya. Jadi, izinkan saya, orang kampung yang kebetulan berkesempatan sekolah tinggi ini menjawab keresahan itu.

Saya sendiri adalah warga di salah satu desa di Kabupaten Semarang yang masih kental sekali dengan budaya srawung. Sebagai orang yang memilih absen dari kegiatan itu, jujur kadang emang ada secuil rasa bersalah. Tapi anehnya, setiap kali penyesalan itu datang, entah kenapa realitas di lapangan justru membuat saya selalu mbatin, “Kalau dulu saya nggak menarik diri, mungkin hidup saya nggak akan sebahagia dan seberkembang ini.”

Sebab, lingkungan kampung selalu aja berhasil membuat saya merasa “sebaiknya nggak usah srawung aja”.

Pos ronda yang beralih fungsi jadi sarang toxic

Mari kita preteli romantisme kata “srawung” yang sering diglorifikasi itu. Srawung sendiri sebenarnya adalah bahasa Jawa dari bersosialisasi. Di bayangan orang kota, srawung diartikan sebagai ruang komunal tempat warga saling membantu, menjaga keamanan, atau minimal ngobrol hangat. Ya, nggak salah juga.

Tapi sayangnya, kenyataanya berbeda. Srawung hari ini telah berubah jadi ajang kumpul-kumpul minim faedah. Isinya kalau nggak ghibah, begadang, main slot, main ML sampai subuh, ya mabuk-mabukan.

Contoh di kampung saya deh, pos ronda yang harusnya berfungsi buat sistem keamanan lingkungan atau sebatas tempat ngobrol malam, kini malah jadi panggung judi kartu dan tempat teler. Bonus utamanya? Gibahin tetangga. Tetangga beli motor baru, langsung dituduh hasil utang bank. Masalah keluarga orang lain pun dikuliti habis-habisan.

Bahkan yang paling menjijikan, obrolannya sering mengarah ke seksualitas tetangga sendiri secara vulgar. Gimana? Masih mau meromantisasi srawung? Mau kalian nimbrung sama lingkungan kayak gitu? Saya sih ogah ya.

Dan benar lo, saya nggak sendirian. Kawan depan rumah saya memilih mundur dari sirkel pergaulan kampung. Kenapa? Ya karena lingkaran pertemanannya mentok jadi pengangguran yang ritme hidupnya gitu-gitu aja. Mabuk, main ML dari malam sampai pagi, habis itu tidur sampai sore. Gitu terus sampai negara api menyerang. Bahkan, bapaknya sampai pernah curhat sama saya lo, katanya pusing melihat anaknya nongkrong nggak jelas kayak gitu.

BACA JUGA: Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

Sudah beda pola pikir dan frekuensi obrolan pas srawung

Sekolah tinggi, suka atau tidak, emang mengubah seseorang. Dan maaf, perubahan ini bukan sekadar pamer lembar ijazah atau gelar di belakang nama. Saya merasakannya betul. Sekolah tinggi dan merantau ke kota mengubah cara saya melihat dunia, cara berkomunikasi, bahkan sampai selera humor. Selain itu, saat merantau isi kepala saya distimulasi sama diskusi, organisasi, buku, internet, dan interaksi dengan manusia dari berbagai latar belakang. Efeknya, saya jadi terbiasa dengan obrolan yang berbobot, kritis, atau minimal reflektif tentang masa depan.

Sementara itu, lingkungan kampung tampaknya masih nyaman jalan di tempat dengan ritme sosial yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Contoh, ketika saya pulang dari tanah rantau dan mencoba SKSD lagi sama kawan kampung. Ternyata obrolan mereka masih berkutat pada gosip murahan atau candaan seksis lama. Mungkin kalau saya yang versi anak SMA bakal ikutan ketawa ya, tapi sekarang? Aduh, yang ada malah risih dan pengen buru-buru pulang.

Akhirnya saya cuma bisa senyum kecut, bingung harus merespons apa pada obrolan yang udah beda frekuensi itu.

Selain itu, sekolah tinggi membentuk pola pikir saya yang lebih individual dalam artian positif. Saya jadi lebih menghargai privasi dan sadar akan batasan sosial. Sebaliknya, budaya kolektif kampung tuh sering kali kebablasan. Ruang privasi sangat tipis. Semua orang merasa berhak ikut campur dalam hidup orang lain.

Perbedaan jomplang soal pola pikir dan frekuensi inilah yang bikin orang-orang seperti kami emoh untuk srawung lagi.

Lebih takut miskin daripada digibahin 

Semakin dewasa, saya sadar bahwa hidup nggak bisa terus dihabiskan buat nongkrong di pos ronda atau hadir di setiap kumpulan warga. Ada kalanya kita harus tau prioritas. Fokus membangun masa depan daripada sibuk menjaga citra “anak kampung yang gampang diajak srawung”. Ironisnya, di kampung saya, sikap realistis begini langsung diganjar cap sombong. Kalau alasan menata masa depan ini dijelaskan, pasti ada aja yang ngga terima lalu nyeletuk “yo mbok kiro kene ra sibuk.” Ya terserah deh.

Buat saya, pendidikan adalah voucher taruhan untuk mengubah nasib keluarga. Orang tua udah banting tulang membiayai sekolah di tengah ekonomi yang serba pas-pasan. Rasanya berdosa banget kalau kesempatan sebesar itu disia-siakan. Apalagi hanya demi menjaga budaya srawung yang isinya bikin lelah mental.

Saya bukannya antisosial ya, tapi terus terang saya gagal menemukan manfaat dari srawung yang ujung-ujungnya cuma menguliti dan mengomentari hidup orang lain.

Adik saya juga demikian. Sejak diterima kuliah Kedokteran di UGM, waktunya habis diperas untuk kegiatan kuliah dan menahan tekanan mental agar nggak ngecewain keluarga. Dia makin jarang keliatan di kampung bukan karena nggak mau srawung, tapi memang energinya udah habis duluan di ruang kuliah.

Saya pun sama. Sebagai anak yang masih harus membantu ekonomi keluarga sekaligus mendukung pendidikan adik, energi saya habis buat kerja, kuliah, dan mikirin masa depan. Waktu luang adalah barang mewah yang nggak bisa dibuang cuma-cuma.

Sayangnya, perjuangan jatuh bangun kami menata masa depan ini jarang mau dilihat warga kampung. Mereka nggak peduli seberapa berdarah-darahnya kita menata karier. Yang dinilai cuma satu, muncul atau nggak muncul. Kalau jarang muncul, langsung dicap sombong, antisosial atau lupa kampung.

Tapi ya sudahlah, kami memilih tau diri aja. Sebab terus terang ya, lebih baik digibahin karena jarang srawung daripada besok-besok digibahin satu desa karena hidup terlilit utang dan gagal mengangkat derajat orang tua.

Mari saling mengerti, jangan hanya salahkan kami yang tak mau srawung

Intinya, keputusan kami untuk nggak srawung tuh bukan tanpa alasan. Jujur ya, kalau emang suasananya mendukung, kami juga pengen banget bisa duduk bareng dan ngobrol santai. Kami juga kangen kehangatan tetangga. Tapi ya tolong ngaca dulu deh. Gimana kami mau datang kalau lingkungan yang kalian tawarkan se-toxic itu?

Kalian sering menuntut kami buat membaur, tapi kalian sendiri gagal menciptakan ruang publik yang sehat untuk semua orang. Obrolan yang dilempar pun cuma bisa dinikmati oleh sirkel itu-itu aja. Lah yang nggak sefrekuensi gimana? Ya milih pergi atau mending tidur aja di rumah lah.

Dan asal tahu aja, fenomena “menarik diri” ini bukan cuma dilakukan kami yang kebetulan beruntung bisa sekolah tinggi lo. Banyak kok kawan-kawan di kampung yang nggak sekolah tinggi, tapi mereka milih nggak srawung. Alasannya sama, mereka nggak dapet lingkungan yang nyaman dan produktif.

Jadi, daripada sibuk menghakimi orang kampung yang sekolah tinggi sebagai sosok yang sombong dan antipati, yuk mari kita saling memahami. Mari kembalikan fungsi pos ronda seperti dulu. Tempat berkumpul yang sehat, aman, dan nyaman, tanpa peduli apa latar belakang pendidikannya.

Kalau lingkungan srawungnya udah sehat, sumpah deh, nggak usah disindir pun kami bakal datang sendiri membawa kopi. Tapi kalau belum bisa berubah, ya mohon maaf, jangan salahkan kalau pintu rumah kami bakal tetap tertutup rapat.

Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menolak Falsafah ‘Ra Srawung Rabimu Suwung’

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version