Mengungkap Makelar Proyek yang Jadi Cikal Bakal Berdirinya Kesultanan Mataram – Terminal Mojok

Mengungkap Makelar Proyek yang Jadi Cikal Bakal Berdirinya Kesultanan Mataram

Featured

Prabu Yudianto

“Berarti, (Kesultanan) Mataram berdiri karena calo, dong?” ungkapan sahabat saya kali ini benar-benar membuat wajah saya menebal. Berani-beraninya sahabat saya ini mengatai sebuah kesultanan agung yang menjadi cikal bakal Jogja ini karena kerja calo. Ingin mulut ini bertanya, “KTP endi, Bosss?” Tapi, saya coba menelisik kembali sejarah berdirinya Kesultanan Mataram.

Saya menemukan bahwa pernyataan dia salah. Kesultanan Mataram tidak berdiri karena calo. Yang benar, Kesultanan Mataram berdiri karena kerja makelar proyek!

Kalem, Lur. Mungkin menerima kenyataan bahwa Kesultanan Mataram berdiri karena kerja makelar tidak bisa diterima. Kesannya kok rendahan sekali. Namun, nyatanya memang makelar yang menjadi cikal bakal berdirinya Mataram.

Sebelumnya, mari kita bedakan antara calo dan makelar. Calo bekerja dalam urusan birokrasi. Sederhananya, calo bisa disebut sebagai biro jasa. Sedangkan makelar adalah perantara dagang antar dua pihak. Contohnya makelar proyek.

Perbedaan berikutnya, calo akan menerapkan biaya jasa dalam setiap proyeknya. Sedangkan makelar akan mengambil keuntungan dari proyek yang dia jalankan.

Oke, saya harap kita sudah satu frekuensi. Lalu, siapa makelar proyek yang berperan besar dalam berdirinya Kesultanan Mataram? Siapa orang yang punya mental bisnis luar biasa, sehingga bisa menjadi makelar dari sebuah kerajaan?

Tidak lain dan tidak bukan, blio adalah Joko Tingkir. Benar, Raja Pajang ini adalah makelar yang menjadi jembatan berdirinya Mataram. Lebih dari itu, Joko Tingkir menunjukkan karakter yang membuat pantas disebut bapak makelar Jawa.

Kiprah Joko Tingkir sebagai makelar proyek diawali dari terbunuhnya Sunan Prawoto. Raja Demak ini dibunuh oleh Arya Penangsang sebagai balas dendam. Sebelumnya, Sunan Prawoto membunuh Pangeran Surowijoyo yang adalah ayah Arya Penangsang. Dibunuhnya Surowijoyo adalah cara untuk mengangkat Sultan Trenggana sebagai Raja Demak. Nah, Sultan Trenggana adalah ayah dari Sunan Prawoto.

Bagi kita, kisah bunuh membunuh ini lebih mirip Game of Throne. Tapi tidak bagi Joko Tingkir. Menantu Sultan Trenggana ini melihat prospek dari konflik keluarga ini. Terutama setelah bertemu Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggana yang juga ipar dari Joko Tingkir.

Pertemuan yang tidak sengaja di Gunung Danaraja ini membuahkan kesepakatan. Ratu Kalinyamat sebagai klien mengajukan proyek untuk membunuh Arya Penangsang. Maklum, Ratu Kalinyamat pasti dendam ketika kakaknya sendiri dibunuh.

Nilai proyek ini tidak main-main. Oleh Ratu Kalinyamat, proyek kotor ini dihargai dengan seluruh daerah kekuasaan Kerajaan Demak. Jelas bukan harga yang main-main. Apalagi jika kita menaksir nilai dari daerah kekuasaan Demak.

Kerajaan Demak menguasai pesisir utara Pulau Jawa. Lokasi ini sangat strategis karena berada di tengah jalur pelayaran Nusantara. Sampai hari ini, lokasi bekas kekuasaan Demak tetap bernilai tinggi. Belum lagi segenap daerah taklukan yang berada di bawah kekuasaan Demak.

Tentu, nilai proyek ini tidak akan dilewatkan oleh Joko Tingkir. Akan tetapi, harga proyek ini sebanding dengan beban kerjanya. Membunuh Arya Penangsang bukan perkara mudah. Pada saat itu, Arya Penangsang telah dinobatkan sebagai raja dari Demak Jipang. Kerajaan baru ini dipandang sebagai penerus sah dari Kerajaan Demak.

Maka, Joko Tingkir melakukan apa yang akan dilakukan seorang makelar sejati: mengadakan lelang proyek. Lelang bertajuk sayembara ini tidak lepas dari kecerdasan Joko Tingkir sebagai makelar agung.

Lelang proyek untuk menaklukkan Arya Penangsang dihargai dengan Alas/Hutan Mentaok. Hutan rimbun ini terletak di wilayah Jogja hari ini. Di sinilah kita melihat kepiawaian Joko Tingkir sebagai makelar.

Ratu Kalinyamat menghargai proyek ini dengan seluruh wilayah kekuasaan Demak. Namun, Joko Tingkir menghargai proyek ini hanya seluas Hutan Mentaok. Siapa pun yang memenangkan tender proyek ini, Joko Tingkir akan meraup keuntungan lebih besar. Apalagi, Hutan Mentaok masih berupa hutan rimba dan belum terolah.

Joko Tingkir tidak akan kehilangan apa pun dari proyek ini. Jika sukses, Joko Tingkir akan menguasai seluruh wilayah Demak. Bahkan Hutan Mentaok tetap menjadi wilayah kekuasaan Joko Tingkir. Jika gagal, yang menanggung risiko adalah si pemenang tender. Joko Tingkir akan tetap hidup dan bisa mencari proyek lain.

Akan tetapi, kehebatan Joko Tingkir sebagai makelar tidak berhenti sampai di sini. Banyak yang mengikuti lelang proyek ini, salah satunya Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Kedua tokoh masyarakat ini adalah kakak angkat Joko Tingkir saat in de kost di Padepokan Ki Ageng Giring.

Tentu dua orang ini menjadi pemenang tender. Seorang makelar yang efektif akan memasrahkan proyek pada pihak yang bisa dipercaya. Apalagi jika pihak tersebut adalah kakak angkat sendiri. Nuansa nepotisme sangat terasa dalam lelang proyek membunuh Arya Penangsang ini.

Joko Tingkir juga melakukan kontrak kerja yang memastikan keuntungan bagi dirinya. Diangkatlah putra Ki Ageng Pemanahan sebagai anak angkat. Putra yang bernama Danang Sutawijaya ini menjamin Joko Tingkir untuk mengeruk keuntungan lebih jauh.

Jika Danang Sutawijaya menang, Joko Tingkir akan tetap menguasai Hutan Mentaok. Namanya juga anak angkat, pasti menghormati bapak angkatnya. Apalagi bapak angkatnya menghadiahi tanah yang hari ini menjadi 5 besar tanah termahal di Indonesia.

Inilah kehebatan Joko Tingkir sebagai makelar proyek. Blio memanfaatkan relasi keluarga dengan Ratu Kalinyamat. Joko Tingkir juga menyerahkan proyek ini kepada pihak yang punya kedekatan khusus. Bahkan mengangkat pihak pemenang tender sebagai anak. Apa yang bisa salah dari masterplan ini?

Danang Sutawijaya berhasil membunuh Arya Penangsang. Joko Tingkir menguasai wilayah Demak dan mendirikan Kesultanan Pajang. Hutan Mentaok tetap menjadi wilayah kekuasaan Joko Tingkir yang kini bergelar Sultan Hadiwijaya.

Megaproyek ini berjalan sempurna. Setidaknya sampai Danang Sutawijaya memberontak dan menaklukkan Pajang. Danang Sutawijaya diangkat sebagai raja dari kerajaan baru bernama Kesultanan Mataram.

Memang, Joko Tingkir menjadi pihak yang kalah di kemudian hari. Namun, kesuksesan Joko Tingkir sebagai makelar proyek tidak bisa diabaikan. Joko Tingkir adalah contoh awal dari sebuah kerja makelar proyek berskala nasional.

Yah, meskipun pada akhirnya Mataram yang berkuasa. Pajang kini menjadi catatan kaki dalam perjalanan sejarah Nusantara. Namun, jasa makelar proyek dari Joko Tingkir tidak bisa dilupakan. Mataram tidak akan berdiri tanpa kerja seorang makelar!

BACA JUGA Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Menghitung Penghasilan Tsubasa Ozora di Barcelona
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
15


Komentar

Comments are closed.