Ada satu hal yang dulu saya kira sederhana: pindah dari Bojonegoro ke Malang untuk kuliah. Dalam bayangan saya, perpindahan itu hanya soal alamat baru, kos baru, kampus baru, dan rutinitas yang berubah. Saya pikir tantangannya paling-paling hanya soal adaptasi jadwal kuliah, tugas, dan kehidupan sebagai mahasiswa rantau.
Ternyata saya salah. Pindah kota rupanya bukan sekadar memindahkan badan dan barang bawaan. Ia juga memindahkan kebiasaan, selera, cara mendengar, bahkan cara bertahan hidup dari hal-hal kecil yang selama ini terasa biasa. Dan, justru dari hal-hal kecil itulah saya mengalami apa yang sering disebut orang sebagai culture shock.
Salah satu culture shock yang paling membekas adalah soal bahasa. Awalnya saya anggap bahasa adalah hal yang paling aman karena sama-sama menggunakan bahasa Jawa. Namun, saya salah, ternyata ada perbedaan logat, intonasi, dan rasa bahasa yang cukup terasa. Imbuhan seperti -nem dan -em yang biasa saya gunakan terdengar asing bagi orang Malang, begitu juga dengan beberapa kosakata seperti “menyok” yang disebut “puhung” dan “ote-ote” yang dikenal sebagai “weci.”
Tentu culture shock semacam itu awalnya bikin nggak nyaman, tapi lama-kelamaan mulai terbiasa juga. Ketidaknyamanan itu juga berlaku untuk hal-hal di Malang yang lebih baik daripada Bojonegoro. Awalnya memang nggak nyaman, tapi lama kelamaan saya malah menyadari betapa nggak nyaman hidup di tempat asal saya Bojonegoro.
Cuaca Malang menyadarkan saya betapa panas Bojonegoro
Selain bahasa, culture shock pertama yang awal-awal saya rasakan adalah cuaca. Sebagai orang Bojonegoro, saya tumbuh dalam suhu yang kadang terasa seperti bentuk ujian kesabaran dari alam.
Panas di Bojonegoro bukan sekadar kondisi cuaca, tapi sudah seperti bagian dari identitas daerah. Siang hari di sana sering kali terasa sangat akrab dengan peluh, matahari yang menyengat, dan hawa yang membuat orang ingin cepat-cepat mencari tempat teduh. Bayangkan saja, suhu lebih dari 30 derajat celsius sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Bojonegoro.
Jadi ketika saya pindah ke Malang, hal pertama yang paling saya rasakan justru bukan kampus, bukan jalanan, bukan juga suasana kotanya, melainkan udaranya. Malang terasa jauh lebih adem.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar biasa saja. Tapi buat saya, ini cukup mengejutkan. Saya seperti menemukan cara hidup baru: keluar pagi tanpa langsung merasa disetrika matahari, malam yang benar-benar dingin, dan udara yang tidak selalu terasa sedang punya masalah pribadi dengan kulit manusia. Saya sampai sempat berpikir, jangan-jangan selama ini saya memang hidup di oven.
Perbedaan cuaca ini mungkin terdengar sederhana, tapi efeknya cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ritme hidup terasa berbeda. Di Bojonegoro, panas membuat banyak aktivitas terasa lebih melelahkan. Sementara di Malang, udara yang lebih ramah seperti memberi ruang untuk bergerak sedikit lebih nyaman. Dari sini saya sadar, cuaca ternyata bukan cuma urusan suhu. Ia juga ikut menentukan cara kita menjalani hari.
Saya kaget harga makanan yang lebih bersahabat
Culture shock yang paling dekat dengan realitas mahasiswa adalah harga makanan. Kalau ada satu hal yang sangat cepat menentukan kualitas hidup anak rantau, itu bukan semangat akademik, bukan pula filosofi hidup. Tapi, pertanyaan yang jauh lebih mendasar: makan hari ini habis berapa?
Sebagai mahasiswa, saya cukup cepat menyadari bahwa urusan makanan bukan sekadar kebutuhan, tapi bagian dari strategi bertahan hidup. Dan, di titik inilah Malang memberi saya kejutan yang cukup menyenangkan. Saya merasa harga makanan di Malang justru sering kali lebih ramah di kantong daripada yang saya bayangkan, bahkan terasa lebih murah dibanding yang biasa saya temui di Bojonegoro.
Bayangkan saja, di Malang banyak sekali warung prasmanan yang apa-apa ambil sendiri mulai dari nasi hingga lauk. Yang harganya kadang ga sampe 10 ribu rupiah. Yang paling culture shock bagi saya adalah penjual bakso. Di Bojonegoro, bakso biasa dihidangkan langsung oleh penjualnya. Di Malang tidak. Kita sebagai pembeli melayani diri kita sendiri, ambil bakso sendiri, racik sendiri. Dan harganya? Kita yang nentuin sendiri. Udah kayak all you can eat versi kaki lima.
Di momen seperti itu, saya merasa hidup di kota rantau ternyata bisa sedamai ini Pengalaman ini juga membuat saya sadar bahwa kenyamanan tinggal di sebuah kota tidak selalu ditentukan oleh hal-hal besar seperti fasilitas modern atau tempat nongkrong yang ramai. Kadang, kenyamanan justru datang dari hal sederhana bisa makan enak tanpa merasa sedang mengambil keputusan finansial besar. Dan sebagai mahasiswa, saya rasa tidak ada bentuk adaptasi yang lebih cepat diterima tubuh dan pikiran selain makanan yang terjangkau.
Penulis: Moch. Fadhil Reiza Putra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kota Malang Mirip Bandung: Sama-Sama Adem dan Sejuk, tapi Lebih Rapi dan Terawat.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
