Merayakan Tahun Baru Emang Nggak Perlu Pakai Terompet dan Kembang Api, Berisik!

Saya nggak suka merayakan tahun baru dengan terompet dan kembang api. Bukan, bukan karena itu dianggap haram, tapi karena berisik!

Artikel

Avatar

Terompet dan kembang api memang sudah menjadi tradisi ketika merayakan tahun baru masehi di berbagai belahan dunia. Orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi yang paling meriah dalam perayaan tahun baru, dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api. Entah siapa yang memulainya, tapi yang pasti ini bukan lah sebuah tradisi yang baru. Tidak terkecuali di Indonesia, yang juga menjadikan terompet dan kembang api sebagai tradisi perayaan tahun baru. Bedanya, masyarakat Indonesia tidak hanya meniup terompet dan menyalakan kembang api, tetapi juga memperdebatkannya.

Dalam sejarah Indonesia modern, perdebatan mengenai boleh tidaknya atau halal haramnya meniup terompet dan menyalakan kembang api sudah mendarah daging dalam masyarakat Indonesia. Ada yang bilang kalau meniup terompet itu budaya orang yahudi, dan menyalakan kembang api itu budaya orang majusi. Ya meskipun tidak begitu nyambung, tetapi banyak orang yang termakan juga dengan propaganda semacam ini. Bahkan di beberapa daerah, pemerintah setempat juga menghimbau untuk tidak meniup terompet dan menyalakan kembang api ketika perayaan tahun baru.

Propaganda mengenai meniup terompet itu budaya orang yahudi dan menyalakan kembang api itu budaya orang majusi tentu bukan propaganda baru di Indonesia. Propaganda ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang memulai dan membuat propaganda ini. Namun yang pasti, siapa pun yang membuat propaganda semacam ini, saya hanya mau bilang bahwa propaganda ini adalah propaganda yang sangat buruk dan usang.

Saya memang tidak suka dengan meniup terompet atau menyalakan kembang api ketika tahun baru. Namun bukan berarti saya sepakat dengan propaganda dan alasan orang-orang yang menganggap bahwa meniup terompet itu budaya yahudi atau menyalakan kembang api itu budaya majusi. Saya tidak suka dengan tiupan terompet dan ledakan kembang api ya karena berisik. Itu saja.

Baca Juga:  Resolusi Awal Tahun: Penting atau Malah Nggak Guna, sih?

Bertahun-tahun saya tidak bisa lepas dari kebisingan suara terompet dan kembang api setiap perayaan tahun baru. Kemana pun saya pergi ketika tahun baru, selalu saja ada suara bising terompet dan kembang api. Suara itu kadang susah ditebak dari mana datangnya, yang berujung dengan keterkejutan. Iya, saya sering sekali terkejut dengan suara terompet atau kembang api. Bahkan ada juga orang yang satu atau dua hari sebelum tahun baru sudah menyalakan kembang api yang bessar dan keras itu. Jujur saja, saya tidak suka dengan suaranya. Bahkan dengan bentuk kembang api di langit saja saya sudah tidak suka.

Memang dulu ketika saya kecil, saya suka sekali dengan meniup terompet atau menyalakan kembang api. Rasanya menyenangkan saat itu. Tapi semenjak saya dewasa, tradisi seperti itu menjadi tradisi yang sangat membosankan. Sudah membosankan, bikin berisik lagi. Coba lah bikin perayaan yang baru. Bikin secret party, gigs musik, atau minum-minum santai sambil bakar-bakar jagung di rooftop rumah kan juga lebih menarik untuk menikmati tahun baru. Daripada membuat kebisingan dengan tiupan terompet atau ledakan kembang api lho ya.

Setidaknya alasan penolakan saya terhadap terompet dan kembang api dalam perayaan tahun baru lebih logis, lebih masuk akal, dan harusnya lebih mudah diterima. Saya yakin, banyak juga orang seumuran saya atau bahkan di atas saya, yang juga risih dengan suara bising terompet dan kembang api, dan juga risih dengan suara bising propaganda busuk dan usang di atas. Jadi, seharusnya siapa pun yang menolak suara terompet dan ledakan kembang api di tahun baru, harusnya dengan alasan risih dengan suara bisingnya, bukan dengan alasan budaya orang ini orang itu.

Baca Juga:  Curahan Hati Petani Cabai

BACA JUGA Bukan Mantra Kunto Aji, Lagu Korea ini Bisa Menyemangati Kamu di Tahun Baru atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1

Komentar

Comments are closed.