Ada satu fenomena yang menurut saya menarik sekaligus agak menggelikan di kampung: orang yang makin tinggi jabatannya di tempat kerja, kadang justru makin sulit kembali menjadi warga biasa.
Saya tidak sedang bicara soal semua orang. Banyak juga orang yang jabatannya tinggi, tapi tetap ringan tangan, masih mau duduk lesehan, dan tetap mau dipanggil dengan nama kecilnya.
Hanya saja, ada sebagian yang entah kenapa mengalami perubahan aneh. Di kantor, ia memang punya bawahan karena kedudukannya yang cukup tinggi. Bahkan ia juga punya ruangan sendiri di tempat kerjanya. Juga punya orang yang siap menerima instruksi. Lebih dari itu, ia punya tanda tangan yang menentukan nasib berkas orang lain.
Masalahnya muncul ketika kebiasaan itu ikut dibawa pulang ke kampung atau tempat tinggalnya. Padahal, kampung bukan kantor.
Ketika jabatan dibawa pulang ke tempat yang tidak seharusnya
Di kantor mungkin ia adalah kepala bidang, kepala divisi, atau pejabat yang kalau masuk ruangan semua orang langsung berdiri dan menyiapkan catatan. Tapi, begitu sampai kampung, anehnya sebagian orang masih membawa suasana itu.
Musyawarah warga terasa seperti rapat dinas. Ngobrol santai berubah jadi sesi pengarahan. Usulan tetangga dipotong seperti bawahan yang sedang presentasi. Kalau ada kerja bakti, gaya bicaranya seperti membagikan disposisi.
Yang lebih lucu, kadang bukan cuma cara bicara yang berubah, tapi juga ekspektasinya. Ia mulai berharap diperlakukan berbeda. Kalau ada acara warga, berharap diprioritaskan. Kalau usulannya tidak diterima, merasa tidak dihargai. Jika ada orang yang berani berbeda pendapat, langsung dianggap kurang sopan.
Padahal tetangganya bukan staf administrasi. Tetangganya juga tidak menerima SK yang mengharuskan mereka mengangguk.
Saya sering merasa, sebagian orang terlalu lama hidup di tempat yang membuat pendapatnya selalu didengar sampai lupa rasanya menjadi orang biasa. Padahal, kedudukannya di kampung bahkan sejatinya ia tak lebih tinggi dari ketua RT yang profesinya mungkin sekadar pedagang di pasar atau petani.
BACA JUGA: 4 Hal yang Bisa Dibanggakan Orang yang Tinggal di Kampung pada Penghuni Perumahan
Kampung tidak mengenal struktur organisasi
Hidup di kampung sebenarnya sederhana, status sosial tidak selalu bekerja sebagaimana di kantor. Kampung lebih egaliter, jika misal ada hierarki pun, amat kecil disumbang oleh jabatan seorang warga di pekerjaannya.
Hierarki justru lebih sering ditentukan oleh seberapa dermawan dan berguna orang tersebut di kampung. Percayalah, orang yang punya banyak kemampuan seperti bisa memperbaiki pipa, listrik, tembok retak, punya “kasta sosial” yang lebih tinggi.
Seseorang yang punya akhlak baik, ringan tangan, juga berada di tingkat yang berbeda. Itu sebabnya banyak orang kampung sebenarnya tidak terlalu terkesan pada jabatan. Mereka lebih menghormati perilaku.
Perlu diingat juga, di kampung, relasi sosial tidak dibangun dari struktur komando. Sebab, kita-kita ini adalah tetangga, bukan staf.
Jabatan tinggi tidak selalu membuat orang jadi besar
Saya kadang berpikir, mungkin tantangan terbesar dari seseorang yang punya jabatan bukan saat memimpin kantor. Itu justru bagian yang paling mudah.
Yang lebih sulit adalah tetap bisa menjadi warga biasa setelah terbiasa dihormati setiap hari. Sebab ada perbedaan besar antara dihormati karena posisi dan disukai karena kepribadian. Yang pertama bisa hilang saat pensiun. Yang kedua sering bertahan jauh lebih lama.
Mungkin itu sebabnya saya selalu kagum pada orang-orang yang jabatannya tinggi tapi kalau pulang kampung masih mau ikut duduk di gardu, ikut mengangkat kursi hajatan, dan tidak merasa harga dirinya turun hanya karena tidak ada yang memanggil “Pak”.
Semakin lama saya hidup, saya mulai sadar: Tidak semua orang yang berhasil secara karier berhasil secara sosial. Ada yang pandai memimpin kantor tapi gagal menjadi tetangga.
Padahal pada akhirnya, kantor punya jam pulang. Sedangkan kampung adalah tempat kita kembali. Dan ketika kembali, tidak semua orang ingin bertemu atasan. Kadang mereka hanya ingin bertemu sesama manusia.
Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













