Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan

Lindu Ariansyah oleh Lindu Ariansyah
9 Februari 2022
A A
Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan

Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat: 23 Esai Reflektif tentang Keimanan (mojokstore.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Judul: Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat
Penulis: M. Zaid Su’di
Penerbit: Buku Mojok
Tebal Halaman: 129 Halaman
Tahun Terbit : 2022

Belum apa-apa saya sudah gentar membaca judul buku ini: Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat. Pengambilan judul ini cukup representatif terhadap keseluruhan isi buku.

Buku ini memuat 23 esai reflektif seputar keimanan. Banyak uraian menarik yang berangkat dari berbagai referensi. Dari mulai kisah para nabi, laku para sufi, nukilan para tokoh dan ulama sampai anekdot-anekdot yang menggelitik sudut pandang normatif kita. Ada pula uraian yang berangkat dari reaksi atas keresahan-keresahan terhadap fenomena-fenomena sosial.

Membaca Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat membuat kita merenungkan kembali banyak hal. Nasihat para nabi, kritik sosial dan sentilan-sentilan humor yang tidak hanya jenaka namun juga kontemplatif.

Kritik terhadap kecenderungan sikap otoriter dalam laku beragama menjadi esai pembuka dalam buku ini. Merasa saleh tapi naif juga tidak semestinya dibenarkan. Percaya diri itu baik tapi rendah hati itu mulia. Kesalehan bukan saja soal taat namun juga tabiat.

Buku ini seperti berkata kepada kita untuk senantiasa belajar dan memperkaya sudut pandang. Agama adalah suatu hal yang final namun implementasinya perlu pembelajaran dari lahir hingga ke liang lahat.

Terdapat pula beberapa contoh peristiwa aktivitas keseharian yang menyimpan pembelajaran spiritual. Hal-hal sederhana acap kali membuahkan hikmah yang, sialnya, luput tidak kita petik.

Dalam Merasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berat, salah satunya, dicontohkan dalam tulisan mengenai pentingnya membuatkan kandang bagi hewan peliharaan dan kaitannya dengan toleransi hidup bertetangga. Seperti yang kita ketahui bersama, toleransi menjadi hal yang vital dalam laku sosial. Terlebih di negeri yang mayoritas muslim ini, hal-hal berbau keagamaan acap kali ternormalisasi berdasarkan perspektif satu golongan saja.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Di sini kita diingatkan lagi akan bahayanya melihat hanya dari satu sudut pandang saja. Pola pikir inilah yang melahirkan stereotip tanpa telaah yang matang. Generalisasi lahir dari kombinasi pemikiran konservatif dan impulsif. Terburu-buru menilai suatu hal tanpa tabayun. Memang, ketergesaan dapat membawa diri menjadi yang paling cepat. Namun perihal tepat, itu bukan balapan. Itu soal kematangan.

Hal-hal lain yang juga disoroti dalam buku ini adalah kritik terhadap fenomena sosial yang barangkali tidak kita sadari. Misalnya, kritik terhadap kualitas acara pengajian yang diselenggarakan oleh televisi yang cenderung entertainment daripada kajian mendalam. Model dakwah dengan “menjual” gaya teatrikal dan pertanyaan-pertanyaan normatif dari penonton yang dijawab secara dikotomis. Padahal kasus-kasus tertentu membutuhkan tinjauan mendalam dan bahkan menghasilkan jawaban yang relatif menyesuaikan posisi si penanya. Bukan semata-mata menggunakan satu dua dalil sebagai legitimasi jawaban cepat.

Kita diajak untuk tidak memandang suatu permasalahan serba hitam-putih dan skriptualistik. Melainkan melihat dari beragam perspektif serta menelusuri lebih banyak referensi. Tidak lagi menyitir ayat secara manasuka sesuai keperluan dan kehendak sekaligus membuka mata kita agar melihat ayat bukan semata redaksi namun juga interpretasi, kontemplasi serta implementasi.

Tentu kita tidak ingin memiliki pola pikir yang serupa kerja sakelar tunggal itu. Serba-biner. Toh, rasanya surga juga terlalu luas untuk dinikmati seorang diri. Bukankah itu yang Nabi Adam rasakan sebelum Siti Hawa hadir?

Ada pula beberapa kisah para nabi yang diuraikan dalam buku ini dengan menyesuaikan konteks peristiwa atau bahasan tertentu dan kita bisa banyak belajar dari suri tauladan mereka.

Penolakan atas rasa putus asa dan ketabahan Nabi Ayyub dalam menyikapi segala macam cobaan. Piwulang Nabi Sulaiman agar kita tidak berhati-hati dalam keduniawiaan. Serta alegori-alegori Nabi Khidir yang mengajarkan iman kepada qadha’ dan qadar dan kesabaran dalam menghadapi paradoks-paradoks kehidupan. Semua itu adalah pengajaran bagi kita semua. Suri teladan dari para nabi baiknya kita tekuri bukan sebatas kisah sejarah. Namun konkretnya, juga diamalkan dalam tata laku hidup sehari-hari.

Mengerti takdir adalah hal yang tak mudah. Beberapa tulisan dalam buku ini membuat kita berpikir mengenai takdir. Kapan kita harus berusaha menjemput takdir dan kapan harus menerima dan menyadari takdir. Pemaknaan nasib dan takdir kadang kala tertukar. Takdir sering kali dibilang irasional hanya karena berlainan dengan pengharapan. Manusia kadang lupa kalau kehendak Tuhan tidak terbatas pada hukum kausalitas. Anomali-anomali yang terjadi di jagad raya justru menandakan kemahakuasaan-Nya sebagai Sang Pencipta. Sebagaimana yang dapat kita pelajari dalam salah satu tulisan di buku ini yang membahas seputar pertemuan Nabi Khidir dan Nabi Musa serta tokoh-tokoh lainnya.

Buku ini juga mengulas sisi lain dari Rasulullah saw. yang kadang luput dari sudut pandang kita. Sebagai seorang nabi, pastilah membawa misi ketauhidan di muka bumi. Oleh karenanya, citra yang tampak umumnya sekadar pemberi fatwa perihal halal-haram saja. Padahal nabi pun juga manusia. Sisi humoris Rasulullah saw. bisa kita lihat dari bagaimana rileks beliau menyikapi tingkah laku Nuaiman bin Amr.

Selain itu, kita juga diingatkan untuk selalu menyayangi anak-anak. Sebab, anak-anak adalah kita yang nanti. Bagaimana kita mendidik anak, begitu pulalah bumi terawat.

Oleh karenanya, perlu hati-hati betul dalam bersikap kepada anak-anak. Ada dua tulisan dalam buku ini yang membahas tentang pengalaman pribadi Cak Zaid, si penulis buku ini dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan polos dari anaknya.

Menjelaskan suatu persoalan kepada anak-anak terlebih yang berkaitan dengan hal-hal yang konseptual perlu pengajaran runut sejak dalam definisi dan persepsi karena buntutnya bisa fatal karena menyangkut akhlak sang anak. Toh, agama juga bukan melulu perkara teologis. Keluhuran akhlak juga termasuk yang utama. Bukankah nabi tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak?

Terakhir, buku ini ditutup dengan tulisan yang mengantarkan kita untuk menelaah kembali bagaimana kita berdoa. Belajar dari etika Nabi Zakaria kala berdoa kepada Sang Khaliq. Dan sebagaimana pesan Rabi’ah al-Adawiyyah, seyogianya kita jangan menganggap doa sebagai sesuatu hal yang transaksional. Lebih-lebih kalau mengibaratkannya bak lampu Aladdin. Sekali gosok, kabul.

Bisa saja ada doa yang memang sengaja tidak dimakbulkan karena berpotensi mencelakakanmu. Doa-doa tolol yang terus-menerus kamu tangisi padahal ketidakmakbulan itulah yang menyelamatkanmu. Kita menyesali hal-hal yang telah hilang sampai melupakan apa yang masih kita miliki.

Kehilangan kadang memang tak adil. Tetapi, apa yang menyakitimu setelahnya sebetulnya bukanlah kepergiannya melainkan rasa memiliki yang masih kau genggam.

Mudah-mudahan, kita bisa lebih fleksibel dalam mengejawantahkan syukur. Sebab, rasa syukur adalah sebenar-benarnya kekayaan. Barang siapa kehilangannya, sengsaralah ia sepanjang hayat.

Toh, tanpa rasa syukur, manusia hanyalah monster.

Penulis: Lindu Ariansyah
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: Buku MojokMerasa Dekat dengan Tuhan Itu Godaan yang Berareview buku
Lindu Ariansyah

Lindu Ariansyah

Membawa bisingnya Jakarta di dalam darah, namun meninggalkan potongan hati yang retak di sudut Magelang. Seorang pengembara rasa yang kini merangkai kembali maknanya lewat kata-kata.

ArtikelTerkait

Parade yang Tak Pernah Usai Teriakan dari Mereka yang Dipinggirkan Terminal Mojok

Parade yang Tak Pernah Usai: Teriakan dari Mereka yang Dipinggirkan

7 Juni 2022
Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut Terminal Mojok

Biarkan Kematian Merayakan Kehidupan: Kisah tentang Maut dan Hidup yang Saling Bertaut

20 Januari 2023
BookScape Reading Club Gelar Diskusi Buku “Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa” Karya Mila Alkhansah di Kota Kendari

BookScape Reading Club Gelar Diskusi Buku “Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa” Karya Mila Alkhansah di Kota Kendari

5 November 2023
Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan untuk Berbagi Beban Kehidupan Terminal Mojok

Kehidupan Setelah Jam 5 Sore, Buku yang Mampu Berikan Pelukan dan Berbagi Beban Kehidupan

30 Juni 2022
Bearish dan Bullish, Novel Bisnis Digital dengan Genre Misteri Terminal Mojok

Bearish dan Bullish, Novel Unik Gabungkan Tema Bisnis Digital dan Genre Misteri

1 Oktober 2022
the poz says ok

Belajar tentang Penerimaan Diri dan Pilihan untuk Bangkit dari The Poz Says OK

12 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.