Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

Mita Berliana oleh Mita Berliana
23 Agustus 2019
A A
ukhti

ukhti

Share on FacebookShare on Twitter

Rasanya sekarang jubah, kerudung yang menjuntai menutupi dada, bahkan cadar sudah mulai diterima di masyarakat dan agaknya mulai jadi tren. Punya nggak sih kamu temen yang bercadar namun masih pajang foto di medsos pamerkan cadar bulu matanya yang lentik indah? Kemudian pasang caption tentang “cinta halal”, “jodoh”, dan diksi lain yang bersinonim.

Terserah sih itu hak segala bangsa dan oleh sebab itu … maka kalian mau berjubah kek, kerudung panjang kek, cadar kek terserah. Itu hak kalian. Di sini aku mau menyinyiri mengkritik orang yang berjubah namun pamer, yang kerudung menutup dada pamer, yang bercadar pamer. Emang sih, semua tergantung niatnya dan kita sebagai netizen maha benar nggak tahu dong maksud kamu bercadar tapi pajang foto sana-sini terus pakai caption yang kesannya ngebet banget dihalalin itu apa?

Muslimah bercadar bukanlah suatu masalah, bisa dibilang itu hak asasi manusia. Aku hanya tidak tahan melihat ukhti bercadar tapi pajang-pajang foto di medsos dan centil sana-sini, biar apa? Bukankah tujuan bercadar ialah agar tidak terlihat bagi lelaki yang bukan mahromnya. Lah kalau cadaran tapi pajang foto di medsos apa nggak “setali tiga uang” jadinya? Yaa kecuali akun medsosnya khusus akhwat, nevermind.

Terus lagi, ukhti-ukhtiku yang pakai jubah, kerudung panjang, pamerin jubah kalian ke orang-orang itu biar apa? Menarik? Duh, tolong, kalian pakai kayak gitu tujuannya agar tidak terlihat, kalau kalian pamerin malah kelihatan dong. Jadi sama aja. Atau kalian mau menarik ikhwan-ikhwan soleh? Hmmm. Ikhwan-ikhwan soleh juga tahu mana yang sholehah beneran mana yang #sensor#.

Sekali lagi ya, aku tidak menjudge ukhti-ukhtiku yang bercadar, berjubah, ataupun berkerudung panjang. Kutegasin, aku hanya tidak tahan melihat orang-orang yang menggunakannya hanya sebagai “tren” atau “menggaet” ikhwan-ikhwan.

Ada lagi. Aku jadi ingat saat ngopi bareng seorang teman seperjuangan anggota pers (masih magang). Kebetulan dia adik tingkatku di perkuliahan. Dia bercerita bahwa dirinya senang sekali mendengarkan kajian dan suatu hari temannya mengajak untuk datang kajian di masjid kampus. Betapa adik tingkatku itu mendapatkan sinisme berupa pandangan sebelah mata hanya karena dia mengenakan celana, tunik, dan kerudung yang tak sepanjang mereka yang ada di sana. Sejak saat itu, adik tingkatku sungkan untuk datang lagi dan memilih mendengarkan kajian lewat YouTube di kamarnya.

Sebetulnya, ukh, akh, cerita yang ditemani kopi dan disuguhi senja itu menabokku. Menabokku dengan keras. Iya, aku pernah ketika aku masih sangat alim dan belum mendapatkan pertentangan dari orang-orang sekitarku, aku pernah memakai jubah dan kerudung panjang. Saat itu, melihat muslimah bercelana pun aku akan memandangnya dengan “ih”, “kok pake celana sih? Sama aja dong auratnya keliatan”, apapun itu pokoknya ngedumel sendiri, membatin. Malu, aku sangat malu ketika iman itu turun dan diterjang ombak-ombak pertentangan dari orang-orang terdekat, kerudungku sudah tidak sepanjang dulu bahkan jubah sudah kutanggalkan (maksudnya sekarang pakai rok, bukan terusan lagi).

Suatu ketika aku memakai celana kemudian berfoto lalu aku upload ke medsos, betapa aku banjir nyinyiran netizen yang maha benar. ahahaha. Pernah juga aku di liburan semester, sengaja datang ke kampus untuk memenuhi panggilan untuk berkumpul bersama teman-teman dan dosen dan memakai celana dengan latar belakang yhaaa hanya pengen pakai celana. Duh, aku dipandang dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh seorang temanku, ukhti yang berkerudung panjang kali lebar dan berjubah. Ditambah, dia menyapaku tidak seperti biasanya. Dia melempar senyum kecut setelah mengamini sapaanku. Hiyaaa,hiyaaa. Karma is real~

Baca Juga:

Tolong, Jadi Pengajar Jangan Curhat Oversharing ke Murid atau Mahasiswa, Kami Cuma Mau Belajar

Alasan Mengapa Anak Madura yang Kuliah di Jakarta Lebih Sulit Menemukan Pasangan ketimbang yang Kuliah di Jogja

Sejak dipandang sebelah mata dan atas cerita pengalaman adik tingkatku, tidak! Tidak lagi aku memandang sebelah mata muslimah yang memakai celana ataupun berkerudung pendek tidak menutup dada. Benar, sekali lagi itu hak kalian para muslimah mau gaya apapun yang kalian pakai. Semuanya memang proses dan proses tiap orang tidaklah sama, jadi tidak boleh menghakimi. Yang benar itu bukan dihakimi dengan dipandang sebelah mata, tapi ajaklah pelan-pelan untuk hijrah dalam berpakaian dan istiqamah. Minimal dengan ukhti-ukhti memberi “tempat duduk” pada yang muslimah bercelana pada kajian di masjid misal atau kajian di mana pun. Yang bercelana juga nggak boleh minder mentang-mentang yang dateng pada “macak” ukhti-ukhti semua. Inget, tujuannya adalah mendengar dan belajar di kajian tersebut.

Terus ya ukhti-ukhtiku yang bercadar. Aku pernah nemu kasus sih, ya semoga nggak terulang lagi. Ada muslimah bercadar sedang salat berjamaah bersama kawan-kawannya—laki-laki dan perempuan. Tidak ada sekat. Yang mengherankan adalah salah satu dari jemaah salat itu ada yang bercadar. Nah loh, mentang-mentang ada ikhwan di sana cadarnya malah dipakai sholat. Loh loh, positive thinking, mungkin orangnya belum mengerti, sudah tugas kita bagi yang mengerti untuk memberi tahu.

Begini ya teman-temanku, saat kita mengambil keputusan selalu ada tanggung jawab yang mengikuti. Sama ketika kamu mengambil keputusan untuk berkerudung panjang, komitmen pakai jubah, dan pakai cadar. Ada tanggung jawab yang mengikuti kamu, ada aturan-aturannya, bahkan ada nyinyiran netizen atau orang-orang yang bikin kamu goyah. Jadi, bukan cuma buat gaya-gayaan doang. Iya, aku tahu, pelan-pelan, berproses, tapi jangan kelamaan.

Aku menulis ini bukan untuk menggoyahkan kalian atau mengajak kalian meninggalkan kerudung panjang, jubah, dan cadar. Tidak ya, gaes. Aku juga tidak menghakimi ukhti-ukhti. Sekali lagi, aku hanya tidak suka hal-hal itu disalah gunakan. Jadi, gunakanlah semestinya. Sudah begitu saja. Sekian. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2019 oleh

Tags: agamacinta halalCurhatjodohPernikahanukhti
Mita Berliana

Mita Berliana

Anak pangan tapi jarang makan. Hobi nulis dan tidur. Bisa kenalan lewat ig @berliana_mita.

ArtikelTerkait

Hukum Poligami Sekaligus Tata Cara Melakukannya Seperti yang Viral di Medsos terminal mojok.co

Kekeliruan pada Kartu Undangan Pernikahan yang Tak Kita Sadari

7 Februari 2020
Mengubah Redaksi Azan dengan Seruan Jihad Itu Randomnya Minta Ampun terminal mojok.co

Mengubah Redaksi Azan dengan Seruan Jihad Itu Randomnya Minta Ampun

4 Desember 2020
Pernikahan Madura Adalah Petaka Besar Buat Introvert (Unsplash)

3 Fakta yang Membuat Pernikahan di Madura Adalah Petaka Besar Bagi Cowok Introvert

30 April 2024
driver ojol

Curhatan Seorang Sarjana yang Melamar dan Bekerja Sebagai Driver Ojol

29 Juli 2019
habermas

Menerapkan Rasionalitas Komunikatif Habermas Pada Hubungan Sepasang Kekasih

16 Agustus 2019
lelaki

Surat Terbuka Dari Lelaki Putus Asa Untuk Wanita yang Akan Dilamar Seseorang

30 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama Kali Naik Bus Harapan Jaya dari Semarang ke Blitar: AC Bocor, Ban Pecah, tapi Snack Melimpah

Pertama Kali Naik Bus Harapan Jaya dari Semarang ke Blitar: AC Bocor, Ban Pecah, tapi Snack Melimpah

8 Desember 2025
Derita Users Android, Nggak Pakai iPhone Terbaru eh Dikucilkan (Unsplash)

Android Bikin Saya Jadi Minoritas dan Dikucilkan, tapi Saya Bersyukur Bebas Utang dengan Tidak Memaksakan Diri Membeli iPhone

8 Desember 2025
Kasta Tumbler dari yang Wajib Dibeli sampai yang Harus Dihindari, Harga Mahal Belum Tentu Terjamin Kualitasnya

Kasta Tumbler dari yang Wajib Dibeli sampai yang Harus Dihindari, Harga Mahal Belum Tentu Terjamin Kualitasnya

8 Desember 2025
Pindang Tetel: Makanan Khas Pekalongan yang Nggak Masuk Akal tapi Wajib Dijajal

Pindang Tetel: Makanan Khas Pekalongan yang Nggak Masuk Akal tapi Wajib Dijajal

8 Desember 2025
Sate Klatak Pak Jupaini Jogja: Rasanya Nggak Kalah dengan Pak Bari dan Pak Pong, dan Amat Cocok untuk Pekerja Kantoran

Sate Klatak Pak Jupaini Jogja: Rasanya Nggak Kalah dengan Pak Bari dan Pak Pong, dan Amat Cocok untuk Pekerja Kantoran

6 Desember 2025
3 Alasan Saya Lebih Senang Nonton Film di Bioskop Jadul Rajawali Purwokerto daripada Bioskop Modern di Mall Mojok.co

3 Alasan Saya Lebih Senang Nonton Film di Bioskop Jadul Rajawali Purwokerto daripada Bioskop Modern di Mall

5 Desember 2025

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=HZ0GdSP_c1s

DARI MOJOK

  • Sayonara, JogjaROCKarta
  • Pentingnya Cadangan Pangan Beras di Daerah agar Para Pimpinannya Nggak Cengeng Saat Darurat Bencana
  • Liburan Menyenangkan di Obelix Hills Jogja, Nikmati Sunset Sambil Ngopi hingga Live Music di Akhir Pekan
  • Pengalaman Saya Kuliah di 2 Kampus Terbaik Jogja: Menjadi Liar di UNY, Menikmati Kasih Sayang Dosen dan Menjadi Mahasiswa Tertib di UAD
  • ILUNI UI Gelar Penggalangan Dana untuk Sumatra lewat 100 Musisi Heal Sumatra Charity Concert
  • Lagu Sendu dari Tanah Minang: Hancurnya Jalan Lembah Anai dan Jembatan Kembar Menjadi Kehilangan Besar bagi Masyarakat Sumatera Barat


Summer Sale Banner
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.