Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Sapa Mantan

Merapikan Kenangan Mantan dengan Metode Marie Kondo

Yasa Ekadanta oleh Yasa Ekadanta
28 Juni 2019
A A
Bahasan 'Ditinggal Nikah Mantan' Makin Usang dan Sudah Saatnya Ditinggalkan terminal mojok.co

Bahasan 'Ditinggal Nikah Mantan' Makin Usang dan Sudah Saatnya Ditinggalkan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pada satu titik, usai membaca The Life Changing Magic of Tidying-Up, saya seolah mendapatkan pencerahan, entah lewat matahari siang yang muncul dari celah-celah jendela atau lampu kamar yang cuma berdaya tiga watt. Saya pikir dengan metode yang dicetuskan oleh Marie Kondo, mengapa tidak mencoba membereskan kenangan mantan?

Toh, proses ini, nantinya akan lebih mudah daripada menyortir baju. Soalnya, dengan metode spark joy, kita harus membedakan antara baju-baju yang mengeluarkan kebahagiaan dengan yang tidak. Sementara itu kenangan mantan? Ah, semuanya pahit, bukan? Dulu memang kenangan-kenangan itu memberikan saya kebahagiaan, tetapi sekarang tidak lagi.

Jadi, berbekal buku tersebut dan serial terbaru Marie Kondo yang tayang di Netflix, Tidying Up with Marie Kondo, maka, seraya menghela napas, saya akan mulai untuk membersihkan kenangan-kenangan yang berserakan itu. (dan saat menulis ini, saya sedang menahan banjir keputusasaan yang ingin menyeruak dari dada. Ah, kenangan).

Pertama-tama, saya kembali pada saat pertama kali kami bertemu. Sederhana saja, kok, pertemuan itu. Hanya sebuah pertemuan yang berlangsung di tempat kursus. Inginnya sih, bertemu di peron kereta, kafe, atau museum sekalian supaya manis di cerita. Nyatanya, hidup tidak selalu romantis.

Kami masih kanak pada saat itu. Saya ingat bahwa kami berdua mengenakan seragam sekolah yang sudah bercampur keringat sejak pagi. Aroma anak-anak, aroma matahari. Ya tidak ada yang spesial seharusnya, kecuali saat dia bilang bahwa dia suka menyisihkan waktu luang dengan nonton Amélie berkali-kali di laptop.

Bayangkan. Anak Sekolah Menengah Pertama. Nonton film Amélie Poulain. Kebetulan saya juga sudah tahu sosok itu, dan memang hanya saya saja yang tahu di kelas itu. Apa tidak gila? Apa ini bukan pertanda jodoh yang tertunda?

Ingatan kemudian berjalan, menyusuri hari-hari yang kami lewati. Mengobrol bersama. Cerita tentang keluarga. Kemudian berdebat ala anak remaja. Mengobrol lewat BBM dan pesan (maaf, waktu itu belum ada WhatsApp messenger apalagi Instagram stories).

Hubungan kami sebetulnya aneh. Soalnya, saya pernah nembak dia, kemudian ditolak dengan alasan yang tidak jelas, lalu selang dua hari kemudian, dia menerimanya. Tidak lama kami putus karena merasa hubungan ini lebih asyik kalau dijalankan sebagai teman, tetapi dua minggu kemudian balikan lagi. Sampai tiga tahun lalu.

Baca Juga:

Tolong, Jadi Pengajar Jangan Curhat Oversharing ke Murid atau Mahasiswa, Kami Cuma Mau Belajar

Facebook Adalah Seburuk-buruknya Tempat Curhat Soal Kulit dan Minta Rekomendasi Skincare

Kami memang tumbuh bersama, tetapi beberapa hal rupanya tumbuh ke arah berbeda. Misalnya, persepsi tentang hidup, pandangan karier, cara menyelesaikan masalah, dan untungnya tidak termasuk perbedaan pilihan dalam pemilu. Itulah yang membuat kami saling meragu dan dia semakin yakin untuk mundur. Lalu begitulah, kisah mengapa kami berdua jadi orang asing.

Lucu ya? Bagaimana mendeskripsikan orang asing yang tumbuh bersama? Namanya apa kalau bukan pura-pura gila?

Oh ya, metode Marie Kondo ini saya gunakan pula untuk menyortir beberapa barang. Ya, dia pernah memberikan saya barang-barang berguna. Misalnya, tas Eiger saat ulang tahun. Terus, oleh-oleh pertukaran pelajar berupa karuta dan boneka daruma. Ada pula buku 7 Habits of Highly Effective People-nya Stephen R. Covey yang waktu itu dia berikan saat saya galau memilih jurusan kuliah.

Saya mau membuang barang-barang itu, tetapi ah, semuanya masuk kategori spark joy. Misalnya seperti boneka daruma. Boneka yang pernah diberikan nenek Nobita kepada cucunya yang pemalas ini akan selalu berdiri walau dijatuhkan. Penyemangat untuk saya yang sering menyerah. Kalau boneka daruma saja selalu berusaha berdiri, mengapa kamu tidak?

Lalu, soal kenangan. Dipikir-pikir, rasa perih yang tersisa saat dia meninggalkan saya justru merupakan penyemangat. Berkatnya, saya jadi semakin gigih mengejar karier, memperbaiki kehidupan yang tadinya berjalan agak lambat karena terseok-seok rasa kasmaran.

Maka, beginilah jadinya saya. Seseorang yang lebih sukses, tetapi merasa kosong. Kuat, tetapi akan jatuh bila tersentuh kenangan tentang mantan. Dan hal-hal kontraktif lainnya.

Pada akhirnya, metode Marie Kondo hanya menyisihkan beberapa barang kenangan mantan seperti tiket nonton bekas, pesan-pesan singkat, dan struk minimarket. Lainnya? Masih tertinggal. Termasuk kenangan kenangan.

Maaf, Marie Kondo. Mungkin Anda lupa bahwa beberapa hal memang spark joy sekaligus spark sadness, alias menimbulkan kesedihan. Kalau sudah begitu, menurut Anda, saya harus tetap menyimpannya atau membuangnya saja?

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2022 oleh

Tags: Curhatkenangan mantanMarie Kondomerapikan kenangan
Yasa Ekadanta

Yasa Ekadanta

ArtikelTerkait

makhluk halus

Pledoi untuk Makhluk Halus yang Selalu Terpojokkan

16 Agustus 2019
habermas

Menerapkan Rasionalitas Komunikatif Habermas Pada Hubungan Sepasang Kekasih

16 Agustus 2019
ngidam

Apa Pun Ngidamnya, Ojek Online Solusinya

3 Agustus 2019
lupa nama

Aku Lupa Namamu, Tapi Inget Mukamu Kok

14 Agustus 2019
kantin

Kantin Kejujuran dan Perilaku Darmaji (Dahar Lima Ngaku Siji)

29 Juli 2019
ukhti

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

23 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.