Sudah banyak konten di berbagai media yang menceritakan suka dan duka di atas rute KRL. Khususnya di Jabodetabek, yang terkenal padat dan penuh drama. Saya sendiri adalah salah satu pengguna KRL sejak 2017.
Flashback ke 9 tahun lalu, itulah pertama kali saya mencoba kereta rel listrik ini. Dulu belum terdengar cerita kalau kita akan jadi “ayam geprek” di atas rute KRL. Jadi ya saya excited saja akan berkereta ke kantor, kayak di luar negeri gitu.
Saat itu saya bekerja di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Jadi, rute KRL adalah Stasiun Tangerang-Stasiun Duri-Stasiun Sudirman. Rute KRL ini berakhir di Bogor, panjang juga trayeknya.
Ketika berangkat dari Stasiun Tangerang, saya merasakan kepadatan yang paripurna. Waktu itu, AC dalam gerbong belum terlalu dingin.
Akan tetapi, jika tidak ingin kena macet ya cuma KRL solusinya. Saya berusaha menikmati momen yang kalau mengingatnya lagi, cukup menyedihkan. Saya akan transit di Stasiun Duri dan nyambung KRL Bogor, lalu turun di Stasiun Sudirman. Sepanjang perjalanan, saya berdiri dan terhimpit penumpang lain. Mantap!
Meskipun naik KRL banyak capeknya, tapi saya merekam berbagai adegan penuh nostalgia yang rasanya nggak ingin saya ulang.
Baca juga Tips Naik KRL supaya Nggak Terlalu Menderita, Orang Luar Jabodetabek Wajib Tahu
Rute KRL Tangerang-Duri, sesak oleh pekerja yang percaya bahwa kerja itu harus di Jakarta
Rute KRL ini menghubungkan Tangerang dengan Jakarta dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Saat berada dalam gerbong, saya bergabung bersama para warga yang yakin bahwa cari cuan itu ya cocoknya di Jakarta.
Berjuanglah di ibukota, begitulah kira-kira yang tersirat di wajah lelah mereka, termasuk saya. Mereka datang dari berbagai wilayah Tangerang dan pinggir Jakarta, seperti Poris Plawad, Kalideres, Rawa Buaya, dan Grogol.
Saya pun berpikir bahwa kerja di kota metropolitan lebih menjanjikan daripada di daerah sendiri. Keputusan ini membuat saya belajar apa itu berjuang dan berkorban. Ya salah satunya menjadi anker (anak kereta).
Saya dulu berangkat pukul 5 subuh demi dapat duduk, capek juga berdiri dan berdesakkan selama setengah jam di atas rute KRL. Setiap hari saya menjalaninya dengan tabah karena di mana lagi dapat tarif Rp3.000 sudah bisa sampai di Jaksel.
Saat ini, ketika jarang menggunakan KRL, saya jadi rindu dengan aktivitas yang menguras tenaga tersebut. Kalau sedang mood, saya naik KRL dengan rute yang dulu saya lalui. Seketika kenangan itu melintas lagi di kepala saya, rute KRL Tangerang-Duri yang penuh perjuangan.
Cerita lelah di Stasiun Duri, semua berlarian demi sebuah ambisi
Selepas dari Stasiun Tangerang, saya transit di Stasiun Duri yang terletak di Jakarta Barat. Setiap menginjakkan kaki di sini, saya langsung terbang ke ingatan tahun 2017 itu.
Saat itu, saya rasa, pemberhentian ini paling lelah dari semua rute KRL yang saya lalui kalau mau ke kantor di Kuningan, Jaksel. Ya, meskipun sampai sekarang juga tetap bikin capek, tapi kayaknya saya sudah biasa.
Ketika petugas KRL mengumumkan “Stasiun berikutnya, Duri!”, sontak semua penumpang langsung pasang kuda-kuda. Mereka siap berlari demi mengejar ambisi.
Saya pun langsung kaget waktu pintu terbuka, mereka berhamburan keluar dan menyusuri tangga untuk pindah peron. Mau nggak mau saya ikut arus. Tidak ada waktu untuk berjalan santai, semuanya terburu-buru.
Terlepas kondisi chaos itu, saya salut dengan semangat mereka. Setiap hari kayak lomba maraton tapi nggak kapok. Tetap diulangi esoknya.
Ada rindu yang membekas ketika sekarang saya ke Stasiun Duri. Pengalaman pertama jadi anker tahun 2017 lalu, bikin saya merinding karena ternyata dulu saya sekuat itu. Berbulan-bulan menjalani kehidupan kayak robot dan seru juga, tapi kalau disuruh ulang, maaf nggak dulu deh. Hehehe.
Baca juga Jadi “Ikan Pepes” di KRL Jabodetabek Jauh Lebih Baik daripada di Transjakarta
Menunggu sampai malam di Stasiun Sudirman demi gerbong kosong
Sewaktu main ke daerah Blok M naik KRL, saya turun di Stasiun Sudirman. Lalu saya nyambung lagi naik MRT yang terintegrasi dengan stasiun yang dekat dengan Bundaran HI ini.
Waktu turun dari kereta, saya tiba-tiba nostalgia dengan diri saya sendiri. Balik lagi ke era 2017-an, di mana saat itu saya selesai kerja jam 6 sore dan KRL sedang sesak-sesaknya. Wajar ya, rush hour, semua rute KRL pasti sesak. Saya trauma karena pernah hampir pingsan di dalam gerbong.
Demi kewarasan dan kesehatan, saya selalu menunggu sampai pukul 8 malam. Ya meskipun nggak duduk, setidaknya kereta sudah agak lowong. Saya nggak perlu jadi ikan pepes dengan oksigen yang minim (ini agak berlebihan, hehehe). Jujur saya lelah banget harus nunggu 2 jam dan sampai rumah bisa pukul 10 malam.
Tapi mau gimana lagi, demi gerbong kosong. Untungnya, banyak jajanan, saya bisa ngemil dulu sampai kenyang. Tak masalah lesehan di sekitar peron, yang penting badan saya nggak remuk-remuk amat.
Ini pengalaman paling membekas di ingatan saya setiap berhenti atau lewat Stasiun Sudirman. Mau dibilang pahit ya nggak juga karena momen ini bagian dari saya mencari segenggam berlian dulu. Sekali lagi, saya nggak menyangka bahwa tubuh ini bisa tahan banting seperti itu. Salut.
Rute KRL Jabodetabek bukan hanya tentang cerita yang mengandung derita, seperti yang kalian lihat di medsos. Atau mungkin, mengalaminya sendiri. Nyatanya, rute KRL pun bisa membangkitkan nostalgia tentang perjuangan dan harapan.
Penulis: Rachelia Methasary
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA KRL Jabodetabek Bikin Iri Pekerja yang PP Jombang-Surabaya Naik Commuter Line Dhoho Setiap Hari
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















