Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan – Terminal Mojok

Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan

Artikel

Seto Wicaksono

Sudah sekira 15 tahun saya menjadi suporter atau fans dari salah satu tim terbaik di Liga Inggris. Tim yang baru saja merasakan gelar juara Liga Inggris setelah puasa kurang lebih 30 tahun lamanya. Setia betul saya mendukung tim ini. Bahkan, sampai dengan saat ini.

Setelah 15 tahun juga akhirnya saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan—mendukung suatu tim sepak bola—sepertinya sia-sia. Saya sampai bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya, untuk apa saya menjadi suporter dari suatu tim olahraga—dalam hal ini sepak bola? Kalau tim yang saya dukung sedang menang dan menjuarai suatu kompetisi, saya hanya bisa membanggakan diri atau pamer ke teman-teman secara langsung atau di media sosial. Sesekali mungkin akan adu banter/ngece dengan suporter dari tim lain. Kalau kalah? Ya, tentu saja saya yang akan balik dikomentarin.

Sebetulnya, yang dikomentarin itu tim yang saya dukung, sih. Namun, karena secara terang-terangan saya mendukung tim tersebut, jadi, apa pun yang berkaitan dengannya, oleh sebagian teman akan diasosiasikan dengan saya. Dan entah kenapa, ada kalanya saya terpancing untuk membalas segala komentar itu.

Dipikir-pikir, apa untungnya saya membela habis-habisan segala komentar yang saya terima dari teman-teman, untuk tim yang saya dukung? Di sisi lain, apa pun yang ingin dikatakan oleh para suporter dari tim lain, itu kan hak mereka untuk berbicara dan menyampaikan segala sesuatu tentang apa yang diketahuinya. Suwer. Setelah membela habis-habisan tim sepak bola yang saya dukung pun, saya nggak akan dapat apa-apa. Hanya menyisakan mangkel.

Belum lagi jika tim yang saya dukung kalah. Sudah gitu dibantai pula. Saya, mungkin juga suporter tim mana pun, mood-nya akan buruk dan males seketika untuk bersosialisasi. Apalagi saat harus mendengar banter dari para fans tim lain. Aduh, males aja gitu.

Timnya yang kalah, ealah, yang harus menanggung beban para suporternya juga.

Jujur saja, pada 10 tahun pertama saya mendukung tim sepak bola, saya selalu meladeni komentar apa pun dari para fans tim lain yang notabene teman-teman saya juga. Kala itu, saya begitu berapi-api dalam mencari materi banter untuk tim lain. Sehingga, saya punya amunisi yang cukup saat momen saling ngece terjadi.

Sedangkan pada lima tahun terakhir, saya mulai memikirkan beberapa hal, khususnya yang berkaitan dengan tim sepak bola yang saya dukung. Saya pikir, yang saya lakukan selama ini adalah hal yang sia-sia.

Berdebat, meladeni banter, ngece tim yang didukung satu sama lain, dan lain sebagainya. Hal itu seakan nggak ada habisnya. Materi banter pun nggak akan jauh dari kekalahan tim, blunder pemain, gagal juara, dan masih banyak lagi. Saya merasa sudah cukup dengan hal tersebut.

Saat ini juga, yang lebih menarik bagi saya justru membaca thread atau artikel berisikan analisis permainan dan strategi yang digunakan oleh para pelatih. Dibahas secara runut dan rinci oleh para pandit sepak bola.

Jadi, mau tim yang saya dukung diejek bagaimanapun caranya, biar aja, lah. Nggak perlu diladeni sampai ke taraf serius. Lah gimana, jika memang kondisi tim dan pemain secara individu sedang tidak pada performa terbaiknya, sebagai fans, saya bisa apa?

Maki-maki tim favorit sendiri? Maki-maki tim lawan? Bikin tagar tertentu di Twitter? Ya nggak ngaruh juga, sih. Kalaupun memberi pengaruh, mungkin tidak akan sampai signifikan. Kecuali, saya terlibat langsung dan menjadi bagian dari manajemen atau staf kepelatihan.

Ketahuilah, saya juga banyak fans lain, secara tidak sadar sudah menginvestasikan sebagian emosi untuk tim yang didukung pada setiap minggunya. Khususnya tiap kali ada jadwal pertandingan. Kalau tim yang didukung menang kita ikut senang. Begitu pula sebaliknya. Jika tim kita kalah, rasanya malas sekali. Bahkan ia bisa mengubah mood dalam sekejap. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Namun, otak saya mengatakan demikian, nyatanya saya tetap bahagia melakukan hal yang sia-sia seperti ini. Tidak ada penyesalan sama sekali. Tampaknya, selama dewasa dan bijak dalam memberikan dukungan, seharusnya sih bukan suatu masalah. Pada akhirnya, investasi emosi pada tim sepak bola yang kita dukung, rasanya nggak buruk-buruk amat.

BACA JUGA Tipe-tipe Suporter Sepak Bola Indonesia Berdasarkan Tribun Stadion yang Mereka Pilih dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Sepeda dan Bike to Work Tidak Akan Pernah Menjadi Gaya Hidup di Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.