Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
8 Mei 2026
A A
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya benar-benar mengalami culture shock ketika pertama kali berinteraksi dengan banyak orang di Jakarta. Bukan soal macet, bukan juga soal gedung tinggi atau gaya hidup cepat yang sering diceritakan orang-orang. Hal mengejutkan justru datang dari sesuatu yang sangat sederhana yakni kata dalam Bahasa Indonesia ‘aku-kamu’. 

Di daerah asal saya, dua kata itu adalah Bahasa Indonesia sehari-hari yang netral. Artinya, kata itu tidak terdengar kasar maupun halus, tidak juga genit, romantis atau semacamnya. Apalagi tanda PDKT alias pendekatan dalam konteks romantis, ‘aku-kamu’ sama sekali tidak berkaitan. Itu sekadar cara komunikasi yang terasa natural dan sopan antar sesama.

Akan tetapi, saya menerima respons yang berbeda di Jakarta ketika menggunakan dua kata itu. Beberapa orang tiba-tiba berubah sikap. Ada yang jadi canggung. Ada yang tersenyum aneh. Bahkan ada yang secara langsung bertanya, “Kita sedekat itu ya sampai pakai aku-kamu?”

Saya bingung. Bukannya itu memang Bahasa Indonesia yang benar?

Baca juga Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia.

Kata ‘aku-kamu’ itu sinyal romantis

Sejak kecil kita belajar di sekolah menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua: aku dan kamu. Dalam buku pelajaran, percakapan formal ringan pun menggunakan istilah tersebut. Tidak ada catatan kaki yang menyebutkan bahwa kata itu khusus untuk pasangan pacaran.

Akan tetapi, ternyata, di lingkungan Jakarta terutama di perkantoran atau pergaulan urban kata ‘aku–kamu’ sering diasosiasikan dengan kedekatan personal atau bahkan sinyal romantis.

Di sinilah saya mulai sadar bahwa bahasa bukan hanya soal tata bahasa, tetapi juga soal budaya sosial. Di banyak daerah di Indonesia, penggunaan ‘aku–kamu’ justru dianggap normal dan netral. Tidak terlalu kaku seperti ‘saya–anda’, tapi juga tidak kasar seperti panggilan slang. Bahkan, antar teman kerja baru pun penggunaan itu terasa wajar.

Baca Juga:

3 Kesalahpahaman Orang Jakarta Saat Melihat Demak: Dikira Membosankan dan Hampir Tenggelam

Jangan Asal Klaim, Ketoprak Itu Warisan Kuliner Betawi Jakarta, Bukan Cirebon

Sebaliknya, di Jakarta, banyak orang lebih nyaman menggunakan ‘gue–lo’ untuk teman sebaya. Lalu langsung meloncat ke ‘saya–anda’ untuk situasi profesional. 

Akibatnya, ketika seseorang tiba-tiba menggunakan ‘aku–kamu’ sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk kedekatan emosional. Padahal bagi saya, itu hanya kebiasaan bahasa. Gara-gara hal ini, di Jakarta saya jadi harus sering menjelaskan, “Saya nggak lagi PDKT kok, ini memang cara ngomong saya.”

Baca juga Ketika Menggunakan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar Malah Ditertawakan.

Jakarta dan kebiasaannya yang membingungkan

Fenomena ini menunjukkan bahwa Jakarta bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat pembentukan norma sosial yang unik. Banyak orang datang dari latar belakang berbeda, membawa kebiasaan bahasa masing-masing, lalu terjadi benturan persepsi.

Masalahnya, sering kali yang berbeda justru dianggap salah. Saya pernah merasa seolah melakukan kesalahan etika hanya karena menggunakan Bahasa Indonesia yang sebenarnya baku. Padahal niatnya sederhana: berkomunikasi secara sopan tanpa terlalu formal.

Ini membuat saya berpikir, mungkin masyarakat kota besar memang lebih sensitif terhadap batas personal. Interaksi sosial di kota besar cenderung cepat, praktis, dan menjaga jarak emosional. Bahasa pun ikut menyesuaikan.

Di sisi lain, masyarakat daerah terbiasa dengan hubungan sosial yang lebih cair. Kedekatan tidak selalu berarti romantis. Sapaan hangat bukan berarti flirting. Perbedaan inilah yang sering menimbulkan salah paham. 

Sejak pengalaman itu, saya mulai menyesuaikan diri. Bukan karena merasa salah, tetapi karena komunikasi memang membutuhkan kompromi budaya. Kadang saya menggunakan “saya–anda” agar aman. Kadang ikut memakai gaya bahasa lawan bicara supaya tidak disalahartikan.

Namun, tetap saja, di dalam hati saya sering bertanya, kenapa Bahasa Indonesia sendiri terasa asing di Ibu Kota? Mungkin bukan orang Jakarta yang terlalu baper. Bisa jadi mereka hanya terbiasa dengan norma sosial yang berbeda. Dan mungkin juga, saya hanyalah orang daerah yang baru sadar bahwa bahasa ternyata punya “dialek sosial” yang tidak tertulis.

Akhirnya saya belajar satu hal penting: komunikasi bukan hanya soal benar atau salah secara bahasa, tetapi juga soal memahami konteks budaya orang lain. Meski begitu, satu hal tetap ingin saya tegaskan. Tidak semua orang yang memanggil “aku–kamu” sedang mengajak PDKT. Kadang, itu hanya seseorang yang sedang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia apa adanya. 

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Cerita Orang Jakarta Selatan di Perantauan: Dicap Anak Gaul, padahal Aslinya Biasa Aja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: akuaku-kamuBahasabahasa indonesiaBaperbaperangueIndonesiaJakartakamulolo gue
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Tidak Semua Setan Betah di Kota Jakarta, Tidak Semua Malaikat Nyaman di Jogja mojok.co/terminal

Tidak Semua Setan Betah di Kota Jakarta, Tidak Semua Malaikat Nyaman di Jogja

16 Maret 2021
Menebak Pekerjaan Orang Tua Susanti "Upin Ipin" di Malaysia Mojok.co

Menebak Pekerjaan Orang Tua Susanti “Upin Ipin” di Malaysia 

6 Maret 2025
bemo

Mengenang Salah Satu Transportasi Jadul: Bemo

28 Agustus 2019
makanan pedas

Menanggapi Tulisan Kecap Manis yang Terdiskriminasi: Makanan Pedas Lebih Nikmat dengan Kemurnian Rasanya

4 Agustus 2019
Sisi Gelap Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Belum Banyak Diketahui Orang  Mojok.co

Sisi Gelap Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Belum Banyak Diketahui Orang 

5 November 2024
Kosakata Malang yang Harus Diketahui para Perantau Newbie terminal mojok.co

Kosakata Malang yang Harus Diketahui para Perantau Newbie

21 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

Pantai Semilir Tuban, Tetap Menawan di Tengah Kepungan Industri

9 Juli 2026
5 Aturan Tidak tertulis AYCE yang Sebaiknya Ditulis Saja karena Banyak Pembeli Norak dan Nggak Peka Mojok.co

5 aturan tidak tertulis All You Can Eat yang sebaiknya ditulis saja karena banyak pembeli norak dan nggak peka

9 Juli 2026
Universitas Terbuka, Kampus Negeri yang UKT-nya Tidak Kenal Sistem Golongan, Banyak Beasiswa Pula! Mojok.co

Universitas Terbuka, kampus negeri yang UKT-nya tidak kenal sistem golongan, banyak beasiswa pula!

9 Juli 2026
Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026
Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

6 Juli 2026
Sebagai Warga Jogja, Pantai Bantul Lebih Menarik untuk Dikunjungi Dibanding Pantai Gunungkidul

Sebagai warga Jogja, pantai Bantul lebih menarik untuk dikunjungi dibanding pantai Gunungkidul

9 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.