Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
23 Oktober 2020
A A
Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan terminal mojok.co

Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah sekira 15 tahun saya menjadi suporter atau fans dari salah satu tim terbaik di Liga Inggris. Tim yang baru saja merasakan gelar juara Liga Inggris setelah puasa kurang lebih 30 tahun lamanya. Setia betul saya mendukung tim ini. Bahkan, sampai dengan saat ini.

Setelah 15 tahun juga akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan—mendukung suatu tim sepak bola—sepertinya sia-sia. Saya sampai bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya, untuk apa saya menjadi suporter dari suatu tim olahraga—dalam hal ini sepak bola? Kalau tim yang saya dukung sedang menang dan menjuarai suatu kompetisi, saya hanya bisa membanggakan diri atau pamer ke teman-teman secara langsung atau di media sosial. Sesekali mungkin akan adu banter/ngece dengan suporter dari tim lain. Kalau kalah? Ya, tentu saja saya yang akan balik dikomentarin.

Sebetulnya, yang dikomentarin itu tim yang saya dukung, sih. Namun, karena secara terang-terangan saya mendukung tim tersebut, jadi, apa pun yang berkaitan dengannya, oleh sebagian teman akan diasosiasikan dengan saya. Dan entah kenapa, ada kalanya saya terpancing untuk membalas segala komentar itu.

Dipikir-pikir, apa untungnya saya membela habis-habisan segala komentar yang saya terima dari teman-teman, untuk tim yang saya dukung? Di sisi lain, apa pun yang ingin dikatakan oleh para suporter dari tim lain, itu kan hak mereka untuk berbicara dan menyampaikan segala sesuatu tentang apa yang diketahuinya. Suwer. Setelah membela habis-habisan tim sepak bola yang saya dukung pun, saya nggak akan dapat apa-apa. Hanya menyisakan mangkel.

Belum lagi jika tim yang saya dukung kalah. Sudah gitu dibantai pula. Saya, mungkin juga suporter tim mana pun, mood-nya akan buruk dan males seketika untuk bersosialisasi. Apalagi saat harus mendengar banter dari para fans tim lain. Aduh, males aja gitu.

Timnya yang kalah, ealah, yang harus menanggung beban para suporternya juga.

Jujur saja, pada 10 tahun pertama saya mendukung tim sepak bola, saya selalu meladeni komentar apa pun dari para fans tim lain yang notabene teman-teman saya juga. Kala itu, saya begitu berapi-api dalam mencari materi banter untuk tim lain. Sehingga, saya punya amunisi yang cukup saat momen saling ngece terjadi.

Sedangkan pada lima tahun terakhir, saya mulai memikirkan beberapa hal, khususnya yang berkaitan dengan tim sepak bola yang saya dukung. Saya pikir, yang saya lakukan selama ini adalah hal yang sia-sia.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Berdebat, meladeni banter, ngece tim yang didukung satu sama lain, dan lain sebagainya. Hal itu seakan nggak ada habisnya. Materi banter pun nggak akan jauh dari kekalahan tim, blunder pemain, gagal juara, dan masih banyak lagi. Saya merasa sudah cukup dengan hal tersebut.

Saat ini juga, yang lebih menarik bagi saya justru membaca thread atau artikel berisikan analisis permainan dan strategi yang digunakan oleh para pelatih. Dibahas secara runut dan rinci oleh para pandit sepak bola.

Jadi, mau tim yang saya dukung diejek bagaimanapun caranya, biar aja, lah. Nggak perlu diladeni sampai ke taraf serius. Lah gimana, jika memang kondisi tim dan pemain secara individu sedang tidak pada performa terbaiknya, sebagai fans, saya bisa apa?

Maki-maki tim favorit sendiri? Maki-maki tim lawan? Bikin tagar tertentu di Twitter? Ya nggak ngaruh juga, sih. Kalaupun memberi pengaruh, mungkin tidak akan sampai signifikan. Kecuali, saya terlibat langsung dan menjadi bagian dari manajemen atau staf kepelatihan.

Ketahuilah, saya juga banyak fans lain, secara tidak sadar sudah menginvestasikan sebagian emosi untuk tim yang didukung pada setiap minggunya. Khususnya tiap kali ada jadwal pertandingan. Kalau tim yang didukung menang kita ikut senang. Begitu pula sebaliknya. Jika tim kita kalah, rasanya malas sekali. Bahkan ia bisa mengubah mood dalam sekejap. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Namun, otak saya mengatakan demikian, nyatanya saya tetap bahagia melakukan hal yang sia-sia seperti ini. Tidak ada penyesalan sama sekali. Tampaknya, selama dewasa dan bijak dalam memberikan dukungan, seharusnya sih bukan suatu masalah. Pada akhirnya, investasi emosi pada tim sepak bola yang kita dukung, rasanya nggak buruk-buruk amat.

BACA JUGA Tipe-tipe Suporter Sepak Bola Indonesia Berdasarkan Tribun Stadion yang Mereka Pilih dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: Sepak BolaSuporter
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

newcastle united liga inggris dibeli pangeran muhammad bin salman arab saudi mojok

Memimpikan Kejayaan Newcastle United Jika Jadi Dibeli Pangeran Muhammad bin Salman

26 April 2020
Kultur Suporter Porsenigama: Kala UGM Memperlihatkan Wajah Lainnya

Kultur Suporter Porsenigama: Kala UGM Memperlihatkan Wajah Lainnya

9 April 2020
rasisme

Tidak Ada Tempat Bagi Rasisme di Dunia Ini, Sekalipun Dalam Sepak Bola

5 September 2019
4 Perilaku Atlet Sepak Bola Indonesia yang Menghambat Prestasi Timnas di Kancah Internasional terminal mojok.co

4 Perilaku Atlet Sepak Bola Indonesia Penghambat Prestasi

29 November 2020
Seandainya para Filsuf Melatih Sepak Bola Pakai Strategi dari Pemikirannya terminal mojok.co

Seandainya para Filsuf Melatih Sepak Bola Pakai Strategi dari Pemikirannya

16 September 2020
Arsenal Memang ‘Harus’ Melepas Ainsley Maitland-Niles, Fans Jangan Sepotong Menilai mojok.co

Arsenal Memang ‘Harus’ Melepas Ainsley Maitland-Niles, Fans Jangan Sepotong Menilai

25 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

Daihatsu Taruna, Mobil Sok Gagah yang Berakhir Gagal Total dan Bikin Penggunanya Bingung Setengah Mati

17 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.