Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Nadiem Makarim Bikin Orang Miskin Makin Sial? Sebuah Argumen Konyol

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
27 Juli 2020
A A
sisi lain nadiem makarim

sisi lain nadiem makarim

Share on FacebookShare on Twitter

Saya membuka Terminal Mojok Minggu malam, dan mendapati tulisan satu berjudul Nadiem Makarim, Milenial di Pemerintahan yang Membuat Hidup Orang Miskin Terasa Menjadi Makin Sial. Sebuah kritikan untuk Nadiem Makarim dari Mbak Aminah Sri Prabasari.

Kalau boleh jujur, saya awalnya nggak begitu tertarik dengan tulisan itu. Namun karena malamnya mendadak trending, saya jadi penasaran. Alhasil saya bacalah tulisan tersebut.

Gagasannya indah sekali. Mbak Aminah ini piawai juga dalam menorehkan kata-katanya. Meski sudah sering yang membahas Pak Menteri satu ini, saya boleh bilang, tulisan beliau ini adalah yang up-to-date. Data-data yang disajikan juga tak bisa dianggap sembarangan.

Mbak Aminah menyoroti polemik belajar via daring yang sekarang ini diterapkan Kemendikbud dibawah komando Nadiem Makarim. Beliau menulis, yang intinya, lewat kebijakan belajar daring itu membikin orang miskin terasa makin sial. Mbak lantas membandingkan Nadiem dengan menteri milenial di negara lain.

Dalam tulisannya, Mbak Aminah menilai Nadiem Makarim nggak kayak menteri-menteri milenial negara lain. Tak punya sepak terjang yang bisa dibanggakan untuk mengemban tugas sebagai menteri. Ditambah, karena nggak berasal dari partai, Nadiem Makarim, dianggapnya kurang dalam perpolitikan duniawi.

Iya…mungkin, dalam benak Mbak Aminah, orang partai yang layak jadi menteri. Sebab punya rekam jejak di dunia politik. Begitu bukan, Mbak?

Namun begini Mbak Aminah, Nadiem Makarim memang belum pernah dikabarkan masuk partai politik. Ia hanya sebatas Bos Gojek yang “ketiban untung” dilirik Pak Jokowi untuk ditugasi menjadi Mendikbud. Wajar saja kalau kebijakannya itu masih bau-bau bisnis.

Mbak keliru kalau mengatakan orang miskin bertambah sial selama kepemimpinan Nadiem Makarim sebagai Mendikbud. Apalagi hanya karena kebijakan sekolah daring selama masa pandemi. Lagi pula, kebijakan itu muncul karena keadaan yang memaksa.

Baca Juga:

Mehamami Kasus Korupsi Chromebook yang Menjerat Nadiem Makarim dengan Mudah dan Lengkap

Dear Bu Risma Mensos, Anak yang Menitipkan Orang Tua ke Panti Jompo Nggak Melulu Durhaka

Coba ngana pikir, masa di tengah pandemi begini kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara konvensional? Nanti bukannya mencegah, malah menimbulkan kerumunan (setidaknya di masing-masing kelas). Apa kita mau hidup berlama-lama bareng virus?

Oke…oke…kebijakan itu menyusahkan. Khususnya buat siswa-siswi yang nggak punya gadget canggih. Terus ada beberapa daerah yang belum terjangkau internet. Jangankan internet, tambang batu bara yang berhektar-hektar itu pun belum sanggup memenuhi kebutuhan listrik seluruh warga Indonesia.

Akan tetapi, menyalahkan Nadiem Makarim karena kebijakannya soal sekolah daring, yang dianggap membuat orang miskin makin sial, adalah tindakan konyol yang terkesan sentimen belaka. Menyediakan internet, listrik, gadget, dan kemiskinan itu bukan job desk-nya Nadiem. Mbak Aminah tahu kan Nadiem Makarim itu Mendikbud bukan Menkominfo, Menko PMK, atau Mensos?

Kalau Nadiem memutuskan dan meneken bahwa kebijakan pendidikan selama pandemi ini dilakukan secara daring, bukan berarti Nadiem pula yang harus memenuhi kebutuhan gadget dan koneksi internet. Tentu jika kalian tanyakan itu pada Nadiem, kemungkinan besar beliau akan terheran-heran sama seperti reaksi beliau saat tahu gaji guru honorer “menjerit”.

Harusnya, protes internet nggak merata itu kepada Pak Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) juga. Yang tiada lain adalah Pak Jhonny G Plate (Plate atau Plate ya bacanya?). Menkominfo yang berkewajiban menjamin fasilitas internet bisa dinikmati seluruh warga negara tanpa pandang kaya-miskin.

Perlu diakui, internet belum bisa merata. Misalnya Papua, di mana kabarnya, warganya belum seluruhnya bisa menggunakan internet, sebab aksesnya terbatas. Eh, akses sudah terbatas, pemerintah bisa saja main membatasi informasi seenaknya seperti kejadian rasisme waktu itu.

Coba ngana renungkan, masa untuk urusan koneksi, Nadiem Makarim yang tanggung jawab. Pusying pala Nadiem. Ngurus pendidikan saja masih meraba-raba. Mbak Aminah, soal kemiskinan juga bukan bagian dari tugas Nadiem Makarim.

Masih ada menteri-menteri Jokowi lainnya yang lebih layak disalahkan untuk menjawab problem kemiskinan. Itu loh Pak Muhadjir Effendy, si Menteri Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Perkara mengentaskan kemiskinan boleh loh ditanyakan ke beliau.

Orang miskin terasa lebih sial akibat kebijakan Nadiem, itu pangkal masalahnya bukan dari kebijakan sekolah daring. Melainkan orangnya saja yang miskin, nggak mampu beli gadget mahal untuk membuka Zoom, dan nggak punya uang buat beli kuota yang harganya melebihi beras sekilo.

Kalaupun tiap hari dikasih subsidi kuota, dan murid-murid yang nggak punya hape canggih dikasih cuma-cuma, itu sekadar solusi sementara. Yang mustahil diwujudkan, bahkan sejak dalam pikiran. Masalahnya kemiskinan, jadi yang harus diselesaikan itu.

Nggak semua kemiskinan lahir dari pendidikan yang rendah. Kemiskinan bisa disebabkan minimnya lapangan pekerjaan, kurangnya keterampilan, dan keringnya relasi ke perusahaan-perusahaan top. Mungkin Nadiem bisa mengatasi kurangnya keterampilan. Tapi jangan lupa, Pak Jokowi punya Bu Ida Fauziah, Menteri Ketenagakerjaan.

Kemiskinan bukan khayalan yang sengaja dibesar-besarkan. Melainkan kenyataan pahit yang suka tidak suka memang demikian adanya. Sedangkan barangkali dongeng yang sesungguhnya adalah fasilitas merata untuk segenap tumpah darah Indonesia.

Justru dalam kondisi semacam ini, orang miskin nggak perlu merasa sial, seperti apa yang ditulis Mbak Aminah. Dengan kebijakan sekolah di rumah, orang miskin mampu menunjukkan betapa miskinnya mereka. Betapa susahnya mengakses internet.

Nggak usah khawatir, media siap meliput. Ini isu yang mampu mendulang rating dan views sebanyak-banyaknya. Murid-murid yang kebetulan berasal dari orang tua miskin yang kesusahan menjalani sekolah daring bakal kelihatan, kok.

Nah tinggal kita tunggu apakah jeritan kemiskinan dan kepayahan menjalani sekolah daring itu sampai ke pemerintah. Bukan cuma ke Pak Presiden dan Mendikbud, Nadiem. Melainkan justru ke menteri-menteri lain yang seharusnya ikut bertugas menyediakan fasilitas-fasilitas penunjang. Bukankah pembangunan SDM itu kerja kolektif?

BACA JUGA 8 Cara Mengatasi Motion Sickness, Nomor 5 Jangan Dicoba ya! dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2020 oleh

Tags: internet lemotmendikbudmensosnadiem makarimOrang Miskinsekolah online
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Pengalaman 5 Bulan Pakai Chromebook: Anti Lemot, Murah, tapi Nggak Murahan, dan Jauh dari Perasaan Menyesal korupsi chromebook nadiem makarim

Mehamami Kasus Korupsi Chromebook yang Menjerat Nadiem Makarim dengan Mudah dan Lengkap

10 September 2025
Katanya Mau Mengentaskan Kemiskinan, Kok Malah Ngurusin Soal Nikah, orang miskin

Orang Miskin yang Sebenar-benarnya Miskin Adalah Kaum Marjinal Tanpa KTP

9 Mei 2020
Superapp Merdeka Mengajar, Alasan Nadiem Makarim Jadi Menteri Pendidikan Terbaik setelah Reformasi

Superapp Merdeka Mengajar, Alasan Nadiem Makarim Jadi Menteri Pendidikan Terbaik setelah Reformasi

24 September 2022
5 Fakta yang Perlu Kamu Tahu tentang Kurikulum Prototipe terminal mojok.co

5 Fakta yang Perlu Kamu Tahu tentang Kurikulum Prototipe

26 Desember 2021
Nadiem Makarim dan Teks Pidato untuk Hari Guru yang Penuh dengan Harapan Baru MOJOK.CO

Nadiem Makarim, Kita Lebih Membutuhkan Program Merdesa Belajar Sebelum Merdeka Belajar

28 Juli 2020
Warga Surabaya Nggak Butuh Pramuka, Kegiatan Ini Memang Lebih Baik Nggak Diwajibkan Mojok.co

Pelajar Surabaya Nggak Butuh Pramuka, Ekstrakurikuler Ini Memang Lebih Baik Nggak Diwajibkan

7 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
9 Rekomendasi Mobil Bekas di Bawah 100 Juta Terbaik untuk Pemula Berkantong Cekak

Cari Mobil Bekas Murah buat Lebaran? Ini Motuba di Bawah 60 Juta yang Terbukti Nggak Rewel

14 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 
  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.