Hidup sebagai perempuan desa usia 20-an tidak pernah mudah.
Sejak remaja aku tinggal di kota. Namun, aslinya aku adalah orang yang tinggal di pelosok desa. Itu mengapa, aku dan keluarga selalu sempatkan untuk pulang ke kampung halaman tiap ada kesempatan.
Desa tempat asalku seperti kebanyakan narasi hidup desa yang kalian dengar. Rumah-rumah di sana berjejer sepanjang jalan kampung yang diapit sawah. Hampir semua orang di desa kenal satu dengan yang lain. Sebab, kalau bukan saudara, minimal mereka sudah bertetangga sejak lahir.
Hidup di desa berjalan pelan, mengikuti musim tanam dan panen, dengan ritme yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk kota. Warung sarapan, warung kopi jadi pusat informasi, masjid jadi tempat berkumpul. Dan, dari titik-titik itulah setiap kabar kecil bisa menyebar hanya dalam hitungan jam.
Sejujurnya situasi semacam ini banyak sisi positifnya. Warga setempat terasa hangat. Orang-orang saling bantu kalau ada yang punya hajat, gotong royong masih hidup, dan anak-anak tumbuh dengan pengawasan banyak orang dewasa sekaligus, bukan cuma orang tuanya sendiri.
Akan tetapi, kedekatan itu juga punya sisi lain yakni nyaris tidak ada ruang privat. Setiap keputusan hidup, termasuk keputusan paling personal, selalu jadi bahan pembicaraan bersama. Dan, salah satu yang paling sering dibicarakan adalah soal kapan seorang anak perempuan menikah.
Mimpi perempuan desa yang terpaksa dikubur rapat-rapat
Di tengah kehidupan desa yang nyaris tak ada privasi, tumbuh norma-norma yang diwariskan turun-temurun, dianggap kebenaran tanpa banyak dipertanyakan lagi. Salah satunya, perempuan punya batas waktu untuk menikah dan pendidikan tinggi hanyalah penghalang.
Hidup di desa aku misal, ada semacam jam biologis tak tertulis yang berlaku khusus buat perempuan. Begitu umur menyentuh angka 20, pertanyaan yang muncul bukan lagi “mau lanjut kuliah di mana”, tapi “kapan nikah?”.
Aku sering nongkrong bersama tetangga depan rumah sambil mendengarkan obrolan ibu-ibu dan bapak-bapak yang membahas anak gadis tetangga. Mereka membahasnya seolah-olah anak gadis ini buah yang mulai matang dan harus segera dipetik sebelum busuk. Kalau umur segitu masih sibuk skripsi atau daftar beasiswa, sudah pasti jadi bahan omongan. Sebab, dalam benak mereka, tidak ada manfaatnya kuliah tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga.
Sejujurnya, aku yang seorang mahasiswa merasa tidak nyaman dengan pernyataan tersebut. Aku pun selalu menjadi korban dalam hal ini. Dan, Aku lihat sendiri gimana pola pikir ini membuat banyak perempuan di sekitarku terpaksa mengubur mimpinya.
Ada tetanggaku yang sebenarnya diterima di universitas negeri, tapi orang tuanya lebih memilih menerima lamaran anak juragan sawah karena dianggap kesempatan bagus, jangan sampai keburu tua. Ada juga temanku yang harus berhenti kuliah semester tiga karena keluarganya menganggap kuliah cuma buang-buang waktu dan biaya. Sementara nikah dianggap investasi yang lebih pasti hasilnya. Aku juga melihat bagaimana para perempuan belia yang sudah menikah setelah lulus SMA merasa iri kepada perempuan yang mengejar mimpinya karena tidak punya kebebasan memilih setelah menikah.
Alasan yang tidak masuk akal
Yang bikin aku makin gregetan, alasan yang dipakai masyarakat desaku itu selalu itu-itu saja. Entah takut aku atau perempuan muda lain jadi perawan tua, takut kelamaan sekolah jadi susah dilamar, takut keburu keduluan sama anak orang lain, dan masih banyak lagi. Seolah-olah nilai seorang perempuan diukur dari seberapa cepat dia dilamar, bukan dari seberapa jauh dia bisa mengembangkan diri dan berpikir mandiri.
Padahal kalau dipikir-pikir, logika itu terbalik banget. Justru pendidikan itu yang bikin perempuan punya bekal buat menghadapi hidup, baik sebelum maupun sesudah menikah.
Perempuan yang berpendidikan biasanya lebih siap secara mental menghadapi rumah tangga, lebih paham hak-haknya, dan yang paling penting, punya pilihan. Dia tidak harus bergantung penuh secara ekonomi ke pasangannya, sehingga kalau suatu saat rumah tangganya bermasalah, entah itu KDRT, perselingkuhan, atau apa pun, dia punya kemampuan buat berdiri sendiri.
Sementara perempuan yang buru-buru dinikahkan tanpa bekal pendidikan yang cukup, sering kali jadi rentan. Kalau ada masalah dalam rumah tangga, banyak yang akhirnya bertahan bukan karena bahagia, tapi karena nggak punya pilihan lain.
Selain alasan-alasan di atas, aku juga gedek dengan alasan bisa melanjutkan kuliah setelah menikah. Kenyataannya nggak semudah itu. Begitu ada anak, begitu ada tanggung jawab domestik yang menumpuk, kesempatan itu sering kali cuma jadi wacana. Banyak perempuan di desaku yang akhirnya melepas mimpi kuliahnya begitu saja, bukan karena nggak niat, tapi karena keadaan yang nggak lagi memungkinkan.
Aku paham, tradisi dan tekanan sosial semacam ini nggak lahir dari niat jahat. Banyak orang tua di desaku percaya mereka sedang melindungi anaknya dari keterlambatan menikah, atau khawatir soal omongan tetangga. Tapi niat baik yang dibungkus dengan cara berpikir yang keliru tetap saja berujung merugikan. Yang dikorbankan adalah masa depan perempuan itu sendiri, kesempatannya buat berkembang, buat mengenal dunia lebih luas, buat menentukan jalan hidupnya sendiri sebelum akhirnya memutuskan siap berumah tangga atau belum.
Perempuan desa usia 20 tahun tidak kedaluwarsa!
Menurutku, usia 20 tahun itu bukan usia kedaluwarsa, bahkan tidak ada itu namanya kedaluwarsa untuk perempuan, untuk manusia. Usia berapa saja, perempuan seharusnya diberi ruang buat mengejar pendidikan setinggi mungkin, mengenal dirinya sendiri, dan baru memutuskan menikah kalau memang sudah benar-benar siap, bukan karena dikejar-kejar omongan tetangga atau ketakutan jadi telat.
Pendidikan bukan penghalang buat menikah bahagia. Justru pendidikan itu bekal yang bikin perempuan bisa menjalani rumah tangga dengan kepala tegak, bukan dengan rasa takut nggak punya pilihan lain.
Aku percaya, perubahan itu nggak harus dimulai dari hal besar. Bisa dimulai dari satu keluarga yang berani kasih anak perempuannya waktu buat menyelesaikan kuliah sebelum menikahkan, atau satu obrolan di warung kopi yang nggak lagi menyudutkan perempuan yang belum juga menikah di usia 20-an akhir. Kalau satu keluarga berani mendobrak kebiasaan itu, keluarga lain bisa jadi ikut terinspirasi, dan pelan-pelan pola pikir yang sudah mengakar puluhan tahun bisa mulai bergeser, meski aku sadar itu nggak akan terjadi dalam semalam.
Semoga suatu saat pola pikir semacam ini di desaku bisa berubah. Semoga perempuan-perempuan di sana nggak lagi dipaksa memilih antara ijazah dan buku nikah, tapi diberi ruang buat mengejar keduanya sesuai waktu dan kesiapan masing-masing.
Penulis: Nurkamala Dewi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
