Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Nestapa Tinggal di Kendal: Saat Kemarau Kepanasan, Saat Hujan Kebanjiran

Andre Rizal Hanafi oleh Andre Rizal Hanafi
22 Desember 2025
A A
Nestapa Tinggal di Kendal: Saat Kemarau Kepanasan, Saat Hujan Kebanjiran

Nestapa Tinggal di Kendal: Saat Kemarau Kepanasan, Saat Hujan Kebanjiran (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di Kendal, musim panas dan musim hujan sama-sama tidak pernah benar-benar ramah. Ketika kemarau datang, panasnya terasa menyengat sampai ke tulang. Tetapi ketika hujan turun, air datang dari segala arah. Dari langit, dari sungai, dan yang paling setia datang dari laut. Sebagai kabupaten yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, Kendal punya hubungan yang cukup rumit dengan air.

Laut memberi penghidupan, tapi juga perlahan mengambil kembali ruang hidup warga. Rob bukan cerita baru. Ia sudah jadi bagian dari rutinitas, seperti alarm pagi yang berbunyi tanpa diminta. Dari Kecamatan Kaliwungu sampai Rowosari, warga pesisir hidup berdampingan dengan genangan. Khusus di Kendal kota Kelurahan Balok, Kalibuntu, Bandengan, dan Karangsari, air laut bisa datang hampir setiap hari. Pagi dan sore. Datang menggenang, lalu pergi sebentar, sebelum kembali lagi keesokan harinya.

Rob di Kendal memang belum separah Sayung Demak. Tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Bagi warga yang mengalaminya, rob tetaplah air asin yang masuk rumah, merusak lantai, menggenangi jalan, dan perlahan menggerus harapan.

Rob yang tidak pernah benar-benar pergi di Kendal

Bagi orang luar, rob mungkin cuma dianggap genangan air setinggi mata kaki. Tapi bagi warga pesisir Kendal, itu berarti banyak hal. Ada tambak yang gagal panen, perabotan rusak, jalan berlumpur, hingga aktivitas harian yang selalu terganggu.

Mayoritas warga di wilayah pesisir Kendal menggantungkan hidup dari laut dan tambak. Nelayan kecil dan petambak ikan menjadi kelompok yang paling dulu merasakan dampaknya. Air rob yang datang tanpa kompromi sering menyapu ikan di tambak. Sekali kena, bisa langsung gagal panen.

Kalau panen gagal, bukan cuma rugi uang. Itu berarti tidak ada pemasukan. Mau alih usaha juga tidak mudah. Mau tetap melaut? Ikan sekarang susah. Bisa pulang membawa ikan buat makan hari itu saja sudah termasuk rezeki bagus.

Tambak yang terus-menerus kemasukan air asin juga makin sulit dirawat. Mau dijual? Tidak laku. Siapa juga yang mau beli tambak yang tiap bulan kena rob. Harga tanah turun pelan-pelan, seiring naiknya air laut. Di titik ini, rob bukan lagi soal bencana alam. Ia berubah menjadi soal kelas sosial.

Rumah bebas banjir di Kendal adalah privilege

Di Kendal, rumah bebas banjir kini menjadi semacam kemewahan. Mereka yang punya uang akan memilih pindah. Cari rumah di wilayah yang lebih tinggi, jadi tidak perlu mengepel lantai rumah tiap hari yang basah karena banjir.

Baca Juga:

Makanan Kendal Nggak Cocok di Lidah Semua Orang

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

Sementara yang uangnya pas-pasan biasanya mengambil opsi rumah subsidi. Syaratnya cuma satu: yang penting bebas banjir. Mau jauh dari tempat kerja, mau jauh dari laut yang dulu jadi sumber hidup, tidak masalah. Yang penting tidak bangun pagi dengan kaki terendam air.

Bahkan ada juga warga yang nekat beli tanah dekat hutan. Alasannya sederhana, harganya murah dan relatif aman dari rob. Soal akses dan fasilitas, itu urusan nomor sekian.

Lalu bagaimana dengan yang tidak punya pilihan sama sekali? Mereka tetap tinggal. Bertahan hidup di antara genangan air. Mencoba menyusun ulang rutinitas hidup agar cocok dengan jadwal rob. Mengangkat barang setiap sore, menurunkannya lagi setiap pagi. Begitu terus bertahun-tahun.

Bencana ternyata tidak pernah adil. Ia selalu lebih kejam pada mereka yang tidak punya cukup uang untuk menghindar.

Menanam bakau, menunggu harapan

Pemerintah daerah, mahasiswa, dan komunitas aktivis lingkungan sebenarnya tidak tinggal diam. Beberapa kali kegiatan penanaman mangrove atau bakau dilakukan di bibir pantai Kendal. Spanduk dipasang, dokumentasi diambil, berita dipublikasikan.

Masalahnya, bakau butuh waktu. Tidak bisa langsung hari ini ditanam, besok rob berhenti. Warga yang tiap hari berhadapan dengan air tentu tidak bisa sepenuhnya menggantungkan harapan pada sesuatu yang hasilnya baru terasa entah berapa tahun lagi.

Sementara itu, kawasan industri di kawasan pesisir utara pulau Jawa terus berkembang. Gudang, pabrik, dan kawasan industri baru berdiri di area yang dulunya mungkin menjadi daerah resapan alami. Air laut yang dulu masih bisa “bernapas”, kini terdesak dan mencari jalan lain, akhirnya mereka memilih untuk masuk ke permukiman warga.

Setiap tahun, rob terasa makin tinggi. Pelan, tapi pasti. Ada kabar bahwa pemerintah akan membangun jalan lingkar di pesisir Kendal yang sekaligus difungsikan sebagai tanggul laut. Konsepnya terdengar menjanjikan. Tapi sampai sekarang masih sebatas rencana. Belum jelas kapan dimulai. Atau jangan-jangan, hanya akan berhenti sebagai wacana.

Warga sudah terlalu sering mendengar janji. Mereka sekarang lebih percaya pada tinggi air daripada tinggi kata-kata.

Musim hujan dan banjir dari hulu

Kalau rob datang dari laut, banjir musim hujan datang dari daratan. Kecamatan Kaliwungu dan Kaliwungu Selatan sudah lama dikenal sebagai langganan banjir. Begitu hujan deras turun beberapa jam saja, air langsung naik.

Warga Kecamatan Kota Kendal lebih parah lagi, sebagai ibu kota kabupaten, hampir semua desa di wilayah ini setiap hujan deras selalu terendam banjir. Belum lagi desa-desa di Kecamatan Kendal Kota, Ringinarum, Weleri, hingga Rowosari.

Polanya hampir sama. Hujan deras, sungai meluap, jalan dan rumah terendam. Masalahnya bukan cuma curah hujan. Di wilayah Kendal atas, eksploitasi galian C berjalan secara ugal-ugalan. Tanah dikeruk, bukit diratakan, sungai dipaksa menampung lebih banyak air dan lumpur.

Alih fungsi hutan menjadi perkebunan juga memperparah keadaan. Hutan yang seharusnya menahan air kini kehilangan fungsinya. Air hujan tidak lagi meresap, tapi langsung turun ke hilir dengan membawa air, lumpur dan sampah. Ketika air sampai di bawah, warga yang menanggung akibatnya.

Galian C dan debu yang tidak terlihat di laporan

Galian C sering dibungkus dengan kata “pembangunan”. Padahal dampaknya terasa nyata di kehidupan sehari-hari warga Kendal. Banjir adalah salah satunya. Tapi bukan satu-satunya. Debu beterbangan, jalan rusak, truk dump lalu lalang dengan muatan berlebih dan kecepatan seenaknya. Keselamatan warga sering jadi taruhan.

Anak-anak berangkat sekolah harus berbagi jalan dengan truk besar. Warga menutup rumah rapat-rapat bukan karena dingin, tapi karena debu. Ironisnya, keuntungan dari galian C tidak selalu kembali ke warga sekitar. Yang menikmati hasilnya segelintir. Yang menanggung dampaknya, jutaan orang.

Kendal di persimpangan nama

Kendal sering dijuluki kota santri, kota beribadat. Julukan yang lahir dari sejarah panjang pesantren dan kehidupan religius warganya. Tapi julukan itu pelan-pelan mulai terancam.

Kalau persoalan rob dan banjir terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Kendal akan lebih dikenal sebagai kota banjir. Kota yang tiap musim hujan viral karena banjir, dan tiap musim kemarau tetap basah oleh air laut. Padahal dulu, gang-gang kecil di Kendal lebih sering dipenuhi suara anak mengaji, bukan suara pengumuman datangnya banjir.

Masalah ini tidak bisa diserahkan ke satu pihak saja. Warga dan pemerintah harus duduk bersama. Bukan sekadar rapat formal dan foto bersama, tapi benar-benar memikirkan solusi jangka panjang.

Kalau tidak, air akan terus naik. Dan Kendal akan terus tenggelam bukan hanya secara fisik, tapi juga secara makna. Karena pada akhirnya, kota bukan cuma soal bangunan dan jalan. Tapi tentang apakah warganya masih bisa hidup dengan layak, tanpa harus setiap hari bertanya besok air akan setinggi apa lagi?

Penulis: Andre Rizal Hanafi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kendal Itu Persis kayak MU: Punya Kekayaan, tapi Nggak Bisa Apa-apa, Alih-alih Berjaya, Malah Konsisten Jadi Medioker!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2025 oleh

Tags: banjir di Kendalbanjir kendalbanjir robgalian di kendalKabupaten Kendalkaliwungu kendalkendal
Andre Rizal Hanafi

Andre Rizal Hanafi

Seorang yang menjalani hidup dengan tenang, namun menyimpan kegaduhan di dalam kepalanya. Menulis adalah ritual untuk merapikan kekacauan itu—atau setidaknya, sebuah cara untuk menertawakan absurditas yang terjadi di dalam sana

ArtikelTerkait

Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana Terminal Mojok

Daerah Langganan Banjir di Semarang dan Tips Hidup di Sana

10 Januari 2023
Semarang Nggak Cocok Jadi Tempat Pensiun, Kota Ini Semakin Sibuk dan Sesak Menyerupai Jakarta Mojok.co

4 Hal Unik di Semarang yang Bikin Pendatang Bakal Keheranan, seperti Togel yang Masih Ada dan Berlipat Ganda

8 Maret 2024
5 Hal Terkait Kendal yang Perlu Diketahui agar Lebih Kenal Terminal Mojok

Dear Kendal, Sampai Kapan Mau Jadi Daerah Medioker?

13 Februari 2023
Banjir Kendal Persoalan yang Sudah Lama Ada dan Pemda Selalu Gagap Mengatasinya Mojok.co

Banjir Kendal Persoalan yang Sudah Lama Ada dan Pemda Selalu Gagap Mengatasinya

4 Februari 2025
Warga Ngampel Kendal Muak Tersiksa Bertahun-tahun karena Galian Tambang, Sudah Protes tapi Cuma Diberi Janji

Warga Ngampel Kendal Muak Tersiksa Bertahun-tahun karena Galian Tambang, Sudah Protes tapi Cuma Diberi Janji

18 Juni 2025
Nasib Suram Pelabuhan Tanjung Kendal. Digadang-gadang Jadi Pelabuhan Internasional, Berakhir Jadi Tempat Mancing Mojok.co

Pelabuhan Tanjung Kendal Digadang-gadang Jadi Pelabuhan Internasional, Berakhir Jadi Tempat Mancing

30 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Orang Bangkalan Madura yang Ternyata Beragam Mojok.co

Kalau Nggak Doyan Kuliner Sumenep, Cobalah Kuliner Bangkalan Madura yang Rasanya Nggak Kaleng-kaleng

15 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026
Innova Reborn, Mobil Zalim yang Mengalahkan Kesalehan Zenix (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Mobil yang Nakal dan Zalim, tapi Tetap Laku karena Kita Suka yang Kasar dan Berisik, bukan yang Saleh kayak Zenix

15 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti
  • WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!
  • 3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa Serta Tak Berdaya, tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa karena Terpaksa
  • Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang
  • Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa
  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.