Ada sebuah seni dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Yaitu, lewat makanan. Betapa banyak kesepakatan besar, rekonsiliasi keluarga, hingga proyek bernilai miliaran rupiah yang semuanya berawal dari meja makan. Itulah mengapa, menjamu tamu dengan makanan terbaik adalah sebuah kewajiban moral yang tak bisa ditawar.
Saya yakin, siapapun tuan rumahnya, pasti merasa senang ketika melihat tamunya menyantap dengan lahap apa yang disajikan. Meski demikian, urusan jamu-menjamu ini jadi lain ceritanya kalau tamu yang datang berasal dari kampung. Entah kenapa kalau orang kampung sudah berhadapan dengan makanan, mereka kadang jadi ngeselin.
Sebelum salah paham, izinkan saya meluruskan terlebih dahulu. Saya pakai istilah ‘orang kampung’ dalam tulisan ini bukan untuk merendahkan, ya. Tentu saja tidak. Lha wong saya juga produk asli kampung, kok. Hanya saja, istilah ‘orang kampung’ ini saya pakai untuk menegaskan bahwa sosok yang sedang kita bicarakan adalah orang yang selama hidupnya tinggal di daerah pedesaan, lengkap dengan kekakuan seleranya.
Niat effort menyambut tetangga kampung berujung sakit hati
Saya jadi ingat. Pernah suatu kali, saya kedatangan saudara dari kampung. Namanya juga mau kedatangan tamu, otak saya langsung bekerja keras mikir soal suguhan. Kan kasihan ya kalau jauh-jauh datang cuma disuguhi angin. Akhirnya, saya belilah camilan-camilan yang menurut saya enak. Soal makanan pun, saya masak dengan menu lengkap.
Akan tetapi, yang terjadi selanjutnya justru jauh dari ekspektasi. Apapun yang tersaji di atas meja, semua tidak pernah benar-benar lolos dari celaan mereka. Dibilang nggak enak, kemahalan, aneh, dan masih banyak lagi.
Itu baru soal cemilannya, ya. Soal masakan saya juga nggak luput dari komentar mereka. Alhasil, masakan saya cuma dimakan seiprit doang. Padahalkan saya masaknya dengan full effort. Kejar-kejaran dengan jam masuk kerja pula.
Jujur, saat itu saya mikirnya, mungkin mereka sudah kenyang makan cemilan. Atau, mungkin juga masakan saya terasa nggak enak di lidah mereka. Itu sebabnya, saya bertekad lain waktu mereka main ke rumah, mau tak bawa makan di luar saja.
Makan di luar pun masih dikomen
Lucunya, di lain waktu, saat mereka saya ajak makan di luar, mereka masih saja berkomentar soal makanan yang disuguhkan.
“Sambel apa ini? Enakan sambel buatanku.”
“Kuah kok rasanya ora ngalor ora ngidul!”
“Njukut batine kakean. Tehnya bening!”
Ya, Tuhan. Mereka itu kenapa, sih? Kenapa mereka sering banget mencela makanan? Dan nggak cuma diucapkan, ya. Kadang juga disertai gesture, seperti bergidik, mengernyitkan dahi hingga melepeh.
Maksud saya, bisa nggak sih tinggal duduk dan makan saja tanpa mencela? Toh, mereka nggak perlu bayar. Ingin rasanya menyahut, tapi ya bagaimana? Mereka-mereka ini umurnya lebih tua. Rasanya kok nggak sopan kalau mau didebat.
Pilihan makanan orang kampung yang terbatas
Jujur, saya sering tidak habis pikir. Kenapa ya, orang kampung kalau urusan makan suka sekali mencela? Apakah mereka ini memang picky eater? Yang lidahnya sudah terkunci pada satu rasa saja? Atau jangan-jangan, ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri untuk melindungi ego dan gengsi mereka agar tidak terlihat ndeso di depan saudaranya yang sudah tinggal di kota?
Ah, saya jadi ingat pernah ada yang bikin utasan di Thread soal betapa repotnya punya teman yang berasal dari kampung. Diajak makan jejepangan nggak mau, korea-koreaan nggak mau, nasi padang nggak doyan, ini bau, itu nggak cocok. Repot banget pokoknya. Polos-polos-sombong-njelei gimanaaa gitu.
Namun, setelah saya pikirkan lagi, kebiasaan orang kampung mencela makanan ini bisa jadi bukan suatu kesengajaan. Mereka tidak benar-benar bermaksud jadi orang yang menyebalkan, ataupun tidak menghargai tuan rumah. Bisa jadi, ini reflek yang terjadi sebagai dampak dari keterbatasan ekonomi yang mereka alami. Keterbatasan ekonomi yang akhirnya membuat mereka tak punya banyak pilihan rasa.
Mencela makanan itu tidak dibenarkan
Bagi orang kampung, rasa yang benar hanyalah rasa yang sudah akrab di lidah sejak kecil. Misal sayur, ya, mentok di sayur asem, sayur sop, sayur bayam, hingga sayur bening. Mereka tidak familiar dengan tom yum, steamboat, ramen, steak, dan banyak jenis makanan lain. Jangankan steak, sesederhana ada kangkung dimasak bareng dengan udang, bakso ikan, dan telur puyuh pun, mereka bakalan nyacat:
“Kangkung kok dicampur macem-macem!”
Lha gimana? Merka biasa makan oseng kangkung ya kangkung doang. Mentok-mentoknya paling ditambah potongan tempe. Di luar itu, semuanya dianggap aneh, salah, atau tidak layak yang kemudian memicu penolakan.Penolakan itu kemudian meluncur jadi bahasa lisan berupa celaan.
Padahal, kalau mau bicara soal etika, kita pasti sepakat kalau mencela makanan itu tidak dibenarkan. Kalau toh memang ada penolakan, ya, tidak harus sampai dicela. Makanan yang nggak salah kok dicela? Ini sih manusianya saja yang kurang memiliki empati. Sudahlah kurang empati, mulutnya lebih cepat daripada otak pula. Sehingga, semua dinilai hanya dari apa yang dikecap oleh lidah. Sementara ketulusan tuan rumah? Sama sekali tidak sampai ke hati mereka.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Orang Desa Asli yang Mengunjungi Desa Wisata.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
