Mitos itu Jangan Ditelan Mentah-mentah, tapi Digali Maknanya

Artikel

Avatar

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih kepada Ilus Trian Dayano yang telah menulis artikel berjudul “Saya Nggak Akan Pernah Percaya Mitos Jawa, Karena Nggak Ada yang Masuk Akal”, di Terminal Mojok. Patut diakui, judul artikel itu memang cukup menarik perhatian. Saya sebagai jamaah mojokiyah ingusan, mendadak jadi ikut terangsang untuk membalas lewat tulisan.

Saya nggak bermaksud keminter, sok teoritis, opo meneh ngintelek. Saya cuma ingin berbagi cerita, dan semoga bisa jadi alternatif berpikir seorang Ilus Trian yang sudut pandangnya lumayan tengik.

Ada dua alasan mengapa tengik jadi ikut-ikutan muncul di benakku. Pertama, soal cara berpikirnya terkait mitos, sehingga ia menganggap mitos itu tengik. Lalu kedua, karena kemalasannya untuk mencari rujukan soal mitos, hingga akhirnya melahirkan sebuah tulisan sok asik yang tentunya tak kalah tengik.

Yang patut khawatir sebenarnya adalah Ilus Trian sendiri, karena di sini ia lupa kalau menulis itu 90%-nya adalah membaca. Buah yang paling saya cemaskan dari semua itu adalah melekatnya, atau barang kali disusul populernya konotasi negatif pada kata mitos, di saat mitos itu sendiri sebenarnya punya banyak sisi menarik untuk diulik.

Tak kandani yo Mas Ilus. Nek awakmu manggon ning Batu, ketoke dolanmu kurang ngalor!

Sekali waktu, cobalah main ke Kabupaten Sragen, atau lebih tepatnya di Sangiran. Kalau sudah sampai di sana, pesanlah kopi atau susu jahe di angkringan dekat museum purbakala. Carilah orang-orang tua di sana, lalu cobalah ajak mereka ngobrol soal Balung Buta.

Balung Buta adalah istilah yang biasa dipakai orang tua di Sangiran merujuk pada benda purbakala. Dahulu orang-orang belum mengenal science atau ilmu pengetahuan. Maka dari itu mereka terkadang mendokumentasikan segala sesuatu di sekitarnya lewat sebuah cerita, yang kemudian diwariskan melalui bahasa tutur. Maklum, durung usum Instastory, Lur.

Begitu juga orang-orang tua di Sangiran. Dulu mereka tidak tahu kalau fosil itu adalah fosil. Ketika mereka tidak sengaja menemukan fosil di sawah, kebun, kali, atau tebing, mereka lantas menyebutnya sebagai Balung Buta.

Kurang lebih dua tahun lalu saya pernah diajak dosen menemani puluhan mahasiswa National Museum of Natural History, Perancis yang sedang belajar di Sangiran. Tak hanya menemani, tetapi aku juga diminta untuk ikut bergabung dalam salah satu kelompok penelitian yang beranggotakan lima orang. Kebetulan nama kelompok kami waktu itu adalah Myth Group atau Grup Mitos.

Baca Juga:  Mitos, meski Tidak Rasional, Tetap Merupakan Kunci Selamat dalam Mendaki Gunung

Tugas utama Grup Mitos waktu itu adalah berkenalan, beramah tamah, dan bertanya atau mencatat wawancara dengan orang tua soal fosil manusia, hewan, maupun tanaman purba, juga alat batu di Sangiran. Salah satu orang tua, inisialnya SYR, kalau tidak salah usianya hampir 65 tahun mengatakan bahwa sekarang ini dia sudah tahu kalau batu yang sering dikumpulkannya adalah fosil. Tapi, dulu ia mengenalnya sebagai Balung Buta.

SYR (kami menjulukinya Fossil Hunter) mengaku tahu Balung Buta secara turun temurun. Konon, dia menceritakan warisan kisah sesepuhnya, dulu Sangiran sempat dikuasai oleh raksasa yang akhirnya dikalahkan oleh seorang ksatria. Dalam sebuah pertarungan, ksatria itu melempar si raksasa ke langit hingga akhirnya jatuh dan hancur berkeping-keping. Tulang belulangnya berserakan dimana-mana sampai akhirnya ditemukanlah oleh orang-orang tua di Sangiran, hingga di kemudian hari diketahui sebagai fosil. Pengetahuan mereka soal fosil lantas semakin berkembang terlebih ketika antropolog bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald melakukan penelitian di Sangiran pada 1930an.

Aku paham, kalau mitos itu mungkin tidak masuk akal buat Ilus Trian. Kalau boleh menebak argumen yang bakal keluar dari mulutnya: ‘mana ada raksasa di dunia ini, apalagi ksatria yang mampu meninjunya sampai ke langit’. Tetapi, apa yang menarik dari pengalaman itu adalah, mitos atau legenda rupanya dapat menjadi bagian yang cukup penting dalam studi antropologi.

Di lain kesempatan,  saya pernah menghadiri presentasi Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, di Gedung Graha, LIPI, Mampang Prapatan, Jakarta. Kala itu, Eko menceritakan bahwa sejak 2006 dirinya telah melacak terjadinya tsunami di masa lalu (paleotsunami), khususnya di Pantai Selatan, Pulau Jawa. Hasil amatannya kemudian dipaparkan lewat film dokumenter berjudul ‘The Untold Story of Java Southern Sea’.

Menariknya, Eko ternyata juga bekerja menggunakan metode geomitologi. Dalam studi geomitologi, mitologi dipercaya mengandung informasi terkait peristiwa di masa lampau. Sementara legenda yang turut diamati Eko selama studi adalah pertemuan antara Nyi Roro Kidul dan Panembahan Senopati, Danang Sutawijaya. Konon, pertemuan itu diikuti letusan Gunung Merapi dan ombak besar di Laut Selatan, yang mana di kesempatan sama telah terjadi perang dengan Raja Pajang yakni Sultan Hadiwijaya.

Menurut Eko, dalam kisah itu memang tidak ada informasi terkait endapan paleostunami di sepanjang pantai amatannya mulai dari Lebak, Pangandaran, Kulon Progo, Pacitan, Lumajang, hingga Bali. Akan tetapi cerita itu ternyata menunjukan korelasi dengan sebuah peristiwa besar yang terjadi pada 1586. Kala itu, ada dua gempa raksasa dan tiga letusan gunung berapi, yaitu Ringgit, Kelud, dan Merbabu. Eko sendiri melihat catatan itu dari sebuah dokumen yang disebut Katalog Arthur Wichmann.

Baca Juga:  Untuk Deddy Corbuzier dan Orang-Orang yang Tidak Bangga Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar

Perlu diketahui bahwa masa kejayaan Danang Sutawijaya juga berlangsung di periode tersebut atau lebih tepatnya pada 1587 hingga 1601. Dugaan sementara Eko atas korelasi tersebut adalah, kemungkinan peristiwa alam coba dimanfaatkan untuk ‘membuktikan kesaktian’, di balik upaya sebenarnya yaitu strategi meningkatkan dukungan dan kepercayaan masyarakat untuk meraih kekuasaan.

Belajar dari dua hal tersebut saya selalu percaya bahwa mitos tak setengik yang dipikirkan Ilus Trian. Saya masih berpikir positif, barang kali Ilus Trian cuma belum bisa menangkap kebijaksanaan di balik sebuah mitos.

Sebagai contoh, seumpama Ibu mertua memberi larangan pada istrinya yang cantik untuk tidak keramas karena baru melahirkan, ya barang kali itu juga demi kesehatan anak. Toh, alasan Ibu Mertuanya juga masuk akal. Kalau rambut ibunya basah dan mengenai bayi, kan bahaya yang paling mudah diterka adalah masuk angin atau pilek. Mitosnya di mana coba? Namanya aja antisipasi. Bisa saja waktu rambut istrinya basah tiba-tiba anaknya menangis minta minum dan makan.

Atau di saat ibu mertuanya meminta dia dan istrinya ke dapur dahulu setelah ke luar rumah, mungkin pengetahuan itu juga diwarisi dari orang-orang jaman dahulu yang masih menggunakan kayu sehingga banyak arang dan abu di dapur. Lagian ada lo manfaat arang untuk menyerap racun. Ya siapa tahu, si Ibu mertua ingin Ilus Trian dan istri detoksifikasi bagian luar tubuh terlebih dahulu, sebelum kembali menimang anak.

Nggak usah salah paham, Bos, Ilus Trian. Kayaknya situ emang sering luput nangkap maksud dan tujuan. Ngomong-ngomong, saya belum menikah. Jadi, sekali lagi, terimakasih karena sudah berbagi pengalaman hidup berdampingan, dengan orangtua perempuan kesayangan.

BACA JUGA Takut Makan Buah Gara-gara Mitos Biji Buah yang Tertelan Waktu Masih Kecil.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.