Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Novel 18+ Adalah Bacaan Pertama Saya karena Saking Minimnya Akses Literasi di Kota Ini

Wilda Yanti Salam oleh Wilda Yanti Salam
23 Februari 2021
A A
Novel 18+ Adalah Bacaan Pertama Saya karena Saking Minimnya Akses Literasi di Kota Ini terminal mojok.co

Novel 18+ Adalah Bacaan Pertama Saya karena Saking Minimnya Akses Literasi di Kota Ini terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak di sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama, saya tidak pernah tau bahwa di dunia ini ada banyak jenis buku yang bisa dibaca selain buku cetak pelajaran sekolah dan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Sebetulnya saat itu, di SD saya ada perpustakaannya. Ia dibangun ketika saya sudah kelas 5. Namun, entah kenapa perpustakaan tersebut selalu tutup. Ia hanya dibuka saat ada orang-orang berbaju dinas lain selain guru-guru yang datang.

Kalau mereka datang, barulah kami disuruh masuk ke perpustakaan yang di dalamnya banyak buku bergambar dan tersusun rapi di rak yang masih bau pernis cat. Namun, itu hanya beberapa kali. Setelah itu kami tidak pernah diberikan izin untuk masuk lagi.

Kata salah satu guru, nanti buku-bukunya bisa dirusak sama anak-anak yang nggak terbiasa dengan buku.

Apa itu minat baca dan literasi? Boro-boro mau baca komik Conan atau serial Harry Potter ala anak-anak remaja perkotaan, sentuh buku cerita bergambar saja kami jarang.

Syukurnya pada 2012, saat saya naik ke kelas dua SMP, ramalan Mama Laurent soal kiamat dunia keliru. Andai betul, barangkali saya tidak akan pernah kenal yang namanya novel.

Ketika SMP, ada sepupu saya, sebut saja Fai, dia diterima di salah satu kampus negeri di Makassar, jurusan Sastra Indonesia. Lantaran memilih jurusan itu, mau tidak mau dia harus baca banyak buku. Sepupu saya inilah yang berjasa terhadap awal mula saya menamatkan bacaan pertama saya.

Kala itu, Fai membawa sekarton penuh beragam buku ke kampung saya yang jaraknya semalaman naik bus dari Makassar. Saya bongkar-bongkar karton itu, eh ketemu sama satu buku berjudul Baby Proposal yang belakangan saya tau ditulis oleh Dahlian dan Gielda Latifa. Dulu saya kira, ini buku anak-anak karena ada kata “baby” di judulnya. Selain itu, di sampulnya ada gambar pita merah. Jelas bikin saya penasaran, dong. Saya buka buku tersebut perlahan-lahan.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Saya baca kalimat demi kalimat, wah menarik! Buku itu tentang perempuan bernama Karina dan laki-laki bernama Daniel yang bertemu dalam pesta di atas kapal. Singkat cerita, mereka bertemu dan berproses bikin baby bersama. Ah, sudahlah, detailnya saya lupa. Sungguh!

Saat sampai di bagian bikin baby, saya kaget. Wuih, isinya, kok, begini? Saya takut berdosa karena baca cerita seperti itu. Akan tetapi, saya sebagai remaja tanggung yang rasa ingin tahunya sedang menggebu-gebu, ya, saya lanjutkan.

Memulai bacaan perdana ini sungguh tidak mudah. Saya harus datang ke rumah Fai di siang hari saat seisi rumah sedang tidur siang. Saya khawatir saja kalau ada yang lihat saya baca buku novel 18+ itu.

Sensasi membaca secara sembunyi-bunyi semakin menarik ketika saya sampai pada bagian inti cerita. Tepatnya, ketika si Karina dan Daniel yang awalnya nggak kenal bisa saling suka karena selalu bersama dalam proses merawat jabang bayi di kandungan Karina.

Kurang dari seminggu, novel Baby Proposal saya tuntaskan. Keren rasanya bisa baca novel 331 halaman dalam beberapa hari. Seingat saya kala itu, tidak ada teman sepantaran saya di kampung yang punya aktivitas membaca buku, novel lagi!

Tidak mau berakhir bangga dan girang sendiri, diam-diam saya bawa Baby Proposal alias novel 18+ tersebut ke sekolah dan menceritakan kisah di dalamnya kepada teman-teman perempuan di kelas. Kebanggaan saya bertambah lagi, semua mata mereka berbinar memandangi saya menceritakan isi novel 18+ itu.

Saya sengaja menceritakan kisah romantis Karina dan Daniel di awal. Lalu saat mereka berlomba ingin pinjam novelnya, saya patahkan harapan berlebih mereka dengan bilang bahwa novel ini ada cerita bikin anak bayinya. Ternyata, beberapa di antara mereka justru tidak masalah dengan itu. Jadilah, novel Baby Proposal dibaca oleh angkatan remaja tanggung di kelas saya satu demi satu.

Mereka juga sama dengan saya: baru merasakan aktivitas membaca buku lain selain buku pelajaran.

Dari Baby Proposal, libur semester berikutnya Fai datang lagi dengan sekarton novel Islami, seperti Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-ayat Cinta. Aktivitas membaca saya terus berlanjut ke novel-novel itu, lalu membawanya lagi ke sekolah untuk digilir ke teman-teman. Begitu seterusnya. Apa pun yang Fai bawa dari Makassar, apa pun genrenya, saya dan teman-teman sekolah akan bergantian membacanya.

Sembilan tahun berlalu sejak masa menggebu-gebu remaja tanggung tadi, saya kini sudah tinggal dan kuliah di Makassar juga. Berjumpalah saya dengan angkatan remaja di kota ini yang menghabiskan masa remaja mereka dengan membaca Conan dan Harry Potter. Agak minder juga rasanya tidak bisa bergabung dalam obrolan mereka. Padahal, saya baru akan memamerkan kebiasaan membaca saya yang rupanya nggak ada apa-apanya dibanding mereka: yang akhir pekannya dipakai ke toko buku.

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir beginilah contoh kesenjangan kesempatan terhadap akses bacaan remaja di pelosok nusantara. Seperti saya dengan mereka yang tinggal di wilayah yang ada toko bukunya.

Meskipun begitu, bagaimanapun hal ini perlu disyukuri. Setidaknya saya sudah mulai membaca saat remaja. Jadi, untuk kamu yang juga punya pengalaman menumbuhkan minat baca melalui novel 18+, tenang, kamu nggak sendirian, kok!

BACA JUGA ‘Max Havelaar’, Novel yang Harus Masuk dalam Kurikulum Diklat PNS

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Februari 2021 oleh

Tags: bacaan pertamanovel 18+
Wilda Yanti Salam

Wilda Yanti Salam

Gemar masakan kuah kepala ikan yang dikampungnya disebut bale nasu.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Jogja Langganan Banjir: Saatnya Berhenti Berakting Kaget dan Mulai Benahi Tata Kota yang Serampangan

Jogja Langganan Banjir: Saatnya Berhenti Pura-pura Kaget dan Mulai Benahi Tata Kota yang Serampangan!

11 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.