Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Nasi Kucing, Satire Terbaik untuk Pemerintah Yogyakarta

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
10 Mei 2022
A A
Nasi Kucing Adalah Satire Terbaik untuk Pemerintah Yogyakarta Terminal Mojok.co

Nasi Kucing Adalah Satire Terbaik untuk Pemerintah Yogyakarta (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di internet, banyak bertaburan sejarah nasi kucing. Tugas kita adalah mengamini dengan segala versi yang berbeda. Pun di internet, pembahasan dengan kata kunci “filosofi nasi kucing” sudah banyak. Sama banyaknya dengan baliho Cak Imin 2024 di Jalan Imogiri Timur, Bantul. Penuh sesak makna perihal nasi kucing dengan segala landasan filosofinya, juga perlu kita amini bersama.

Namun, jika meneropong perubahan zaman, nasi kucing seperti punya arti terselubung. Eksistensinya yang identik dengan Yogyakarta (dan Jawa Tengah, tentu saja)—belakangan ini—lebih mirip seperti satire ketimbang sekadar makanan pengisi perut.

Mulai dari bentuknya yang mungil, lauknya yang minimalis, nasinya yang lebih mirip kepal tangan bayi, sampai rasanya yang gurih, lebih mirip olok-olok kepada Pemprov dan Pemda dengan cara yang manis dan rapi. Kenapa? Begini.

Angkringan (Shutterstock.com)

Dari bentuknya saja kita sadar, tak perlu kemasan mewah untuk membungkus nasi kucing. Cukup koran bekas (apa pun isi beritanya, tentang Bu Mega yang menyindir ibu-ibu juga bisa, atau pasir Alun-alun Utara yang dikeruk juga boleh) dan kertas minyak yang dipotong-potong. Hal tersebut bak menggambarkan hati dan perasaan masyarakat Jogja secara luas.

Apa maksudnya? Hati dan perasaan masyarakat Jogja itu amat sederhana dan tanpa pamrih. Apa saja kebijakan dari penguasa, mereka menerima. Apa pun keputusan yang diambil dalam menentukan agenda besar di Jogja—problem klitih, misalnya—mereka oke-oke saja. Aturannya yang itu-itu doang dari tahun ke tahun, mereka juga menerima.

Bahkan sampai upah yang disebut sejahtera saja belum, mereka nrimo. Seperti bungkus nasi kucing yang tidak perlu neko-neko. Tidak perlu label dari angkringan, pembungkus mewah yang dibeli di swalayan. Tak pernah ada penolakan, seperti masyarakat Jogja kebanyakan.

Bungkus nasi kucing (Shutterstock.com)

Lantas lauknya yang minimalis, yakni oseng tempe atau oseng ikan asin (kecuali kalau angkringan yang agak mewah, lain cerita, ya), merupakan satire terbaik abad ini. Nah, nasi kucing ini sekarang nasional, ada di mana-mana. Bahkan ketika saya di Jakarta, ia pun ada. Hal ini seakan memberitahu kepada khalayak ramai, “Warga Jogja diberi lauk minimalis saja doyan.”

Tentu saja, nasi ini enak sekali. Itu tidak bisa diganggu-gugat. Konteksnya di sini, dengan lauk yang minimalis tersebut, memberikan gambaran bahwa masyarakat Jogja itu bukan hanya sederhana, tapi juga harus (mau tidak mau) irit.

Baca Juga:

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Hal Unik yang Hanya Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk di Jogja, Pasti Bikin Kalian Geleng-geleng

Mereka mampu beli makanan yang lebih mahal, tapi tentu saja mempertimbangkan keseimbangan neraca keuangan untuk sebulan. Ia adalah pahlawan, untuk hidup satu bulan, ya pekerja di Jogja memang pasnya membeli nasi kucing untuk menjaga neraca keuangan.

Ibarat pemain bola, bakul angkringan itu playmaker sakti mandraguna. Lha gimana tidak, mereka bisa menentukan lauk yang pas untuk orang-orang yang UMR-nya tidak lebih tinggi dari uang jajan para crazy rich Jogja dalam sehari.

Nasinya sebesar kepal tangan bayi juga punya makna menyindir. Lha kalau nasinya sebesar kepal tangan orang dewasa di Jogja, itu porsinya terlalu banyak. Kepal tangan orang dewasa di Jogja, contohnya adalah buruh tani di Bantul yang menerima upah harian sebesar Rp20 ribu, kepal tangan mereka di atas rata-rata kepal tangan pada umumnya.

Kalau nasi kucing sekepal tangan buruh tani tersebut, jelas porsinya terlalu banyak. Iya, buruh tani yang mau bekerja sekeras apa pun, kalau sistem pengupahan tidak ada penanganan dari hulu ke hilir, akan terus terjebak dalam angka Rp20 ribu. Sehari dapat upah Rp20 ribu, itu artinya bisa beli 2 bungkus nasi, gorengan, es teh.

Makan di angkringan (Shutterstock.com)

Yang menjadi menarik, nasi kucing kini banyak dijadikan buah tangan oleh wisatawan yang baru saja singgah ke Jogja. Itu adalah ide luar biasa untuk memberitahu ke seluruh orang di luar Jogja melalui satire-satire terselubung dari sebungkus nasi kucing.

Mungkin, sembari memberi sanak saudara buah tangan nasi kucing, sesekali bisa berkata begini, “Nih, oleh-oleh khas Jogja. Makanan yang menggambarkan upah rendah.”

Terima kasih dan segala dan puji untuk semua bakul nasi kucing di Jogja yang mempertahankan harga rendah, lauk mantap, dan rasa yang nikmat. Para bakul angkringan, bahkan lebih perhatian kepada kelas pekerja dari pada pemerintah daerah itu sendiri.

Penulis: Gusti Aditya
Editor: Audian Laili

BACA JUGA Mati Tua di Jalanan Yogyakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2022 oleh

Tags: diynasi kucingYogyakarta
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

5 Hal yang Terjadi Jika Sleman Meninggalkan Jogja (Unsplash)

Membayangkan Betapa Menderitanya Jogja Jika Sleman Menghilang Pergi, Inilah 5 Hal yang akan Terjadi

21 Maret 2025
4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta Jakarta

4 Kesamaan Bekasi dengan Yogyakarta

21 Mei 2022
ayam geprek

Sulitnya Mencari Ayam Geprek yang Enak di Kota Padang

13 Desember 2021
Jalan Daendels, Jalan Penghubung Yogyakarta-Purworejo yang Mirip Simulasi Neraka

Jalan Daendels, Jalan Penghubung Yogyakarta-Purworejo yang Mirip Simulasi Neraka

30 Oktober 2023
5 Hal Lumrah di Daerah Lain, tapi Orang Jogja Nggak Bisa Melakukannya Mojok.co

5 Hal Lumrah di Daerah Lain, tapi Orang Jogja Nggak Bisa Melakukannya

16 Agustus 2024
5 Privilese Tinggal di Sleman Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul Mojok.co

5 Privilese Tinggal di Sleman Sisi Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul

8 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.