Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang Baduy Ternyata Mempraktikkan Gaya Hidup Indie dengan Mantap

Nasrulloh Alif Suherman oleh Nasrulloh Alif Suherman
4 November 2020
A A
Orang Baduy Ternyata Mempraktikkan Gaya Hidup Indie dengan Mantap terminal mojok.co

Orang Baduy Ternyata Mempraktikkan Gaya Hidup Indie dengan Mantap terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Orang Baduy atau yang disebut juga dengan Urang Kanekes dikenal sebagai masyarakat adat yang sampai saat ini masih menjaga tradisi serta adatnya. Mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, filosofi hidup, hingga masalah yang amat detail seperti pangan. Kalau ada yang tidak melakukan, atau ada yang tidak menghormati, pamali ceunah.

Terakhir kali berita soal orang Baduy ini adalah perihal permintaan mereka agar kampung adat, baik itu Baduy luar atau dalam, tidak lagi dijadikan destinasi wisata. Namun, sampai saat ini sepertinya tidak digubris. 

Tapi,saya tidak membahas hal itu karena saya baru saja menonton konten video berjudul Hidup Secukupnya dari channel Froyonion. Dari video tersebut, yang isinya adalah wawancara dengan salah satu orang Baduy yang lumayan terkenal di medsos, saya cukup kagum dengan filosofi hidup yang dianut mereka.

Dari pemahaman yang saya dapatkan, mereka hidup dengan cara yang sederhana, membuat saya yakin mereka itu lebih indie dari orang-orang yang mengaku indie alias anak-anak senja tai anying itu.  

Serba dari alam

Alam dan Bumi sudah menyediakan apa pun yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya, mulai dari pangan hingga sandang. Manusia dengan begitu pongahnya merasa lebih hebat dari alam itu sendiri, padahal Tuhan pun menciptakan manusia agar menjaga kelestarian alam. Mungkin beda soal kalau kita bicara ini ke pemerintah, sebab pemerintah yang penting investasi. Pemerintah Brasil, btw.

Lanjut, kehidupan serba alam inilah yang membuat orang Baduy jadi orang yang sangat indie. Apapun yang ada di alam semua dimanfaatkan, dipertahankan, dan dilestarikan. Mulai dari madu, gula, kelapa, dan segala bahan lainnya. Mereka menikmati sambil melestarikan. Tidak seperti anak-anak indie senja yang ngaku menikmati alam, tapi nongkrong cuman di kafe jiwa-jiwaan.

Mengaku mencintai alam, menulis puisi tentang senja, dan bergaya naik gunung, tapi nyatanya banyak yang malah ingkar alias buang sampah sembarangan. Malah asal nyobat-nyabut tanaman demi cinta, hashhh. Semuanya penuh tuntutan eksistensi di media sosial dan ujungnya lagi cuman biar dirinya biar terlihat keren. Apa-apaan!

Sandang dibuat sendiri

Orang Baduy mana ada ceritanya menggunakan pakaian branded? Tidak ada ceritanya, Brooo. Anak-anak indie yang ngaku indie cuman ngomong aja, pakaian aja masih ada merk dan brand. Walaupun beli dari musisi kesayangan yang kau paksa eksklusif, itu tetap brand dong. Kalau Baduy? Tidak, tentu saja tidak begitu.

Baca Juga:

Dilema Orang Cikarang: Terlalu Betawi untuk Disebut Sunda, Terlalu Sunda untuk Disebut Betawi

Penggunaan Umpatan “Anjing” Berdasarkan Tingkatan Emosi dalam Percakapan Bahasa Sunda Sehari-hari

Sandang buat sendiri, mulai dari pakaian sampai tas. Penuh kesederhanaan dan tiada bergantung dengan yang lain. Mungkin iya kalau Baduy luar menggunakan barang dari luar, tapi tetap secukupnya dan sederhana. 

Mandiri sejak dari alam pikiran

Digambarkan bahwa suku Baduy tidak bergantung pada peradaban modern, meski peradaban di luar Baduy makin progresif dan berkembang. Walaupun suku Baduy luar menggunakan beberapa teknologi, tapi tidak lebih dari alat berkomunikasi atau untuk keperluan berdagang saja. Tidak ada ceritanya orang Baduy main Tik Tok, bukan? Semuanya penuh dengan kesederhanaan dan ini akan selalu saya tekankan karena emang mereka keren.

Dari video Froyonion yang itu, didapati bahwa mereka selama tiga hari mencoba hidup ala orang Baduy dan semuanya dilakukan tanpa bantuan apa pun. Dalam artian teknologi dan semuanya dilaksanakan secara mandiri. Kemana-mana jalan kaki, mau ratusan kilometer juga dihantam, tidak pakai motor atau kendaraan lainnya. Anak kecilnya saja jalan delapan jam lebih, tapi santuy waeee.

Kehidupan anak-anak indie senja itu fana, mereka cuma pengin terlihat keren dan edgy. Semuanya penuh untuk ego dan medsos semata, agar terlihat yang paling mengenal semesta jiahhh. Terus apa? Filosofi hidup teu gaduh, ai siaaa~

Jika memang mengaku indie dan antikapitalis, mungkin kalian perlu mencoba mengimplementasikan hidup layaknya masyarakat di Baduy. Memang sih, sulit, tapi nyatanya tidak mustahil. Mereka masih bisa sejahtera, bahagia, dan menikmati setiap napas kehidupan dengan baik. Perjuangan itu perlu totalitas. Gaya sih boleh-boleh aja, tapi mbok ya jangan terlalu pol dan ndakik-ndakik biar nggak kesandung sama batasan-batasan kocak yang kalian buat sendiri. Silakan menikmati kopi dan menikmati senja, tapi tidak perlu merasa yang “paling” tahu soal semesta dan alam.

BACA JUGA Rekomendasi Tempat Arsip Sumber-sumber Primer selain ANRI buat Skripsian dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2020 oleh

Tags: anak indiesuku sunda
Nasrulloh Alif Suherman

Nasrulloh Alif Suherman

Alumni S1 Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta. Penulis partikelir di selang waktu. Sangat menyukai sejarah, dan anime. Kadang-kadang membuat konten di TikTok @waktuselang.

ArtikelTerkait

didi kempot dan band indie

Didi Kempot Geser Popularitas Band Indie

23 Agustus 2019
anak indie

Selain Bermusik, Beberapa Pekerjaan Ini Cocok Buat Anak Indie

14 Juli 2019
Bung Fiersa

Sementara Kita Sibuk Mencerca, Saat Itu Bung Fiersa Justru Sedang Giat-Giatnya Berkarya

4 Maret 2020
Suku Sunda Nggak Kuat Merantau Itu Anggapan Sesat (Unsplash)

Benarkah Orang Suku Sunda Nggak Punya Nyali untuk Merantau seperti Suku Lain?

28 Oktober 2023
Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

Meluruskan Stereotipe Terkait Perempuan Sunda yang Katanya Matre, Gemar Dandan, hingga Malas Masak

22 Agustus 2023
kaos band

Tipe-Tipe Orang Berdasarkan Kaos Band yang Dipakai

13 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.