Meski Punya Latar yang Mirip, Film Coco Lebih Terasa Nyelekit Dibanding Encanto

Meski Punya Latar yang Mirip, Film Coco Lebih Terasa Nyelekit Dibanding Encanto Terminal Mojok.co

Meski Punya Latar yang Mirip, Film Coco Lebih Terasa Nyelekit Dibanding Encanto (Akun Instagram Encanto Movie dan Pixar)

Encanto, film produksi Walt Disney Animation, baru saja dinobatkan sebagai pemenang dalam kategori Best Animated Feature Film di ajang Academy Awards ke-94 atau Oscar 2022. Bersamaan dengan kabar tersebut, komentar berupa “Encanto VS Coco“, kembali mencuat di media sosial. Setidaknya dari warganet Indonesia.

Jika dilihat secara utuh, memang ada beberapa kesamaan antara Encanto dan Coco. Wajar jika penonton Encanto, teringat pada film Coco yang tayang pada 2017.

Keluarga di Film Encanto (Akun Instagram Encanto Movie)

Persamaan tersebut antara lain berdasarkan tema (tentang konflik keluarga), latar (sama-sama berlatar Amerika Latin, meski beda tempat. Encanto di Kolombia, sementara Coco di Mexico), dan yang ketiga sama-sama memotret perjuangan ibu tunggal demi keberlangsungan hidup keluarga.

Perbedaan kemudian muncul jika kedua film ini dilihat secara utuh. Meski sama-sama menghadirkan kisah coming of age, tetapi bagaimana alur cerita dikemas, terasa sangat jauh berbeda.

Dalam semesta Encanto, diceritakan tentang sebuah keluarga yang mendapat karunia berupa kekuatan ajaib, setelah satu tragedi traumatik menimpa sang nenek. Anehnya, dari sekian anggota keluarga yang ada, hanya satu orang (cucu) yang tidak punya kekuatan ajaib. Namanya Mirabel. Lantaran tidak punya kekuatan ajaib, posisi Mirabel dalam keluarga pun sering kali tersisihkan. Terutama oleh neneknya.

Sebenarnya, jika melihat apa yang Mirabel alami, terutama bagaimana sikap neneknya yang begitu keras, penonton akan sangat mudah untuk merasa relate. Pasalnya, menjadi biasa di tengah lingkungan keluarga yang serbaistimewa tentu saja adalah satu beban berat yang menyakitkan untuk dilewati.

Dibandingkan, disisihkan, tidak dianggap, semua bisa terjadi. Lebih jauh, film ini pun menyinggung tentang bagaimana pentingnya mencintai diri sendiri.

Sayangnya, hal-hal menarik di atas, tidak dieksusi dengan baik. Dari konflik sampai penyelesaian rasanya terlalu terburu-buru. Akhirnya, ini malah tidak menimbulkan kesan mendalam. Jadi, konflik di dalam Encanto terasa sekadar ada, lalu selesai begitu saja. Beda dengan Coco.

Keluarga arwah di Film Coco (Akun Instagram Pixar)

Dalam film Coco, konflik yang dimunculkan sejak awal sudah langsung menghentak. Ketika cerita bergulir dan mulai memasuki konflik demi konflik, unsur ketegangannya benar-benar terasa. Konfliknya pun diceritakan dengan jelas meski memakai alur maju mundur.

Di Encanto maupun Coco, keduanya punya adegan yang menampilkan perdebatan antara nenek dengan cucu. Namun, entah kenapa perdebatan antara nenek dan cucu dalam film Coco lebih bisa sampai emosinya. Padahal kedua nenek dalam film tersebut sama-sama punya trauma yang jadi alasan mereka berlaku sedemikian keras.

Satu hal yang juga istimewa dari Coco adalah latar tempatnya yang bukan cuma indah, tetapi juga mengajak penonton untuk berimajinasi sejauh mungkin. Tidak tanggung-tanggung, sampai ke alam kematian.

Di Encanto, memang kamar anggota keluarga yang memiliki kekuatan ajaib, juga dipenuhi dengan pemandangan-pemandangan indah. Akan tetapi, ya gitu, hanya berperan sebagai tampilan.

Scene Miguel dan Mama Coco (Akun Instagram Pixar)

Kekuatan film Coco lainnya adalah bagaimana film ini mengemas sesuatu yang deep, tetapi tetap bisa menyenangkan untuk ditonton. Cerita dunia arwah ala Coco, benar-benar juara, sih. Pas nonton, saya langsung memikirkan banyak hal tentang kematian. Sampai sekarang, kalau nonton ulang, saya masih nangis ketika ceritanya sudah masuk ke dunia arwah.

Meski banyak pujian untuk Coco, bukan berarti tidak ada yang istimewa dari Encanto. Saya sendiri suka sekali dengan visual dalam film Coco. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Encanto, jelas Encanto lebih unggul.

Warna-warna cerah dan ceria yang ada dalam film Encanto, jadi satu hal yang memanjakan mata. Soundtrack-nya juga terasa lebih kekinian dan enak didengar meski liriknya sat-set-sat-set. Intinya, jika dibandingkan, Coco unggul dalam hal alur cerita. Sementara Encanto, unggul dari segi visual dan soundtrack.

Jika disuruh memilih, saya jelas ada di tim Coco!

Penulis: Utamy Ningsih
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version