Tipe-tipe Netizen di Info Cegatan Jogja Saat Menanggapi Postingan – Terminal Mojok

Tipe-tipe Netizen di Info Cegatan Jogja Saat Menanggapi Postingan

Artikel

Fatony Royhan Darmawan

Siapa yang nggak tahu grup Info Cegatan Jogja? Grup dengan lebih dari 1 juta anggota itu menjadi salah satu grup Facebook terbesar di Indonesia. Grup yang menjadi tempat berkeluh kesah, mengeluarkan unek-unek, mencari orang hilang, barang hilang, hingga kisah inspiratif anggota-anggotanya. Dulu saya bergabung ke grup Info Cegatan Jogja ketika saya masih duduk di bangku SD. Sungguh sudah lama sekali, mungkin sekitar 7 tahun berlalu hingga kini saya sudah duduk di bangku perkuliahan.

Dulu grup Info Cegatan Jogja masih relatif sepi. Interaksinya nggak seintensif sekarang. Kebanyakan diisi postingan kecelakaan selain itu, ya sesuai namanya: info cegatan. Saat itu justru informasi kecelakaan amat sangat dicari. Kolom komentar hampir nggak bisa, nggak sepi. Pasti ramai. Namun, cara orang berkomentar nggak sebar-bar sekarang.

Zaman berkembang begitu pesat. Saya sangat menyimak dan menikmati dinamika pernetizenan yang ada di dalam grup dari tahun ke tahun. Utamanya cara orang menanggapi postingan. Bagaimana orang berdebat hingga perkelahian di kolom komentar menjadi hiburan tersendiri. Saat ini hampir seluruh kasta, kalangan, dan profesi ada di Info Cegatan Jogja. Tak heran bila cara menanggapi postingan pun berbeda-beda. Ada yang ngawur hingga teramat kurang ajar. Berikut tipe-tipe netizen yang ada di Info Cegatan Jogja.

#1 Tukang Maido

Tukang maido ini adalah tipe netizen yang penuh keragu-raguan atau ketidakpercayaan apa pun postingannya. Pokoknya mereka mudah mencela orang lain, tanpa dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya spesies tukang maido ini banyak dijumpai di postingan yang penuh kegentingan dan kegawatdaruratan.

Saya pernah menjumpai dalam sebuah postingan pengawalan ambulance. Jadi ada pengendara motor yang membuka jalan untuk ambulance yang tengah merujuk pasien dari satu RS ke RS lain di Jogja. Dan dengan entengnya si tukang maido tadi berkomentar.

“Rasah sok-sok an dadi pahlawan kesiangan, lha wong ambulance ki duwe hak sepenuhnya atas jalan raya apabila kondisi darurat dengan kode lampu dan bunyi… lha kok ndadak ngawal barang… itu artinya nguyahi segoro, Bro.…”

Sontak saja saya ingin tertawa sekaligus bercampur kesal. Bagaimana nggak, lha wong orang yang melakukan hal baik kok ya masih saja dicela. Lagian netizen spesies ini nggak pernah ngaca seberguna apa dirinya itu. Seenggaknya si pengawal ambulance tadi hidupnya lebih berfaedah daripada si tukang maido ini, bukan?

#2 Suka suuzan

Nah untuk tipe netizen yang ini nggak kalah jancok sama si tukang maido tadi. Apa pun postingan baik itu berguna, penting, genting, atau yang nggak penting sekalipun selalu dianggap salah olehnya. Ini membuat saya bertanya-tanya sebenarnya dia ini di dunia nyata punya masalah apa, to?!

Saya pernah mendapati postingan seseorang menolong pengendara motor yang sedang kebanan (bocor ban). Orang itu sengaja membawa si pengendara yang ban motornya bocor tadi ke bengkel miliknya. Kebetulan ia juga menjajakan es buah di samping bengkelnya. Dan dengan mudahnya ada seseorang menanggapi dengan berkomentar.

“Nek kui mung tambal ban thok ngono aku lagi salut.. Lha kui karo bakul es. Paleng yo ben karo nuku es e… he… he… he… Cuma berpendapat….”

Komentar itu mendapat 502 balasan. Dilihat-lihat brengsek sekali, bukan? Siapa yang nggak muntab? Bayangkan saja ada orang yang berbuat baik alih-alih mendapat apresiasi justru masih ada saja prasangka liar semacam ini.

#3 Tukang klarifikasi

Mengontrol jari-jemari di media sosial amatlah penting. Kalau ngawur, asal njeplak, dan sampai menyinggung perasaan orang lain dan ia nggak terima, Anda bisa masuk dalam kelompok tukang klarifikasi. Biasanya diawali kalimat “Mohon itikad baiknya”. Sering kali saya menjumpai postingan klarifikasi, meminta maaf bahkan nggak jarang berakhir ada hitam di atas putih lengkap dengan materai 6000-nya.

Eh, tapi nggak selamanya tukang klarifikasi ini negatif. Ada kalanya malah diperlukan dan ditunggu-tunggu. Seperti saya bilang di awal tadi bahwa Info Cegatan Jogja ini penghuninya dari berbagai kasta, kalangan, dan profesi.

Yang saya tahu di Info Cegatan Jogja ada Pak Kabid Humas Polda DIY, Yuli Yanto, yang aktif. Terkadang kita sangat kita tunggu klarifikasi dari blio kalau ada masalah. Toh, biasanya permasalahan di grup Info Cegatan Jogja nggak jauh-jauh dari dunia perlalulintasan. Jadi ya rasa-rasanya memang pas banget dengan bidangya blio, Kabid Humas Polda DIY.

Di salah satu postingan misalnya ada yang memosting.

“Semoga bermanfaat, untuk pengendara motor yang melintasi pertigaan Colombo-Gejayan, hati-hati nggih, petugas lagi butuh asupan gizi. Alasan dari pihak berwenang karena menerobos lampu. Lha wong, kuning pas garis kok isih wae muni abang, salam aspal gronjal, Lur.”

Nah, ini adalah contoh postingan yang mengandung bensin karena terdapat diksi “asupan gizi”. Benar saja nggak lama Pak Yuli Yanto menulis klarifikasi, “Menilang karena lampu bangjo itu bukan urusan ASUPAN GIZI, tapi menjaga pelanggar dan orang lain untuk tidak kecelakaan.”

Jadi, kira-kira di grup Info Cegatan Jogja kalian termasuk yang mana, Slurrr? Atau malah belum gabung sama sekali? Saran saya gabung, deh, buat hiburan. Ini seriusan. Orang-orang semacam ini hanya ada di Info Cegatan Jogja. Sebagai netizen saya sih milih netral sambil ikut keplok-keplok kalau ada keributan di kolom komentar. Salam aspal gronjal, Lur.

BACA JUGA Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja dan tulisan Fatony Royhan Darmawan lainnya.

Baca Juga:  Alasan Orang Suka Langsung Komen Artikel Padahal Baru Baca Judul doang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.