Nggak Perlu Maksa Pakai British Accent, Asal Vocabulary dan Pronunciation Bener Aja Cukup Kok

Artikel

Avatar

 

“Kalau disuruh pilih British apa American Accent yang lebih keren, ya jelas keduanya keren wong bahasa londo. Tapi eh tapi Indonesian Accent juga nggak kalah keren”

Kalimat di atas adalah kalimat dosen speaking saya waktu ngajar di semester dua tahun lalu. Bukan tanpa alasan beliau mengatakan hal demikian. Menurutnya, mahasiswa sekarang ini terlalu banyak dijejali dengan stereotip bahwa menggunakan British accent itu akan terlihat lebih keren dan kekinian. Mereka sibuk membandingkan mana yang lebih baik antara aksen American atau British. Udah kaya ibu-ibu komplek ngebandingin mana yang lebih  idaman antara mantu anak sasing dengan mantu anak kedokteran, ya udah jelas mantu idaman jatuh kepada anak sasing karena bisa ngajarin cucunya ngomong inggris sejak dari orok eheh.

Sebagai seorang mahasiswa Sastra Inggris, kami pastinya memang dituntut untuk bisa fasih dalam berbahasa Inggris. Ingat ya, cuma ‘fasih’ tanpa embel-embel harus pake aksen tertentu seperti British accent atau American accent. Ya walau dalam realitanya saya juga kadang termasuk orang yang menganggap bahwa aksen British accent itu keren wkwk. Mungkin karena saya terlalu banyak nonton Harry Potter dan jadi sering niruin logat Hermione yang super British ala-ala.

Namun pada akhirnya saya sepakat dengan pernyataan dosen saya tadi. Bahwa tidak perlu muluk-muluk pake aksen luar, as long as you can deliver what you want to say, any accent is okay.

Speaking nggak melulu soal siapa yang terdengar lebih keinggris-inggrisan dalam aksennya. Selagi kamu bisa menguasai pronounciation-nya itu sudah lebih dari cukup. Dan yang nggak kalah penting adalah penguasaan vocabulary. Makin banyak vocab otomatis perbendaharaan kata kita makin kaya dan speaking kita akan lebih variatif karena nggak melulu pake kata-kata itu saja.

Baca Juga:  Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married

Lalu, Indonesian Accent seperti apa yang dimaksud dalam pernyataan tersebut di atas? Emang iya ada yang namanya aksen Indonesia?

Aksen Indonesia di sini maksudnya adalah ketika kita orang Indonesia melafalkan bahasa Inggris menggunakan nada-nada atau aksen khas keseharian yang biasa kita gunakan. Misalnya nih saya sebagai orang Jawa karena bahasa sehari-hari biasa pake Jawa jadi kalo pas speaking ya kadang dibilang medhok sama dosen.

Hal tersebut juga berlaku buat orang-orang yang bahasa kesehariannya bukan bahasa Indonesia. Karena aksen akan selalu melekat dalam kebiasaan kita berbicara sehari-hari. Beda lagi kalo sama orang yang bahasa kesehariannya pake bahasa Indonesia, mungkin aksen mereka akan oke-oke aja karena tidak ada dialek khas.

Ada suatu waktu di mana salah seorang teman saya yang berasal dari Bandung dapat giliran speaking di depan kelas. Nah karena kebiasaan pake bahasa sunda jadi dia sedikit kaku kalo ngucapin kata yang ada huruf F-nya, dalam beberapa kasus malah berubah jadi huruf P. Contohnya waktu ngucapin kalimat “It won’t last forever”, huruf F dalam kalimat tersebut berubah jadi P “It won’t last poreper”. Aksennya jadi kayak aa’ burjo depan kampus.

Lain lagi dengan teman saya yang berasal dari Pekalongan. Dia dapet feedback dibilang medhok ketika disuruh speech tentang suatu topik. Kalimatnya kurang lebih begini, “That is why we need to concern about a healthy lifestyle”.  Penekanan terjadi dalam kata that sehingga lafal huruf D-nya terdengar jelas. Bisa dibayangkan guys? Ya pokoknya khas medhok­-nya orang Jawa lah, wabil khusus orang Pantura. Sontak dosen saya langsung menebak bahwa “Mbak, kamu orang Jawa ya? Medhoke ora ketulungan”. Teman saya hanya bisa cengar-cengir saja dibilang begitu wkwk.

Baca Juga:  Do's and Don'ts Ketika Belajar Bahasa Inggris

But it’s not bad at all anyway. Balik lagi ke statement awal bahwa aksen terbawa karena kebiasaan berbicara kita sehari-hari. Biasa pake bahasa Sunda ya pasti ada iyeu-iyeunya, biasa pake Jawa ya pasti medhok di huruf B dan D. Good point juga kan jadinya makin beragam tuh aksen Indonesia. Jawa dan Sunda adalah contoh salah duanya, pastinya masih banyak aksen-aksen khas Indonesia yang lain.

Poin utamanya di sini adalah udah deh nggak usah terlalu muluk-muluk maksa pake British accent lah atau American Accent cuma buat keliatan keren dan dianggap pinter inggris. Selagi kamu bisa ngomong panjang lebar dan berbobot (dalam bahasa inggris ya) itu udah keren banget aseli, nggak peduli pake aksen apapun. Ya kalo bisa pake British atau American mungkin itu jadi nilai plus tapi tetep kok yang penting kamu enjoy aja pas speaking-nya.

Soalnya kadang ada orang yang mati-matian belajar aksen dan akhirnya jadi ambyar pas speech di depan orang karena mereka terlalu fokus agar terdengar seperti native speakers. Sekali lagi guys, accent cuma nilai plus. So, don’t push yourself too hard! Just be yourself, okay?

BACA JUGA Mind Your Language: Belajar Bahasa Inggris yang Menyenangkan ala Mr Brown.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.