Stasiun Karawang kalah jauh ketimbang Stasiun Cikarang, di berbagai aspek. Padahal, Karawang ini pusat industri lho
Minggu lalu, saya turun di Stasiun Karawang untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Harapan saya sederhana, disambut stasiun yang modern bagi kota industri. Nyatanya, suasana di sana justru terasa sunyi, kontras dengan bayangan saya akan pusat mobilitas yang ramai.
Ada ironi yang tersaji di sana. Karawang yang dikenal adalah pusat industri besar, ternyata tidak memiliki akses kereta jarak jauh yang memadai. Banyak kereta besar yang hanya melintas dengan angkuhnya, tanpa berniat untuk berhenti sekadar menyapa penumpang yang menanti di peron.
Sungguh malang nasib stasiun ini. Ibarat orang yang berdiri di perempatan jalan, melihat semua orang berlalu lalang menuju destinasi yang lebih populer, sementara dirinya sendiri terjebak dalam ketidakpastian status dan layanan yang terus tertinggal, apalagi jika dibandingkan dengan Stasiun Cikarang.
Stasiun Karawang yang ketinggalan dibanding Cikarang
Perbandingan antara Stasiun Cikarang dan Stasiun Karawang adalah potret ketimpangan infrastruktur yang nyata. Setelah kondangan, saya memutuskan balik ke Cikarang menggunakan KRL. Saat menginjakkan kaki di Cikarang, perbedaannya langsung terasa menampar.
Cikarang telah disulap menjadi titik krusial integrasi transportasi berkat proyek Double-Double Track (DDT), seolah menjadi bandara di atas rel yang sangat futuristik. Fasilitasnya lengkap, aksesnya mudah, dan frekuensi komuter yang padat membuatnya menjadi pusat dunia bagi para pelaju.
Sebaliknya, Karawang yang berstatus Stasiun Kelas I justru terasa seperti stasiun kuno yang terjebak di masa lalu. Jika Cikarang adalah anak emas yang semua fasilitasnya dimanja, Karawang adalah anak yang disuruh mengerti keadaan meski keadaan itu jelas-jelas merugikan warganya sendiri. Status Kelas I di Karawang hanyalah label di papan nama, tanpa dibarengi mobilitas yang setara dengan wilayah penyangga lainnya.
Kereta jarak jauh yang enggan berhenti
Sembari menunggu jemputan, kurang lebih 30 menit saya diam memperhatikan laju kereta jarak jauh yang melaju kencang mengabaikan keberadaan stasiun ini. “Kok nggak ada yang berhenti di Stasiun Karawang ya?”, tanya saya dalam hati.
Banyak rangkaian kereta kelas eksekutif hingga ekonomi premium yang melintas dengan kecepatan tinggi, mengabaikan potensi ribuan pekerja industri di Karawang. Mungkin ini yang menjadi keluhan nyata bagi warga Karawang.
Ketika stasiun lain berlomba-lomba menambah frekuensi pemberhentian, Karawang justru sering kali dilewati. Hal ini memaksa banyak calon penumpang untuk hijrah ke Cikarang atau stasiun lain hanya demi mendapatkan kursi kereta yang seharusnya bisa mereka akses di kota sendiri.
Ketimpangan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan masalah efisiensi yang merugikan. Kita bicara soal ribuan manusia yang harus membuang waktu dan biaya ekstra hanya karena stasiun ini dianggap belum sepadan untuk disinggahi. Apakah menjadi kota industri tidak cukup membuat Karawang layak memiliki akses transportasi yang manusiawi?
Menanti keadilan di rel yang sama
Secara administratif, Stasiun Karawang memang dikategorikan sebagai Stasiun Kelas I. Namun, status ini terasa hampa jika tidak dibarengi dengan keberpihakan kebijakan operasional. Potensi ekonomi Karawang sangat besar, namun mobilitasnya justru stagnan dan terkesan dianaktirikan oleh kebijakan perkeretaapian.
Padahal, jika akses transportasi diperbaiki, ekonomi daerah pasti akan ikut terdongkrak lebih signifikan, bukan malah dibiarkan merana seperti sekarang yang membuat warga lokal merasa terus dianakemaskan oleh janji-janji manis pembangunan yang tak kunjung terealisasi dengan adil di lapangan.
Pada akhirnya, nasib Stasiun Karawang adalah cerminan dari bagaimana kita mengelola aset transportasi. Apakah kita hanya akan menjadikannya sebagai tempat numpang lewat, atau mau memberdayakannya menjadi jalur ekonomi yang benar-benar melayani rakyatnya?
Stasiun ini tidak butuh perayaan sejarah yang megah, melainkan hanya butuh perhatian nyata, kereta yang mau berhenti, dan kesetaraan akses yang seharusnya memang menjadi hak setiap kota dengan mobilitas tinggi.
Sumber gambar: Lokallan via Wikimedia Commons
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Seandainya Stasiun Cikarang Nggak Pernah Ada, Ini yang Akan Terjadi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
