Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung (unsplash.com)

Kalian masih sering srawung di kampung? 

Tinggal di daerah tanggung seperti Gamping, Sleman, membuat saya sering merasa hidup di wilayah yang identitasnya belum selesai. Mau disebut desa, terlalu ramai. Mau disebut kota, masih banyak suara ayam berkokok dan ibu-ibu yang saling teriak dari teras rumah ke rumah lain. 

Perumahan di daerah ini tumbuh cepat, warung kopi modern mulai bermunculan, tapi ronda masih jalan dan hajatan tetap bikin gang macet semalaman. Secara geografi, Gamping memang tanggung. Tapi, yang lebih terasa sebenarnya mental bersosialisasi warganya yang juga ikut tanggung. 

Saya mulai menyadari hal itu ketika memperhatikan anak-anak muda di kampung saya sendiri. Ada pola aneh yang semakin lama semakin terlihat jelas, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin jarang pula ia terlihat bersosial di lingkungan sekitar alias srawung. 

Anak-anak yang dulu paling sering main bola di gang kini berubah jadi sosok misterius. Mereka kuliah di UGM, UNY, UPN, atau kampus-kampus lain di Jogja, tapi keberadaannya hanya terasa dari suara motor saat berangkat pagi atau lampu kamar yang masih menyala sampai dini hari. 

Selebihnya, hilang. Jarang nongkrong, nggak pernah ikut ronda, bahkan duduk di angkringan dekat poskamling pun tidak. Bahkan, kadang lebih sering terlihat kurir paket daripada wajah pemilik rumahnya sendiri. 

Baca juga Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa.

Anak “biasa” aja malah rajin srawung

Sementara itu, anak-anak yang dianggap “biasa saja” justru menjadi penghuni tetap kehidupan sosial kampung. Mereka yang nongkrong di gardu, membantu tetangga pasang tenda hajatan, mengangkat kursi saat ada pengajian, atau paling sigap ketika ada warga meninggal dunia tengah malam.

Lucunya, yang paling sering terlihat di kampung justru sering dianggap paling tidak punya masa depan. Kalimat seperti “kerjanya nongkrong terus” atau “kayaknya nggak sibuk” lebih sering diarahkan kepada mereka yang secara sosial justru paling hadir. 

Sedangkan anak-anak yang hampir tidak pernah keluar rumah dianggap sedang “menata masa depan” hanya karena sibuk di depan laptop. Saya tidak sedang bilang bahwa kuliah membuat orang jadi antisosial, tidak pernah srawung. Kesimpulan semacam itu terlalu malas dan terlalu mudah. 

Lagi pula, banyak juga anak kampung yang setelah kuliah tetap hangat dengan lingkungan sekitar. Tapi, sulit dipungkiri, ada perubahan cara hidup yang membuat hubungan sosial anak muda dengan kampungnya semakin renggang. Dan, mungkin internet adalah salah satu penyebab paling besar.

Anak muda sekarang punya dunia sosial yang jauh lebih luas daripada generasi sebelumnya. Mereka bisa ngobrol dengan orang Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri tanpa keluar kamar. Mereka aktif di Discord, Telegram, Twitter, atau nongkrong di kafe yang bahkan letaknya lebih jauh daripada rumah tetangga sendiri. 

Akhirnya, ruang sosial fisik di kampung perlahan kehilangan daya tarik. Ronda dianggap membosankan dan obrolan bapak-bapak dinilai repetitif. Nongkrong depan gang kalah menarik daripada timeline media sosial yang selalu bergerak cepat. Anak muda kampung sekarang bisa sangat vokal membahas politik nasional, isu Palestina, keresahan ekonomi global, sampai teori sosial paling rumit, tapi tetap canggung ketika diminta menyapa tetangga baru yang tinggal tiga rumah dari tempatnya lahir.

Jarang hadir di kampung sendiri

Saya pernah duduk di pos ronda dan menyadari sesuatu yang agak menyedihkan, orang-orang yang paling cerewet soal “komunitas” di internet justru paling jarang hadir di komunitas paling kecil dalam hidupnya sendiri. 

Akan tetapi, sekali lagi, saya juga tidak ingin jatuh pada nostalgia murahan seolah generasi dulu pasti lebih baik. Sebab, kampung juga punya andil membuat anak muda perlahan menjauh, ogah srawung.

Tidak semua ruang sosial kampung nyaman untuk ditinggali anak muda yang pola pikirnya mulai berubah. Kadang obrolannya hanya seputar kapan nikah, kerja di mana, gaji berapa, atau membanding-bandingkan pencapaian hidup. Belum lagi budaya mengomentari pilihan hidup orang lain yang kadang melelahkan. 

Bisa jadi, sebagian anak muda bukan tidak mau bersosial. Mereka hanya lelah menghadapi lingkungan yang membuat mereka harus terus menjelaskan hidupnya sendiri.

Baca juga Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya.

Gamping yang unik

Di titik ini, saya merasa Gamping adalah contoh wilayah yang unik. Ia bukan desa yang guyub sepenuhnya, tapi juga belum menjadi kota yang individualistis secara total. Orang-orang masih saling kenal, tapi tidak benar-benar dekat. Masih saling menyapa, tapi tidak lagi saling memahami. 

Perumahan tumbuh cepat, kos-kosan menjamur, pendatang semakin banyak, sementara ruang sosial kampung mengecil pelan-pelan. Anak muda akhirnya hidup dalam dua dunia sekaligus, secara fisik tinggal di kampung, tapi secara mental hidup di internet. Mungkin itu sebabnya banyak anak muda sekarang terasa “ada tapi tidak hadir”. 

Mereka tinggal di sini, tapi pikirannya entah ke mana. Mereka peduli banyak isu besar, tapi mulai asing dengan lingkungan paling dekatnya sendiri. Dan, saya rasa, ini bukan semata-mata soal sopan santun atau etika bertetangga. Ini soal perubahan cara manusia modern membangun hubungan sosial.

Dulu, untuk merasa terhubung, orang harus keluar rumah. Sekarang tidak lagi. Kita bisa tertawa bersama teman lewat layar, jatuh cinta lewat aplikasi, bekerja tanpa kantor, bahkan marah-marah soal negara tanpa pernah benar-benar kenal siapa tetangga sebelah rumah. Dunia digital membuat manusia semakin terkoneksi secara global, tetapi perlahan tercerabut dari lingkungan kecilnya sendiri. 

Akibatnya, kampung hari ini terasa aneh. Ramai, tapi sepi. Dekat rumah, tapi jauh secara emosional.

Rindu suasana srawung zaman dahulu

Kadang saya rindu suasana ketika anak muda masih srawung, masih betah duduk di pinggir gang tanpa alasan jelas selain ingin bersama-sama. Bukan karena masa lalu selalu lebih baik, melainkan karena sekarang semua orang terlihat terlalu sibuk menjadi produktif sampai lupa caranya hadir. 

Padahal di kampung seperti kami, kehadiran masih punya arti besar. Datang membantu tetangga hajatan, ikut takziah, sekadar nongkrong sambil tertawa receh di gardu, hal-hal kecil seperti itu sebenarnya yang membuat sebuah lingkungan terasa hidup.

Mungkin benar pendidikan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Internet juga membuat wawasan semakin luas. Tetapi, saya berharap anak-anak muda kampung, termasuk saya sendiri, tidak sepenuhnya kehilangan kemampuan paling sederhana sebagai manusia yakni srawung dan hadir untuk orang-orang di sekitar kita. 

Sebab, akan sangat ironis rasanya kalau orang semakin pintar memahami dunia, tetapi semakin asing dengan gang tempat kita tumbuh besar.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version