Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengkaji Isu Kekerasan Seksual melalui Film Korea

Maria Monasias Nataliani oleh Maria Monasias Nataliani
10 Mei 2019
A A
kekerasan pada perempuan di internet definisi pengertian jenis macam mojok.co

kekerasan pada perempuan di internet definisi pengertian jenis macam mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Isu kekerasan seksual rupanya tidak pernah habis. Baru-baru ini, kasus penculikan dan pemerkosaan anak yang dilakukan oleh mantan anggota TNI terjadi di Kendari, Sulawesi Selatan. Kasus amoral serupa juga terjadi di Pontianak, di mana pelakunya adalah seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Kasus menyedihkan lainnya berupa pemerkosaan berujung pembunuhan oleh ayah tiri kepada anaknya terjadi di Sanggau, Kalimantan Barat.

Kasus-kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ranah keluarga dan masyarakat. Universitas sebagai medium pendidikan tinggi justru kerap menjadi tempat bersemainya kasus serupa. Yang paling baru, kasus seorang dosen dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember yang melecehkan mahasiswanya. Kasus itu sukses menuai demo dan kecaman. Sementara itu, di awal tahun ini, kasus sejenis juga terjadi di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Kekerasan seksual merupakan peristiwa kejahatan yang tidak sederhana. Dampaknya terhadap korban kerap kali tidak diperhatikan sebesar kronologi kasusnya. Pengungkapan kasus juga terkadang terhalang oleh sistem. Terhambat oleh aturan-aturan tertentu. Dan membuat kekerasan seksual menyerupai fenomena gunung es. Setelah terungkap pun, korban dan keluarga akan sulit menjalani hari-hari seperti biasa. Pelaku? Tentu beberapa tahun kemudian akan menikmati udara kebebasan.

Sementara itu, kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di negeri kita. Korea Selatan rupanya juga dihantui kasus yang sama. Bahkan, beberapa kasus sangat kontroversial dan disturbing sehingga beberapa sineas film mewujudkannya ke layar lebar. Film-film Korea Selatan berikut ini membantu kita memahami lebih dekat sisi demi sisi peristiwa amoral itu.

Hope
Film dengan nama lain Wish ini merupakan film arahan sutradara Lee Joon Ik yang keluar di tahun 2013. Film yang memenangi penghargaan film terbaik dalam 34th Blue Dragon Film Awards ini mengambil kasus nyata Na-young yang terjadi pada tahun 2008. Sebuah kasus kekerasan seksual di mana seorang anak perempuan berusia 8 tahun dilecehkan oleh seorang lelaki 57 tahun yang sedang mabuk di sebuah toilet umum.

Menonton film ini sukses membuat saya merasa sedih dan marah di saat yang sama. Bagi saya, film ini berfokus pada perjuangan korban setelah mengalami tragedi. Selain itu, film ini juga bercerita tentang kehancuran orangtua korban selama dan setelah pengungkapan kasus. Juga tentang bagaimana masyarakat di sekitar mereka merespons kejadian itu. Yang menyedihkan, tentu saja luka-luka fisik yang sama parahnya dengan trauma mental korban. Kebrutalan pelaku membuat korban sampai harus menjalani operasi colostomy (pemotongan usus) dan memakai kantung colostomy seumur hidupnya.

Silenced
Silenced atau The Crucible merupakan film Korea Selatan tahun 2011 yang disutradarai oleh Hwang Dong Hyuk. Film ini didasarkan pada kasus kekerasan seksual yang terjadi di Gwangju Inhwa School. Selama 5 tahun, beberapa murid bisu-tuli dilecehkan secara seksual oleh staf sekolah. Mereka juga mendapatkan kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan kekerasan psikis dari beberapa guru dan staf.

Yang menarik dari film ini adalah proses pengungkapan kasus dan penanganannya secara hukum. Klimaks dari film ini berada pada adegan di persidangan, di mana para korban dan pelaku berada dalam satu ruangan. Dan betapa mengerikannya tekanan yang diberikan pihak sekolah pada para korban. Tekanan itu tidak hanya terjadi saat permulaan kasus, namun juga berlanjut sampai ke dalam ruang sidang.

Baca Juga:

Penjelasan Ending Film The Great Flood buat Kamu yang Masih Mikir Keras Ini Sebenarnya Film Apa

7 Rekomendasi Film Dewasa Korea Terbaik Rating 18+ yang Sayang Dilewatkan

Kasus serupa baru-baru ini juga terjadi di Indonesia. Kita tentu mengetahui cerita Joni dan Jeni yang kontroversial setelah pelakunya divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibinong. Kesamaan dari film Silenced dengan kasus Joni Jeni adalah korban yang memiliki disabilitas. Dalam film Silenced, korban memiliki disabilitas fisik, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Sementara, dalam kasus Joni Jeni, Joni merupakan penyandang disabilitas intelektual. Kelompok penyandang disabilitas, baik disabilitas fisik, disabilitas mental, maupun disabilitas intelektual menjadi kelompok yang rentan mengalami berbagai jenis kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Han Gong Ju
Film ini didasarkan dari kasus Miryang yang terjadi pada tahun 2004, disutradarai oleh Lee Su Jin dan ditayangkan pertama kali pada tahun 2013 pada Busan International Film Festival. Han Gong Ju merupakan nama karakter utama dalam film. Seorang gadis SMA yang mengalami pemerkosaan oleh sekelompok siswa SMA.

Reaksi saya menonton ini kurang lebih sama. Sempat merasa kesal, bahkan marah karena kasus ini cukup kontroversial. Setelah tragedi yang dialaminya, Han Gong Ju justru tidak memiliki dukungan sosial. Secara ironis, ibunya justru bersikap egois dengan tidak mau bertemu dengannya. Sementara ayahnya justru memilih menerima uang dari para orang tua murid pelaku pemerkosaan sebagai upaya rekonsiliasi. Film ini digarap apik dengan plot maju mundur yang membuat efek psikologis korban terasa begitu nyata.

Selama menonton Han Gong Ju, saya sempat teringat fenomena yang juga marak di negeri sendiri. Pembenaran akan sexual assaults dan kritik yang ditempatkan secara salah kaprah, justru pada sang korban yang kebanyakan adalah wanita. Victim blaming dengan segala alasannya.

Film tidak hanya menjadi medium hiburan. Namun, juga wadah pembelajaran. Melalui film, kita bisa mengenal berbagai peristiwa, memahami isu-isu terkini, dan melatih kepekaan sosial. Banyak peristiwa yang terjadi di dunia melampaui batas kewajaran hingga membangkitkan daya kritis dan nalar penonton.
Menonton ketiga film di atas membuat saya memikirkan banyak hal. Bahwa kasus kekerasan, apapun itu, tentu tidak sederhana, tidak boleh dianggap sederhana. Keharuan mencelus dari hati saya ketika tahu seperti apa penderitaan korban. Ketidakadilan hukum juga membuat saya geram. Bahkan pada beberapa titik selama berjalannya film, pipi saya mendadak basah. Ketiga film itu mampu menimbulkan kesedihan dalam diri saya, dan memampukan saya untuk lebih aware terhadap isu kekerasan seksual.

Tentu kita berharap tidak akan ada lagi Han Gong Ju-Han Gong Ju lain di sekitar kita. Tidak perlu ada Na-young lain yang menderita. Juga berharap tidak ada lagi sekolah atau universitas di mana pun di dunia ini yang menjadi wadah kekerasan. Peristiwa memilukan itu mungkin berlangsung tidak lama, tetapi efek yang ditimbulkan akan membekas lama untuk para korban. Efek jangka panjang yang mungkin tidak kita tahu adalah perjuangan mereka untuk tetap hidup, meski dunia terkadang tidak sama lagi memandang mereka.

Mari belajar dari film-film ini. Juga dari peristiwa sekitar. Untuk meyakinkan diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Supaya tetap menjadi manusia. Manusia yang wajar. Yang masih bertumpu kewarasan, berpegang pada rasionalitas. Pada akhirnya, saya melihat bahwa film, sebagai salah satu medium seni, tidak melulu menawarkan hiburan, tetapi juga pengajaran.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2019 oleh

Tags: Film KoreaKekerasan SeksualWanita
Maria Monasias Nataliani

Maria Monasias Nataliani

Part-time writer. Full-time doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano.

ArtikelTerkait

RUU PKS DPR MOJOK.CO

RUU PKS vs Hantu Voyeurisme, Kepuasan Seksual dengan Mengintip Orang Tanpa Busana

22 Juli 2020
Bikin Penonton Berderai Air Mata, Rekomendasi 6 Film Korea Sedih Terbaik Terminal Mojok

Bikin Penonton Berderai Air Mata, Rekomendasi 6 Film Korea Sedih Terbaik

29 Agustus 2022
5 Rekomendasi Film Korea dengan Tema Politik terminal mojok.co

5 Rekomendasi Film Korea dengan Tema Politik

7 September 2020
4 Rekomendasi Film Korea Klasik Bergenre Romance yang Tak Lekang Zaman terminal mojok.co

4 Rekomendasi Film Korea Klasik Bergenre Romance yang Tak Lekang Zaman

23 Juli 2021
berdandan

Menanggapi Lamanya Waktu yang Dibutuhkan Wanita Saat Berdandan

24 Juni 2019
mulut

Mulutmu Harimaumu: Aduh Mbak, Awas Badan Binasa

24 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

18 Januari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
6 Keunggulan Surabaya yang Bikin Orang Bangkalan Madura Minder sebagai Tetangganya Mojok.co

6 Keunggulan Surabaya yang Bikin Orang Bangkalan Madura Minder sebagai Tetangganya

20 Januari 2026
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.