Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

‘Negri Ngeri’ Adalah Gambaran Indonesia Saat Dihajar Pandemi

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
7 Juli 2021
A A
marjinal negri ngeri mojok

marjinal negri ngeri mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Lagu adalah suara terdalam keresahan masyarakat.” Itu kata kawan saya yang sok rebel-rebel senja. Yah, biasanya sih saya cuma jawab “bacot”.

Tapi, setelah dipikir-pikir ada benarnya lho. Bahkan musik paling ra cetho sekalipun tidak lahir dari kehampaan. Semuanya merangkum kehidupan di sekitar kita. Baik kehidupan ideal yang dimimpikan, atau kehidupan nyata yang sering menyesakkan. Apalagi bicara musik punk. Musik yang lahir, dari, dan bagi masyarakat akar rumput akan selalu relevan dengan masyarakat.

“Sunset di Tanah Anarki” punya SID menggambarkan perjuangan demi keadilan. “Lagu Cinta Kelas Pekerja” karya Begundal Lowokwaru menceritakan kehidupan cinta, kerja, dan persaudaraan. “Long Way to YK” milik Tango Tequila menggambarkan anak muda yang pergi merantau meninggalkan rumah. “Kelas Pekerja” gubahan Keotik apalagi, menggambarkan susahnya jadi pekerja yang “saling sikut mencari muka demi cari aman semata.”

Kalau disuruh membahas tentang musik punk dan maknanya, mending jangan lewat artikel ini. Lima ribu kata pun tak cukup membahas beberapa puluh lagu favorit saya. Tapi kali ini, izinkan saya membahas satu lagu yang tak lekang oleh waktu. Bahkan makin relevan di hari ini. Ketika kita terhantam dan digagahi pandemi ndlogok.

“Negri Ngeri” karya Marjinal, lagu inilah yang saya maksud. Sebuah lagu gubahan Mike Marjinal ini memang benar-benar melegenda. Bahkan masih dinyanyikan 15 tahun kemudian semenjak rilis. Dan tetap mendengungkan amarah, bahkan setelah band Marjinal tidak relevan lagi.

Ya maaf, saya masih senewen dengan opini band ini yang makin hari makin melempem melawan ketidakadilan. Padahal, band ini termasuk corong perlawanan pada masa reformasi. Saat masih bernama AA and AM dan ada cak Romi Jahat, kurang galak apa band ini?

Ya sudah. Jaman berganti, dan suara kontra tidak mati. Marjinal bisa jadi catatan kaki di sejarah, tapi “Negri Ngeri” akan abadi. Dan seperti yang saya bilang, “Negri Ngeri” makin relevan di masa pandemi ini. Mungkin cocoklogi, tapi mari kita breakdown liriknya.

Lihatlah negri kita (oh)

Baca Juga:

8 Band Punk yang Patut Anda Dengarkan Setelah Sukatani

ASN Bisa Bersuara, Bisa “Mati” Maksudnya

Yang subur dan kaya raya

Sawah ladang terhampar luas

Samudra biru, yeah

Siapa sih yang tidak membanggakan Indonesia yang penuh potensi alam dan manusia? Kan kita selalu bangga dengan subur dan kaya rayanya negeri ini. Dari pejabat sampai pengamen selalu memandang negeri ini yang penuh sawah dan dikelilingi lautan biru. Relevan? Sudah pasti!

Tapi rataplah negri kita (oh)

Yang tinggal hanyalah cerita

Cerita dan cerita, terus cerita (cerita terus)

Dari mimpi tadi, kita kembali ke realitas. Tidak hanya menatap, tapi rataplah, karena semua keindahan tadi tinggalah cerita. Meskipun selalu diulang-ulang sebagai penghibur diri sendiri. Tapi, dengan pembangunan yang merusak alam seperti di Sangihe serta Gunung Slamet, sampai lenyapnya sawah terhampar oleh perumahan di Sleman.

Tapi, tidak berhenti sampai di situ. Pandemi benar-benar menjadikan kekayaan negeri ini menjadi cerita. Dan ditegaskan di lirik reffrain ini.

Pengangguran merebak luas

Kemiskinan merajalela

Pedagang kaki lima tergusur, teraniaya

Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, angka pengangguran selama pandemi meningkat dari 4,9 persen menjadi 7 persen. Alias ada 9,7 juta orang yang menganggur. Menurut BPS, jumlah warga miskin meningkat lebih dari 2,7 juta jiwa selama pandemi. Dua lirik tadi seperti nubuat hari ini, setelah 15 tahun lamanya.

Bicara penggusuran, ini sih bukan hal baru, tapi menjadi istimewa semenjak pandemi. Tidak usah jauh-jauh, represi aparat saat PPKM darurat benar-benar menganiaya dan menggusur PKL. Ada yang dirubuhkan warungnya, direbut gerobaknya, dan disemprot water cannon dan disinfektan yang berbahaya.

Bocah-bocah kecil merintih

Melangsungkan mimpi di jalanan

Buruh kerap dihadapi penderitaan

Bagaimana bocah kecil tidak merintih. Pertama, mereka golongan rentan Covid-19. Menurut IDAI, setiap minggu ada ribuan anak meninggal. Sisanya pun melangsungkan mimpi “di jalanan”, karena sekolah tanpa tatap muka yang tidak efektif.

Bicara buruh, jelas selalu dihadapi penderitaan. Tamparan dari UU Cipta Kerja pada masa pandemi ini jelas makin menyakiti para buruh. Lebih parah lagi, banyak perusahaan dan pabrik menjadi kluster Covid-19 karena tidak menahan operasi. Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Inilah negri kita (oh)

Alamnya kelam tiada berbintang

Dari derita dan derita, menderita (derita terus)

Lirik ini memang mempertegas situasi negeri ini hari ini. Bintang kejayaan negeri yang subur dan kaya raya tidak lagi bercahaya. Kelam oleh derita, derita, menderita (derita terus). Semua situasi di atas dipertegas oleh kelam yang digambarkan lirik ini.

Sampai kapankah derita ini? (Au-ah)

Yang kaya darah dan air mata

Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi, ah

Sampai kapan kita harus hidup dalam pandemi? Jawabannya memang “au-ah”, karena tidak ada yang tahu kapan pandemi ini berakhir. Bahkan setelah kita berkubang darah dan air mata. Kematian akibat pandemi benar-benar mengerikan, bahkan disempurnakan kematian puluhan jiwa dalam satu malam di RS Sardjito.

Air mata keluarga dan sanak saudara terus mewarnai bumi pertiwi ini. Karena duka cita seperti antri di antara kita. Hari ini kita berduka oleh kabar kematian dan kemiskinan, esok gantian orang lain. Tapi, di tengah situasi serba susah ini, lirik berikutnya menggambarkan situasi lebih keji.

Dinodai, dinodai

Digagahi, digagahi

Dikuasai

Digagahi, dihabisi para penguasa rakus

Lirik nakal ini benar adanya. Apalagi bicara penanganan amburadul masa pandemi. Mulai dari PPKM yang tidak jelas, menggenjot ekonomi tanpa memikirkan keselamatan, sampai kolapsnya fasilitas kesehatan.

Siapa yang menodai, menggagahi, dan menghabisi kita? Ya penguasa rakus seperti kata Marjinal. Dari korupsi bansos sampai proyek tidak penting di tengah pandemi. Betapa rakusnya mereka sampai kita seperti diruda paksa. Tidak lagi ada harga diri karena setiap lini kehidupan kita memang digagahi oleh mental rakus ini!

***

Bukannya berniat cocoklogi, apalagi menyuarakan negativisme. Tapi kenyataan memang seperti itu, Masbro, Mbakbro. “Negri Ngeri” memang lagu dengan lirik ngeri. Sama seperti situasi hari ini yang memang ngeri.

Terserah pandangan anda tentang Marjinal dan kultur punk. Tapi, band lawas ini sukses memberi gambaran tentang situasi negeri ini. Dulu memang terkesan “lebay” bagi banyak orang. Tapi hari ini? Benar adanya kan? 

Semoga lirik “Negri Ngeri” segera tidak relevan dalam kehidupan kita. Meskipun “au-ah”, percayalah bahwa kita bisa mentas dari pagebluk ini. Dan untuk anda yang menjiwai kultur Punk, selalu ingat pesan Mahatma Gandhi: “Punk yo punk tapi yo adus!” Tetap mandi agar bebas penularan Covid-19, dan tetap Punk karena negeri ini tidak baik-baik saja!

BACA JUGA Pentingnya Kerja Cerdas dan Work-Life Harmony agar Ngarso Dalem Nggak Kerja 24/7 dan tulisan Prabu Yudianto lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: kritikmarjinalnegri ngeripandemiPojok Tubir TerminalPunkrealitas
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

Pengalaman Saya Menjalani KKN Gaib, Sendirian Ngerjain Proker, Tau-tau Selesai

31 Juli 2024
Tren Ikoy-ikoyan: Ngemis, tapi Kok Menolak Disebut Bermental Pengemis? terminal mojok.co

Tren Ikoy-ikoyan: Ngemis, tapi Kok Menolak Disebut Bermental Pengemis?

11 Agustus 2021
figur publik konferensi pers permintaan maaf kasus mojok

Publik Figur Minta Maaf karena Terjerat Kasus Itu Nggak Perlu Dilakukan

11 Juli 2021
4 Rekomendasi Tokoh yang Pas sebagai Brand Ambassador GoTo terminal mojok.co

4 Rekomendasi Tokoh yang Pas sebagai Brand Ambassador GoTo

28 Mei 2021
nia ramadhani kebosanan kekayaan mojok

Nia Ramadhani dan Kebosanan yang Tak Pernah Eksklusif

10 Juli 2021
paket wisata vaksinasi bali mojok (1)

Paket Wisata Vaksinasi Adalah Gambaran Kesenjangan Sosial Kala Pandemi

4 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.