Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nonton Drama Korea tidak Termasuk Bagian dari Kafir

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
10 September 2019
A A
kafir

kafir

Share on FacebookShare on Twitter

Belum selesai hiruk-pikuk soal kontroversi isi ceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) yang diduga menghina ajaran umat Kristiani, publik lagi-lagi dikejutkan dengan materi ceramah UAS yang menyatakan bahwa para penonton drama Korea merupakan bagian dari orang-orang kafir.

Penceramah yang terkenal ceplas-ceplos dan humoris itu beranggapan bahwa seorang muslim yang suka dengan orang kafir, maka dia bagian dari kafir. Ungkapan ini muncul lantaran UAS mendapatkan pertanyaan dari salah seorang jamaah, yang videonya bisa dilihat langsung melalui platform media sosial YouTube.

ADVERTISEMENT

Bunyi pertanyaannya kira-kira begini, “Apa hukumnya menggemari, menyukai film Korea? UAS menjawab, “jangan suka kepada orang kafir, siapa yang suka kepada orang kafir, maka dia bagian dari kafir itu. Condong hatinya pada orang kafir.”

Lebih lanjut, UAS berkata, “Jangan ditonton lagi itu sinetron-sinetron Korea, rusak. Nanti pas sakaratul maut, datang dia ramai-ramai. Apa yang sering kita dengar, apa yang sering kita tengok, akan datang saat sakaratul maut.”

Selain itu, UAS juga menyarankan kepada para hadirin untuk menonton qori untuk laki-laki serta qoriah untuk perempuan, yang dengan mudah videonya bisa ditemukan di YouTube. UAS pun mengajak kepada umat Islam, untuk tidak lagi kecanduan dengan film-film ataupun sinetron Korea Selatan.

Terlepas Anda setuju atau tidak, pernyataan UAS ini lagi-lagi menjadi polemik dan perdebatan di banyak kalangan umat Islam. Saya sendiri tidak heran, karena memang begitulah UAS, sangat suka menjawab secara ceplas-ceplos berbagai problematika umat yang ditanyakan kepadanya. Dan, seringkali jawaban yang ia utarakan tidak melalui proses pemikiran yang jernih dan logis, sehingga banyak pernyataan beliau yang mengundang kegaduhan.

Memang, bila kita melihat sumber-sumber literatur muslim, ada hadits yang mengatakan bahwa barangsiapa mengikuti kebiasaan orang-orang di luar Islam, maka secara otomatis dia menjadi bagian dari orang itu. Bila konteksnya adalah mengikuti budaya non-muslim, apapun bentuknya, maka menjadi non-muslimlah dia.

Hadist itu, menurut saya, tidak bisa dipahami dalam konteks dahulu, khususnya pada masa Nabi. Karena kondisi sosial-kulural antara zaman dulu dan sekarang sudah sedemikian berubah dan berbeda. Jadi hampir tidak mungkin redaksi hadits-hadist yang seperti itu dipahami secara tekstual dan apa adanya.

Baca Juga:

Nggak Usah Ngadi-ngadi. Lembaga Pengawas di Drakor Teach You a Lesson Tidak Mungkin Bisa Ada di Indonesia

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

Kita butuh memahaminya secara kontekstual dan sesuai dengan semangat zamannya. Misalnya begini, dulu, Nabi memang sangat mewanti-wanti agar umat Islam tidak tergoda untuk mengikuti budaya orang-orang di luar Islam, karena khawatir orang itu akan terpengaruh secara akidah dan pada akhirnya ia bisa keluar dari Islam. Tapi cara berpikir seperti ini tidak bisa dipahami dalam konteks sekarang.

Sebab, hidup kita di zaman ini sudah sedemikian berbeda dengan orang-orang dulu. Sekarang, seseorang hampir tidak bisa hidup tanpa bersentuhan dengan berbagai budaya luar dan segala produk-produk yang dihasilkannya. Seperti budaya berpakaian, teknologi, budaya populer, dan ilmu pengetahuan, semuanya nyaris dihasilkan oleh orang-orang non muslim, baik dari dunia Barat maupun Timur.

Jadi tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak bersentuhan langsung dengan budaya non muslim. Selama budaya dan kebiasaan itu tidak bersentuhan atau bertentangan dengan keyakinan seseorang, maka sah-sah saja bila seseorang ingin mengikuti, memanfaatkan, atau sekedar melihat budaya di luar Islam.

Soal demam film Korea ini, memang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat generasi milenial Indonesia sangat suka menontonnya. Lebih dari itu, apapun yang berhubungan dengan K-Pop, mulai dari drama Korea, film Korea hingga artis-artis Korea tengah menjadi idola kawula muda.

Tapi apakah dengan sekedar mengidolakan saja, seseorang langsung bisa dijustifikasi sebagai kafir? Tunggu dulu, kita perlu memahami fenomana ini secara jernih dan masuk akal bila ingin menghubungkannya dengan syariat agama.

Logika beragama itu sederhana, bila berkaitan dengan hukum-dosa, maka wilayahnya adalah syariat, sementara bila berhubungan dengan masalah iman-sesat maka jluntrungnya ke akidah. Lalu bila ada pertanyaan, apakah nonton drama Korea ada kaitannya dengan iman? Tanpa berpikir panjang, seseorang akan dengan mudah menjawab, “Tidak”.

Alasannya jelas, produk budaya hanyalah soal kebiasaan yang ada di suatu masyarakat tertentu yang tidak selalu identik dengan keyakinan atau keimanan seseorang. Jadi tidak logis bila mengatakan bahwa para penonton drama Korea ini merupakan orang-orang yang condong kepada kekafiran dan dalam bentuknya yang paling akhir ia benar-benar akan menjadi kafir.

Hemat saya, kita hendaknya perlu hati-hati dalam menilai sesuatu. Jangan sampai mudah mengungkapkan argumen yang justru akan menjadi bomerang bagi diri sendiri.

Apalagi, redaksi kata “kafir-sesat” sangatlah sensitif bagi sebagian besar umat Islam dan barangkali bagi umat-umat yang lain. Bila seorang da’i begitu mudahnya memutuskan perkara yang menjadi problem umat, sementara putusan itu tidak selalu benar dan malah menjadi kontroversi, maka seterusnya da’i-da’i ini akan menjadi kontra-produktif bagi keberlangsungan hidup umat Islam. (*)

BACA JUGA Pelaku Rasisme Telah Diproses Hukum, Papua Aman dan Kondusif atau tulisan Rohmatul Izad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

—

Terakhir diperbarui pada 10 September 2019 oleh

Tags: Budayadrama koreahadistkafirUstaz Abdul Somad
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

5 Drama Korea yang Cocok Ditonton Orang dengan Kepribadian INFJ

5 Drama Korea yang Cocok Ditonton Orang dengan Kepribadian INFJ

26 September 2023
7 Rekomendasi Drama Korea yang Aman Ditonton Selama Bulan Puasa, Bebas Adegan Ciuman dan Seks!

7 Rekomendasi Drama Korea yang Aman Ditonton Selama Bulan Puasa, Bebas Adegan Ciuman dan Seks!

11 Maret 2024
Rekomendasi 8 Drama Korea Original Netflix yang Bikin Tegang Terminal Mojok

Rekomendasi 8 Drama Korea Netflix Original yang Bikin Tegang

5 April 2022
7 Drakor tentang Keluarga yang Cocok Ditonton Saat Lebaran Terminal Mojok.co

7 Drakor tentang Keluarga yang Cocok Ditonton Saat Lebaran

30 April 2022
5 Drama Korea Terburuk Sepanjang Tahun 2023

5 Drama Korea Terburuk Sepanjang Tahun 2023

23 Desember 2023
10 Kutipan Paling Relatable dari My Liberation Notes Terminal Mojok.co

10 Kutipan Paling Relatable dari My Liberation Notes

10 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026
Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.