Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Menjelaskan Deflasi dengan Bahasa Sederhana, Fenomena yang Nggak Kalah Mengerikan dari Inflasi

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
9 Oktober 2024
A A
Memahami Deflasi dengan Bahasa Sederhana, Fenomena yang Nggak Kalah Mengerikan dari Inflasi Mojok.co

Memahami Deflasi dengan Bahasa Sederhana, Fenomena yang Nggak Kalah Mengerikan dari Inflasi (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jangan percaya pemerintah, tidak ada yang bisa diapresiasi dari fenomena deflasi 5 bulan berturut-turut yang terjadi di Indonesia.

Ketika sebuah negara mengalami ketidakstabilan ekonomi, penyakit yang pertama kali dicoba untuk diantisipasi adalah inflasi. Wajar saja, inflasi merupakan salah satu fenomena ekonomi yang indikatornya mudah sekali dirasakan: kenaikan harga-harga barang secara agregat. Maksudnya bagaimana tuh? Artinya, kenaikan harga itu terjadi bukan hanya pada satu komoditas, tapi juga komoditas lainnya. Terutama, komoditas yang berhubungan dengan kebutuhan dasar seperti beras atau bahan bakar minyak. Kenaikan komoditas ini kemudian mempengaruhi kenaikan barang atau jasa lainnya.

Sebagai gambaran, saat inflasi terjadi, nilai uang yang kita miliki jadi menurun, sehingga uang yang dimiliki saat ini hanya bisa membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya. Contohnya, Sebelum terjadi inflasi kita bisa bisa membeli sepiring nasi dengan harga Rp10.000. Saat terjadi inflasi, mungkin kita membutuhkan Rp12.000 untuk membeli sepiring nasi yang sama.

Inflasi bisa disebabkan oleh beberapa hal. Misal, meningkatnya biaya produksi (bahan baku, upah, energi), meningkatnya permintaan barang dan jasa, atau jumlah uang yang beredar lebih banyak dibandingkan jumlah barang yang tersedia. Secara sederhana, inflasi membuat harga-harga naik dan daya beli uang menurun.

Efek domino dari inflasi ini sangat dirasakan dari sisi konsumen, karena daya beli mereka tidak mampu mengimbangi kenaikan harga yang tidak terkendali. Bila diteruskan, dampaknya akan dirasakan oleh sektor usaha. Sektor-sektor usaha jadi lesu karena masyarakat tidak mampu menjangkau bahan-bahan yang diproduksi oleh sektor usaha.

Nah, ini baru inflasi. Padahal dalam ekonomi  ada satu fenomena ekonomi yang dari sisi konsumen terlihat positif tapi punya daya rusak yang cukup tinggi bagi perekonomian secara makro. Fenomena itu adalah deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa Indonesia telah mengalami deflasi sejak bulan Mei 2024. Kalau kita mendengar perkataan beberapa menteri seperti Sri Mulyani yang mengatakan itu tren positif atau Airlangga yang menyebutkan bahwa deflasi jadi tanda suksesnya pemerintah kendalikan harga, maka sungguh nalar saya sebagai sarjana ekonomi dijungkir balikan oleh kedua statement tersebut.

Perumpamaan deflasi secara sederhana

Secara sederhana, deflasi adalah penurunan harga barang atau jasa secara agregat. Jadi harga-harga semuanya pada turun. Ya kebalikan dari inflasi itu sendiri. Seperti yang saya sebut sebelumnya, deflasi ini terlihat positif apabila dilihat dari sisi konsumen. Tapi, persoalannya, bagaimana jika penurunan harga tersebut terjadi karena harga barang atau jasa yang ditawarkan tidak laku atau konsumennya memang nggak mau beli? Lho kok bisa?

Mudahnya kita ilustrasikan ke dalam sebuah kantin sekolah. Di sebuah kantin sekolah terdapat beberapa pedagang, sebut saja pedagang gorengan, cireng, es teh, nasi kuning, cilok, dan nasi goreng. Para pedagang itu selama berhari-hari jualannya tidak laku. Mereka kemudian berinisiatif menurunkan harga dagangan mereka supaya dagangannya laku. Tapi sayangnya, dagangan mereka tetap tidak laku. Usut punya usut, dagangan mereka tidak laku karena para siswa di kantin tidak diberi uang saku karena ada yang sudah bawa bekal. Hal itu membuat mereka jadi nggak mau jajan di kantin.

Baca Juga:

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memulai Usaha Sewa Ruko agar Tidak Rungkad seperti Orang Tua Saya

Orang-orang Tetap Nonton Konser di Tengah Kondisi Ekonomi yang Nggak Baik-baik Aja, Inikah Fenomena Lipstick Effect?

Ketika situasi ini terjadi berlarut-larut, para pedagang akan mengalami kerugian bahkan kebangkrutan. Saat terjadi kebangkrutan, para pedagang jadi tidak bisa membayar sewa kepada pihak sekolah. Imbasnya sekolah pun akan berkurang pendapatannya dari retribusi para pedagang di kantin. Ilustrasi ini adalah gambaran sederhana dari fenomena deflasi.

Untuk situasi yang dihadapi oleh Indonesia, deflasi terjadi karena daya beli masyarakat menurun. Lalu pertanyaannya, kenapa kok daya beli masyarakat saat ini menurun?

Menelisik alasan daya beli masyarakat Indonesia menurun

Daya beli menurun diakibatkan karena masyarakat mulai selektif dalam membelanjakan uang yang diperolehnya. Ini imbas dari pendapatan masyarakat yang sedikit tapi porsi terhadap beban pajak yang mereka bayarkan makin bertambah. Retribusi seperti PPN, pajak bumi dan bangunan, dan berbagai iuran sosial macam BPJS dan Tepera membuat pendapatan mereka makin berkurang. Kondisi itu kemudian membuat mereka menahan pendapatan mereka untuk membeli barang atau jasa yang bersifat sekunder atau tersier.

Selain itu, fenomena judi online di kelas menengah bawah juga membuat perputaran uang di sektor rill makin sedikit. Uang yang sejatinya seperti air sebagai sumber kehidupan, tapi malah disumbat dan dialihkan ke sektor-sektor nonriil. 

Perilaku untuk tidak menaruh atau membelanjakan uang ke sektor riil juga marak dilakukan oleh kalangan kelas atas. Mereka lebih tertarik menaruh uangnya di pasar sekunder atau derivatif ketimbang berinvestasi ke sektor riil. Mereka lebih memilih untuk mengamankan uang daripada membelanjakannya.

Kalau kondisi ini tetap dibiarkan, sektor usaha jadi lesu. Ujung-ujungnya memangkas biaya produksi jadi salah satu solusi, PHK besar-besaran tidak bisa terhindarkan di perusahaan padat karya atau manufaktur. Nah kalau sudah begitu, tentu masyarakat biasa yang terkena dampaknya. Pengangguran dan kemiskinan pun akhirnya meningkat.

Jadi aneh betul, fenomena deflasi yang 5 bulan berturut-turut ini kok dibilang kondisi yang positif. Seharusnya pemerintah mikir. Masyarakat yang makin pelit ini bukan karena nggak doyan belanja, tapi memang karena mereka lebih selektif untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Ketidakpastian yang salah satu sebabnya karena pemberlakuan kebijakan yang kebanyakan absurd. 

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Ketika Ekonomi Indonesia Sedang Nggak Baik-Baik Saja, UMKM Bisa Menjadi Sumber Harapan untuk Hidup Nyaman

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2024 oleh

Tags: deflasiekonomi indonesiainflasikondisi ekonomi
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Dana Darurat yang Perlu Disiapkan Kelas Menengah agar Bisa Selamat Menghadapi 2025 Mojok.co

Dana Darurat yang Perlu Disiapkan Kelas Menengah agar Bisa Selamat Menghadapi 2025

18 November 2024
4 Tipe Pembeli di Warung Sembako yang Nano-nano terminal mojok.co

Indomaret dan Alfamart Sama Saja: Apalagi Dalam “Melibas” Warung di Sekitarnya

6 Juli 2019
Bunga Tabungan 0 Persen: Menabung Pangkal Kaya Tak Lagi Relevan

Bunga Tabungan 0 Persen: Menabung Pangkal Kaya Tak Lagi Relevan

7 September 2022
Wacana PNS Naik Gaji Jadi Rp9 Juta: Saran yang Perlu Dipertimbangkan agar Tepat Sasaran kenaikan gaji asn single salary ASN

Unpopular Opinion: Kenaikan Gaji ASN 2024 8 Persen Itu Kecil, Nggak Kerasa, Bos!

18 Agustus 2023
Bukan Sekretaris, tapi Tugas Bendahara Adalah yang Terberat di Masa Sekolah terminal mojok.co

Inflasi, Penyebab Negara Tidak Mencetak Uang yang Banyak untuk Mengatasi Kemiskinan

11 Juni 2021
Mengenali Tanda-tanda Inflasi secara Sederhana

Mengenali Tanda-tanda Inflasi secara Sederhana

7 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PTC Surabaya dan PCM Surabaya, 2 Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

PTC dan PCM, Dua Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

30 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.