Honda Win Memang Bikin Repot, tapi Sejak Kapan Motor Tua Punya Kewajiban Memanjakan Pemiliknya?

Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot Mojok.co

Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot (unsplash.com)

Semakin banyak saya membaca cerita tentang motor Honda Win yang rewel, semakin besar pula keinginan saya untuk memilikinya. Puncaknya, setelah membaca artikel berjudul “Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot” karya Irfan Maulana Azizy, saya justru semakin yakin kalau motor ini memang layak diperjuangkan.

Jangan salah paham dulu. Saya paham betul keresahan yang ditulis Mas Irfan. Kalau sebuah motor dipakai setiap hari untuk bekerja atau kuliah, lalu tiba-tiba mogok karena sparepart sulit dicari atau ada komponen yang bermasalah, tentu itu menyebalkan. Pengalaman itu nyata dan sangat mungkin dialami siapa saja yang bergantung pada motor tua.

Hanya saja, setelah selesai membaca artikelnya, saya malah bertanya dalam hati, memangnya sejak awal ada yang membeli Honda Win dengan harapan perawatannya semudah motor yang baru keluar dari dealer?

Menurut saya, di situlah letak persoalannya. Kita terlalu terbiasa dengan kendaraan yang serba praktis. Tinggal tekan tombol starter, isi bensin, servis berkala, lalu dipakai lagi. Ketika bertemu motor yang meminta perhatian lebih, kita buru-buru menyebutnya merepotkan.

Padahal, orang yang memang mengincar Honda Win biasanya sudah tahu betul konsekuensinya.

Motor Honda Win memang tak lagi muda

Justru pertanyaan utamanya adalah, apa yang kamu harapkan dari motor Honda Win? Umurnya sudah lebih dari tiga dekade. Wajar jika ada komponen yang aus, beberapa onderdil asli mulai sulit ditemukan, dan tidak semua bengkel memahami karakter mesinnya. Justru kalau ada yang mengira Honda Win bisa diperlakukan persis seperti motor keluaran terbaru, itu aneh, pake banget.

Lagi pula, Honda Win yang masih wara-wiri di jalan sekarang kebanyakan juga sudah tidak benar-benar standar pabrik. Banyak pemilik melakukan penyesuaian agar motornya tetap nyaman dipakai harian. Jeroannya sudah hampir mustahil orisinil. Bukan berarti motor tersebut gagal, tapi ya, lagi-lagi, berharap apa dengan motor berusia lebih dari tiga dekade?

Bagi saya, justru di situlah letak menariknya memelihara motor tua.

Motor seperti Honda Win tidak hanya mengajak kita berkendara, tetapi juga mengajak kita mengenal kendaraannya. Pemiliknya perlahan belajar memahami suara mesin, mengetahui komponen mana yang mulai minta perhatian, sampai akhirnya akrab dengan sesama pemilik karena sama-sama berburu onderdil. Hubungan seperti ini mungkin terdengar merepotkan bagi sebagian orang, tetapi justru itulah yang dicari oleh sebagian lainnya.

Saya juga melihat komunitas Honda Win di Indonesia masih cukup aktif. Mereka saling bertukar informasi soal sparepart, berbagi pengalaman modifikasi yang tetap mempertahankan karakter motor, hingga membantu sesama anggota yang kesulitan mencari komponen tertentu. Menurut saya, kalau motor Honda Win memang seburuk itu untuk dipelihara, mungkin komunitasnya tidak akan tetap hidup sampai sekarang.

Bukan motor sempurna, jelas bukan

Saya tidak sedang mengatakan motor Honda Win adalah motor yang sempurna. Jelas tidak. Motor ini bukan pilihan paling praktis, bukan yang paling murah dirawat, dan bukan pula yang paling mudah dipelihara. Kalau tujuan seseorang adalah mencari kendaraan yang tinggal dipakai tanpa banyak berpikir, masih banyak pilihan yang lebih masuk akal.

Tapi kurang adil jika mengukur Honda Win dengan memakai standar motor modern. Toh sejak awal, pesona motor ini memang bukan terletak pada kepraktisannya. Orang jatuh hati pada bentuknya yang khas, sejarahnya, kesederhanaannya, dan pengalaman yang ditawarkan ketika merawatnya.

Kalau suatu hari nanti motor Honda Win benar-benar terparkir di garasi rumah saya, saya tidak berharap hidup menjadi lebih mudah. Saya juga tidak berharap motor itu bebas dari drama. Justru saya ingin menikmati seluruh prosesnya, termasuk ketika harus meluangkan waktu mencari sparepart atau berdiskusi dengan sesama pemilik tentang komponen yang paling cocok dipakai.

Sebab sejak awal saya tidak sedang mencari motor yang memanjakan pemiliknya. Saya hanya ingin memiliki motor yang karakternya tetap hidup, bahkan setelah puluhan tahun berhenti diproduksi. Dan menurut saya, selama masih ada orang yang rela merawat, memperbaiki, dan mempertahankannya, Honda Win tidak pernah benar-benar merepotkan. Ia hanya meminta satu hal yang mulai langka di zaman sekarang, yakni kesabaran.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Honda Win, Motor Paling Berjasa dalam Pembangunan Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version