Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Ngerasani Netizen, Ngerasani Diri Sendiri

Abdulloh Suyuti oleh Abdulloh Suyuti
12 Juni 2019
A A
netizen

netizen

Share on FacebookShare on Twitter

Bicara tentang netizen itu seolah tiada habisnya. Di mana ada internet, di situ ada warganet. Kapan ada postingan, di situ ada komentar. Namanya komentar ya macam-macam, tergantung sudut pandang pribadi dan suasana hati. Ada yang pro, ada yang kontra. Ada yang mendukung, ada yang mencela. Ada yang memuji, ada yang menghujat. Ada yang kagum, ada yang nyinyir. Seolah kutub positif dan negatif memang diciptakan berpasangan dan selalu ada.

Apalagi jika ada suatu bahasan yang debat-able, yang ujung-ujungnya jadi ribut. Sebut saja contohnya masalah capres, ribut-ribut antara kubu pendukung 01 dan 02 yang tak kunjung usai. Belum lagi ribut-ribut antara YouTuber, yang sepertinya akan jadi tren baru untuk bikin konten saling sindir selain konten prank-prank yang sudah mulai membosankan.

Lebaran baru beberapa hari sudah mulai ribut lagi. Apakah ini karena kita salah mengartikan ucapan minal aidin—semoga menjadi orang yang kembali— yaitu kembali pada fitrah kita yang suka ribut. Lalu wal faizin—dan orang yang menang—maunya menang sendiri dengan mengalahkan yang lain. Modyaarr~

Membicarakan netizen juga berarti membicarakan diri sendiri. Sebab kita pun pengguna internet dan media sosial—yang otomatis terdaftar sebagai warga net meski status itu tak tercantum di KTP.

Dunia internet itu kompleks—lengkap dengan segala sisi terang dan gelapnya. Sisi positif dan manfaatnya banyak, sisi negatifnya pun tak kalah banyak. Dan sampailah kita pada zaman dimana ketikan jari netizen ini lebih tajam dari lidah yang tak bertulang—bahayanya mereka bisa menggiring opini publik ke hal yang tidak semestinya. Terkadang komentar netizen lebih kejam dari fitnah—padahal fitnah saja sudah lebih kejam dari pembunuhan loh.

Dalam mahfudzat—kata mutiara—sering kita dengar salamatul insan fi hifdzil lisan yang berarti keselamatan manusia terletak pada lisan dan ucapannya. Mungkin pada era kekinian mahfudzat tersebut bisa beralih kalimat menjadi salamatul insan fi hifdzil ‘postingan’—Ya, keselamatan manusia zaman now terletak pada postingannya, tergantung dari apa yang diketiknya di sosial media, tergantung apa yang dishare ke banyak grup, tergantung gambar dan video yang di-upload, dan sebagainya.

Sebatas pengetahuan saya, seseorang di dunia nyata punya kecenderungan menjadi pribadi yang berbeda di dunia maya—tentu tidak semuanya. Atau jangan-jangan, di dunia maya itulah sifat aslinya, sebab kalau di dunia nyata masih ada rasa sungkan berekspresi.

Misalnya saja terhadap suatu isu yang sedang hangat—di dunia maya kita berani berkomentar, mengkritik, bahkan sampai menggoblok-goblokkan. Tapi beda ceritanya kalau kita berhadapan langsung dengan orangnya—jangankan kritik, mau nyapa saja kelihatannya masih mikir-mikir. Cupu memang—lempar batu sembunyi tangan!

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Netizen Indonesia Memang Paling Nggak Sopan, di Tengah Kabar Duka Masih Ada yang Bacot Ngeributin Agama Kiki Fatmala

Di dunia online orang-orang cenderung lebih berani melakukan suatu hal daripada di kehidupan nyata. Sepertinya ada ilusi kebebasan di dunia maya. Seseorang merasa bebas berbuat apa saja dan tidak punya tanggung jawab atas apa yang ia lakukan karena menganggap perilakunya tidak nyata. Selain itu, adanya peluang untuk menyembunyikan identitas asli (anonymous) semakin menambah alasan seseorang merasa tidak bersalah ketika mencemooh, mem-bully, menghujat, misuh-misuh nggak jelas, share kabar hoax, rasisme, dan lain-lain.

Bisa saya katakan ada kesantunan sosial yang sangat tinggi dalam komunikasi tatap muka. Dalam bersosialisasi di tengah masyarakat, kita banyak dibatasi oleh norma-norma sosial. Sedangkan di dunia maya semuanya ceplas-ceplos dan tak kenal sungkan. Bicara apa adanya sih baik—tapi mbok ya lihat situasi dan kondisi. Alangkah baiknya tabayyun dulu sebelum berkata dan mengomentari sesuatu. Ada orang lagi kena bencana—eh ada yang langsung menghakimi itu azab untuk mereka. Ada orang turun membantu dibilang pencitraan, tak membantu dibilang tak punya perasaan. Hadeeeh~

Internet seperti membebaskan orang-orang untuk mengatakan sesuatu kepada orang asing yang tidak akan pernah kita katakan jika kita bertemu dengan mereka. Lebih parah lagi kalau ada kelompok-kelompok yang beternak akun untuk tujuan tertentu—membuat ratusan akun untuk menyerang kelompok lain. Satu orang tidak puas terlihat menjadi ribuan orang tidak puas. Satu orang memaki, seolah-olah makian dari ribuan orang. Apalagi sasaran ini mengenai mereka para pecandu—pecandu komen dan pecandu share tanpa mau ber-tabayyun. Sudah pasti menggiring opini publik ke hal yang tidak semestinya.

Dari sekian banyak kearifan lokal yang kini semakin dilupakan, salah satunya adalah budaya tepa selira—di dunia maya tidak ada tepa selira. Dalam Bahasa Indonesia, itu antara sifat empati dan tenggang rasa. Sederhananya, kemampuan memperkirakan apa yang kira-kira orang lain pikir dan rasakan. Seseorang harus memandang lawan bicaranya sebagai orang yang pantas untuk dihormati.

Contohnya begini, kalau di dunia nyata kita bisa melihat ekspresi lawan bicara. Jika dia kelihatan sedih, kita bisa pilih bahasa yang lembut dan intonasi yang pelan waktu bicara padanya. Di dunia maya nggak bisa gitu. Kalau di dunia nyata kita terbiasa sopan santun pada orang yang lebih tua meskipun itu orang asing. Di dunia maya juga nggak bisa gitu.

Pemilik akun ataupun media juga harus ber-tepa selira pada pembacanya—paham bahwa nggak semua pembaca itu bijak menyikapi masalah. Bahkan pemilik media abal-abal juga harus paham tentang efek berita yang mereka tulis bisa mengakibatkan perpecahan di masyarakat. Netizen juga begitu—harus saring dulu sebelum sharing, ucapkanlah yang terbaik atau diamlah.

Itu semua baru netizen di dunia internet permukaan (surface). Lain lagi ceritanya jika masuk ke dunia internet yang lebih dalam yang tidak bisa dijangkau mesin pencari biasa—karena butuh akses khusus untuk dapat masuk ke dalamnya. Dunia internet yang dimaksud biasa dikenal dengan sebutan deep net atau dark net—atau ada juga yang menyebut dengan istilah lainnya.

Bisa dibayangkan, di permukaan saja segitu riuhnya, apalagi yang ada jauh di dalam sana. Tapi saya sarankan, jika anda baru bisa berenang di permukaan jangan mencoba menyelami dunia deep net, atau anda akan terdampar di Bikini Bottom.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Kritik SosialNetizenWarga Net
Abdulloh Suyuti

Abdulloh Suyuti

ArtikelTerkait

sinopsis preman pensiun episode 1 musim 1 mojok.co preman pensiun episode 2 preman pensiun episode 3 episode 4 episode 5 episode 8 episode 10 episode 19 kang bahar

Kritik Sosial dalam Serial ‘Preman Pensiun’ 5

10 Mei 2021
Tipe-tipe Netizen di Info Cegatan Jogja Saat Menanggapi Postingan terminal mojok.co

Tipe-tipe Netizen di Info Cegatan Jogja Saat Menanggapi Postingan

21 November 2020
kebebasan berpendapat

Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Bagian 2: Bodo Amat adalah Cara Bermedia Sosial Paling Benar

22 Oktober 2019
menghakimi secara sosial

Menghakimi Secara Sosial Adalah Budaya Kita

11 Juli 2019
rasis

Rasis: Akibat dari Sekolah yang Belum Tuntas

20 Agustus 2019
catcalling

Sudahi Catcalling Berdalih Salam

2 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan

Gudeg Jogja Pelan-Pelan Digeser oleh Warung Nasi Padang di Tanahnya Sendiri, Sebuah Kekalahan yang Menyedihkan

18 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu Mojok.co

5 Masjid Unik Jogja yang Patut Dikunjungi biar Nggak ke Masjid Jogokariyan Melulu

15 Februari 2026
Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.