Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh (Anonymous via Wikimedia Commons)

Melintasi kawasan Peterongan hingga awal era 2000-an terasa seperti menyelami nadi utama Kota Semarang. Waktu itu, Peterongan bukan sekadar deretan kios. Namun, pilar ekonomi paling tangguh di Kota Atlas. Mau cari barang apa saja, pasti tersedia.

Singkatnya, Peterongan adalah kuali niaga yang unik. Riuh rendah pasar tradisional berpadu apik dengan kemegahan Pasaraya Sri Ratu, yang pada masanya menjadi kiblat belanja utama masyarakat Semarang.

Di sepanjang trotoar, toko-toko yang kebanyakan dikelola etnis Tionghoa ikut berjejer rapi. Mereka menjajakan segala kebutuhan. Mulai dari sembako, perhiasan emas, barang elektronik, hingga perlengkapan menjahit.

Sektor pendidikan pun turut menyuntikkan denyut kehidupan. Dilingkari oleh berbagai sekolah negeri maupun swasta, Peterongan ini menjadi jujukan pula bagi pelajar. Buktinya, pedagang seragam, perlengkapan pramuka, hingga alat tulis tak pernah sepi pembeli. Peterongan Semarang layaknya sentral transaksi yang begitu padat sekaligus hidup kala itu.

Toleransi dalam mengais rezeki

Yang paling menarik dari Peterongan Semarang adalah harmoni di tengah persaingan yang begitu sengit. Meski roda perdagangan berputar kencang dengan segudang pemain, tidak pernah ada drama saling sikut. Setiap pelakon usaha seolah sudah memahami porsinya masing-masing.

Mereka terlatih untuk berbagi kue ekonomi dengan sangat dewasa. Artinya, segmen pasar di sini terbagi secara sempurna. Ada yang membidik kelas menengah ke atas, sementara lainnya tetap setia melayani kebutuhan warga menengah ke bawah

Solidaritas ini bahkan teruji saat Java Mall dibangun dan mulai menyedot perhatian publik. Bukannya tumbang, kios-kios milik pribadi maupun swalayan kecil di sekitar Peterongan justru tetap tegak berdiri tanpa kehilangan pelanggan.

Fenomena tersebut menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Peterongan bukan sekadar kumpulan toko atau pusat perbelanjaan biasa. Namun, sebuah tonggak sejarah ekonomi yang pernah perkasa di Kota Lumpia.

BACA JUGA: Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Wajah memprihatinkan Peterongan Semarang saat ini

Sayangnya, Peterongan kini lebih mirip saksi bisu yang kewalahan bertahan di tengah giatnya modernisasi Kota Semarang. Momok status sebagai area kumuh bukan lagi sekadar isu. Akan tetapi, realitas yang kian hari kian mengintai.

Ditambah, ruas jalan di seputar Peterongan Semarang masih pula direcoki dengan urusan lalu lintas yang semrawut serta estetika yang lambat laun memudar. Semua kondisi tadi membuat wajah Peterongan tampak kian muram dan kehilangan pesonanya.

Kontras paling menyedihkan tersaji lewat nasib bekas Pasaraya Sri Ratu. Kalau dulu gedung ini menjadi magnet ekonomi yang menghidupi pelaku usaha di sekitarnya, kini kondisinya benar-benar memprihatinkan.

Bangunannya memang masih berdiri. Tapi, tampak letih, kosong, dan nyaris tanpa kehidupan berarti. Nasibnya jauh panggang dari api bila dibandingkan dengan saudaranya di Jalan Pemuda yang justru berhasil bangkit kembali dengan wajah baru sebagai Queen City.

Ancaman nyata kemunduran kota

Hilangnya jangkar ekonomi tadi membuat Peterongan Semarang kehilangan daya tariknya sebagai destinasi belanja. Pemilik modal yang masih punya napas panjang memutuskan angkat kaki. Mereka mencari lahan bisnis yang jauh lebih menjanjikan dan tertata.

Sementara, pelaku usaha yang tak punya pilihan, bertahan di toko dengan sisa-sisa dagangan yang ada. Sedihnya, barang dagangan mereka malah lebih sering dikerubungi debu tebal ketimbang calon pembeli.

Bahaya kemunduran kota di Peterongan jelas bukan isapan jempol. Secara psikologis, ketika sebuah kawasan yang pernah begitu lekat dengan transaksi ekonomi skala besar ditinggalkan, maka ada sinyal kuat penurunan kelas. Kalau tidak ada gebrakan dari pemerintah, daerah ini terancam terjerumus dalam nasib tragis.

Bukan tak mungkin, Peterongan akan terus terjebak dalam hiruk-pikuk pasar tradisional. Namun, mati pelan-pelan di sisi komersial modernnya. Tentunya, ini merupakan ironi bagi wilayah yang dulunya pernah jadi raja perdagangan di Semarang.

Mampukah pasar tradisional Peterongan Semarang bisa jadi penyelamat?

Memang, langkah revitalisasi Pasar Peterongan yang sudah berjalan patut diapresiasi. Kini, pasar tradisional tersebut menjadi aset paling berharga yang menjaga eksistensi Peterongan. Namun, seandainya pemerintah mampu menyelaraskan peremajaan pasar dengan pemanfaatan gedung tua bekas Pasaraya Sri Ratu, potensi berubahnya Peterongan menjadi area kumuh bisa ditekan.

Bagaimanapun, menatap gedung Sri Ratu yang kini mati suri memang menyisakan rasa sesak di dada. Bagi warga Semarang, bangunan lawas itu bukan sekadar tumpukan batu bata dan semen. Tapi, monumen keemasan yang pernah membuat Peterongan begitu disegani.

Kalau tidak ada lagi ide untuk menghidupkannya kembali, mungkin menyulapnya menjadi persinggahan para hantu bisa menjadi opsi yang layak. Selain memberi fungsi baru, ini bakal menambah daftar panjang mitos gedung angker di Kota Semarang yang justru sering kali sukses menarik rasa penasaran wisatawan. Toh, pada akhirnya juga bisa mendatangkan cuan.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dulu Pengin Segera Kabur dari Semarang, Kota yang Nanggung dan Membosankan, kini Selalu Kangen Setelah Kerja di Jakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version