Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mungkin Memang Sebaiknya Kita Berhenti Berinfak di Masjid

Muhammad Irsyad Adireja oleh Muhammad Irsyad Adireja
5 September 2020
A A
mungkin memang sudah sebaiknya kita berhenti berinfak di masjid mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini saya merasa malas untuk berinfak, apalagi kalau itu harus dilakukan di masjid-masjid yang besar dan megah. Saya tak yakin infak itu benar-benar sampai kepada yang berhak.

Saya merasa bahwa ada sesuatu yang keliru soal cara pandang mayoritas takmir masjid yang mengelola infak terhadap uang infak yang diamanahkan kepada mereka. Taruhlah satu masjid kampung dengan ukuran sedang saja bisa mengumpulkan jutaan rupiah setiap Jumat. Pikirkan berapa banyak yang bisa dilakukan dengan uang-uang itu jika dalam setiap bulan ada 4-5 Jumat dan dalam setahun paling tidak ada 52 Jumat.

Hitungan paling kasarnya, ada potensi pemasukan minimal sebanyak Rp52 juta. Ini hitungan untuk sebuah masjid di kampung. Masjid di perkotaan sudah tentu lebih banyak lagi.

Lalu, yang banyak dipikirkan para pengelola masjid dengan uang sebanyak itu adalah mempermegah masjid. Mulailah uang itu dihabiskan untuk macam-macam pembangunan: memperbarui mimbar dan kotak amal dengan ukir-ukiran mahal, menambah ornamen-ornamen kaligrafi dan dekorasi yang ndakik-ndakik, melengkapi masjid dengan pernak-pernik lampu dan running text.

Beberapa masjid malah melangkah lebih jauh dengan membangun menara tinggi dan besar yang fungsinya hanya untuk menyangkutkan corong pengeras suara. Atau fungsi sebenarnya untuk adu gagah dengan masjid-masjid di sekitarnya?

Pada akhirnya, uang infak jamaah banyak tersedot untuk biaya perawatan masjid karena bangunan masjid yang mewah butuh biaya perawatan lebih banyak. Sedikit sisa yang tinggal sedikit lalu digunakan untuk acara-acara tablig akbar yang sebenarnya formalitas semata. Sedikit dari sedikit sisa yang tinggal sedikit digunakan untuk mengelola kajian-kajian fikih rutin atau pendidikan baca tulis Al-Qur’an, dan tak banyak masjid masih mampu menyelenggarakannya.

Garis besarnya: tak banyak manfaat yang diterima masyarakat dari sedemikian banyak uang infak yang disumbangkan. Di mana masjid ketika ada orang-orang miskin terlilit utang? Di mana masjid ketika ada orang-orang menggelandang di atas gerobak dan di emperan toko? Di mana masjid ketika ada anak-anak putus sekolah? Di mana masjid ketika ada keluarga yang kelaparan dengan anak-anak kecilnya yang kekurangan asupan gizi? Di mana masjid ketika ada orang-orang sakit keras namun tak mampu menebus obat?

Gugatan-gugatan itu terus timbul dalam pikiran saya ketika hendak memasukkan uang ke kotak infak. Malahan, baru-baru ini, turut berputar dalam pikiran saya bahwa jika kotak amal masjid sampai kemalingan, peluang uang infak untuk sampai kepada pemilik haknya malah semakin besar. Paling tidak, uang-uang itu sampai pada mereka yang sangat kepepet sampai harus mencuri, dan semua itu karena masjid tidak pernah memberi kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan haknya dengan cara yang lebih terhormat.

Baca Juga:

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

4 Perbedaan Ibadah di Masjid Indonesia dan Turki, Salah Satunya Pakai Sepatu ke Tempat Wudu

Namun, saya tak ingin berhenti sampai sini. Saya ingin ada jalan keluar. Dan dalam rangka itu, saya punya sejumlah usulan ke mana sebaiknya uang infak masjid dikelola.

Masjid menyediakan pinjaman gadai tanpa bunga

Riba itu buruk, tapi ke mana orang harus meminjam jika butuh uang darurat? Tak semua orang bisa meminjam ke bank yang butuh jaminan itu. Meminjam ke kenalan juga tak mesti dapat.

Pasti banyak orang sangat bersyukur apabila ada pinjaman yang bisa dicicil dan tanpa bunga. Uang infak yang dikelola masjid bisa jadi modal mengelola model pemberi pinjaman semacam ini. Pihak masjid bisa melakukan ini dengan memberikan persyaratan yang ketat mengenai urgensi dan alasan peminjaman, jenis harta yang bisa digadaikan, dan cicilan beserta waktu jatuh tempo.

Masjid membeli hasil panen petani

Pada hari ini, masalah paling umum yang dihadapi oleh para petani adalah jatuhnya harga pada saat musim panen. Jika masjid bisa menjanjikan harga beli yang lebih tinggi daripada pihak tengkulak, saya pikir para petani akan beralih menjual hasil panennya ke masjid karena jelas akan lebih menguntungkan buat mereka.

Masjid menyediakan akses internet gratis untuk masyarakat

Hal ini sudah dipraktekkan di beberapa masjid. Saya rasa, dengan adanya akses internet masjid akan semakin ramai dan masyarakat, terutama anak-anak, akan semakin terikat pada masjid. Lalu, ini juga bisa dimanfaatkan untuk menyejahterakan masyarakat di sekitar masjid. Jika area pelataran masjid cukup luas, pengurus masjid bisa mengatur agar penjual makanan atau minuman bisa berjualan di sana dengan tetap menjaga kebersihan dan keindahan. Terakhir, untuk menjaga ketertiban, akses internet dapat dinonaktifkan pada waktu-waktu salat jamaah.

Memanfaatkan masjid untuk keperluan sekuler

Poin ini mungkin terdengar agak menyeramkan namun menurut saya inilah yang terpenting. Sebab saya lihat, orang-orang yang paling getol menolak sekularisme adalah yang justru paling bertanggung jawab atas meningkatnya sikap sekuler masyarakat.

Orang-orang semacam ini memandang masjid hanya pantas jadi tempat salat dan mengaji. Merekalah yang membuka masjid hanya ketika salat jamaah lalu menguncinya ketika anak-anak datang sekadar untuk bermain-main. Merekalah yang mengusir para gelandangan, musafir, dan pemabuk ketika mereka hendak tidur di masjid dengan alasan keamanan atau kepantasan.

Mereka lupa bahwa pada zaman Rasul dan beberapa generasi setelahnya, Masjid Nabawi adalah rumah bagi para gelandangan dan pemuda bujangan.

Ini membuat orang-orang secara tidak sadar menjadi jauh dari masjid. Anak-anak tidak mau pergi ke masjid karena tak ingin dimarahi. Mereka lalu bermain di tempat-tempat yang jauh dari pengawasan orang tuanya. Para pemuda dan pemudi berhenti pergi ke masjid karena takut dicap alim dan tidak gaul. Para gelandangan dan musafir, yang sebenarnya merupakan sebagian dari golongan-golongan pemilik hak terbesar atas uang infak jamaah, justru dianggap tak pantas berada di masjid.

Oleh karena itu, menurut saya, masjid harus selalu jadi tempat yang terbuka. Pengelola masjid bisa membiarkan anak-anak bermain di masjid tanpa perlu menegur secara kasar. Akan lebih baik jika masjid turut menyediakan mentor pendamping belajar, di luar pelajaran-pelajaran agama. Jika area pelataran cukup luas, pengelola masjid bisa menyediakan sekadar ruang bagi para pemuda untuk berolahraga. Pengelola masjid juga bisa menyediakan sabun, sampo, dan pasta gigi agar para gelandangan dan musafir berkesempatan untuk membersihkan diri secara lebih manusiawi.

Jika uang infak yang dikumpulkan masjid masih saja terus dipakai untuk keperluan menyombongkan diri, bukannya melayani kebutuhan umat, mungkin memang sudah saatnya kita berhenti berinfak di masjid.

Photo by Bayu Prayuda on Unsplash

BACA JUGA Dia Sakit dan Kamu Sibuk Membangun Masjid 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 September 2020 oleh

Tags: infakMasjid
Muhammad Irsyad Adireja

Muhammad Irsyad Adireja

Yuk berdiskusi lewat Twitter @irsyadireja

ArtikelTerkait

Kontroversi Depok: Membangun Masjid tapi Menggusur Sekolah, Logikanya Gimana Sih?

Kontroversi Depok: Membangun Masjid tapi Menggusur Sekolah, Logikanya Gimana Sih?

15 Desember 2022
Gempa Cianjur yang Membuat Masjid Tercinta Kini Tersisa Puing-Puing (Foto milik penulis)

Kesedihan Melihat Masjid Cianjur Tercinta Kini Tersisa Puing-Puing

18 Januari 2023
Nggak Mau Sandal Hilang Sewaktu Salat di Masjid, tapi Enggan Tertib Saat Menyimpannya

Nggak Mau Sandal Hilang Sewaktu Salat di Masjid, tapi Enggan Tertib Saat Menyimpannya

15 Februari 2020
masjid di ciputat

3 Masjid di Ciputat yang Tarawihnya Nggak Biasa

1 Mei 2020
Membandingkan Kenyamanan Mandi di Minimarket, Pom Bensin, dan Masjid

Membandingkan Kenyamanan Mandi di Minimarket, Pom Bensin, dan Masjid

7 November 2022
4 Rekomendasi Masjid Terdekat dari Alun-Alun Malang yang Bisa Dijangkau dengan Jalan Kaki

4 Rekomendasi Masjid Terdekat dari Alun-Alun Malang yang Bisa Dijangkau dengan Jalan Kaki

2 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

13 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.