Mengenang Kejayaan Novel Harry Potter di Tengah Rendahnya Minat Baca Indonesia – Terminal Mojok

Mengenang Kejayaan Novel Harry Potter di Tengah Rendahnya Minat Baca Indonesia

Artikel

Raden Muhammad Wisnu

Dilansir dari Kompas.com, penelitian yang dilakukan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada tahun 2016 terhadap 61 negara di dunia menunjukkan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama The World’s Most Literate Nations tersebut menunjukan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana.

Memasuki tahun 2021, saya membaca beberapa artikel yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menempati peringkat terbawah dalam minat membaca. Sebuah fakta yang begitu menyedihkan.

Padahal saya ingat betul, sejak SD, saya dan teman-teman termasuk generasi yang minat bacanya tinggi. Saat saya SD di tahun 1998 hingga lulus SMA di tahun 2010, saya sering melihat teman-teman sebaya membaca bacaan di luar pelajaran sekolah, meskipun bacaan yang mereka baca adalah majalah, komik, hingga novel sembari menunggu jam istirahat atau jam pelajaran kosong. Beberapa di antaranya bahkan membaca bacaan tersebut di tengah-tengah pelajaran matematika, fisika, maupun pelajaran lainnya yang dianggap rumit. Tidak untuk ditiru ya, Mylov!

Dan siapa sangka justru di tahun 2021 ini saya mendapatkan fakta bahwa Indonesia adalah negara dengan minat baca yang paling rendah. Saya pikir, salah satu faktornya adalah tidak ada lagi bacaan yang menarik dan populer untuk anak-anak seperti Harry Potter yang mewabah secara global lagi. Barangkali, sampai beberapa dekade ke depan, tidak akan ada lagi novel seperti Harry Potter yang mewabah secara global.

Memang, di generasi saya, banyak bacaan populer lainnya seperti Doraemon atau Detektif Conan. Tetapi, dari angka statistik global, pada zaman itu, untuk siswa yang tidak suka membaca sama sekali, novel Harry Potter adalah sebuah keajaiban yang membuat seluruh anak-anak di seluruh dunia membacanya sampai selesai, sampai bergadang di malam hari, jauh sebelum difilmkan oleh Warner Bros! Inilah alasan mengapa saya berani mengatakan barangkali tidak akan ada lagi novel seperti Harry Potter dalam beberapa dekade ke depan.

Baca Juga:  Jauh Sebelum Kehadiran Netflix, Saya Merasakan Era Tukang Rental Laser Disc Keliling

#1 Rekor penjualan buku tersukses

Sejak seri pertamanya rilis tahun 1997, Harry Potter telah terjual lebih dari 450 juta eksemplar dalam 73 bahasa terjemahan pada tahun 2013. Empat seri terakhirnya bahkan secara berturut-turut mencatatkan rekor sebagai buku dengan penjualan tercepat dalam sejarah. Ini belum digabungkan dengan profit lainnya karena Harry Potter adalah merk dagang populer yang tidak hanya mencakup buku saja, melainkan film, mainan, hingga merchandise lainnya, sampai terus di-milking oleh Warner Bros dengan dibuat lagi spin off-nya untuk mencari keuntungan, tentu saja.

#2 Meningkatkan minat baca anak-anak

Saat buku keempatnya terbit pada tahun 2001, penulis novel Harry Potter, JK Rowling, disebut-sebut sebagai pahlawan karena telah meningkatkan minat membaca anak-anak di Britania Raya. Bahkan di Indonesia sendiri, saat saya masih SD, saya melihat begitu banyaknya anak SD membaca novel Harry Potter baik di sekolah, di kendaraan umum, hingga di tempat umum lainnya.

Meskipun jalan cerita Harry Potter ini cukup rumit, JK Rowling telah menuliskan sebuah kisah yang dapat dengan mudahnya dicerna oleh anak-anak. Tidak hanya itu, karena kisah inilah anak-anak penasaran membaca kisahnya sampai selesai, tidak seperti kisah lain yang tertuang dalam komik atau novel lain.

#3 Euforia yang tidak akan terulang

Harry Potter muncul ketika internet dan gawai belum secanggih sekarang, yakni ketika orang masih berduyun-duyun ke toko buku untuk mencari hiburan. Saat itu bahkan ramai diberitakan setiap peluncuran seri terbarunya, ribuan anak-anak di seluruh dunia rela untuk menginap di depan toko buku dari semalam sebelumnya untuk mendapatkan novel terbarunya sebelum kehabisan dan terpaksa untuk menunggu cetakan selanjutnya. Saya sendiri adalah salah satu orang yang beruntung karena telah memesan novel terakhir Harry Potter melalui metode pre-order di Gramedia. Saya pikir, saat ini euforia untuk antre akan sebuah buku tidak akan lagi terulang.

Baca Juga:  Pengalaman Diputuskan Mantan Kekasih Karena Belum Diterima di Kampus Negeri

#4 Plot yang bikin penasaran

Plot, karakter, dan deskripsi semesta sihirnya sangat luar biasa. JK Rowling membuat sebuah semesta sihir yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahwa, para penyihir ini tersebar di seluruh dunia dan sangat tersembunyi dari Muggle (non-penyihir) karena mereka tidak mau melanggar Undang-Undang Kerahasaan Sihir Internasional yang intinya memerintahkan seluruh penyihir untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari Muggle, mulai dari penyihir anak-anak hingga level Kementerian Sihir setiap negara yang ada di dunia. Ini berbeda dengan novel fantasi lainnya seperti Lord of the Rings, Narnia, dan Eragon yang benar-benar membuat semesta yang terpisah dari kehidupan kita sehari-hari.

Selain itu, nilai-nilai kekeluargaan dan sentuhan moral yang sangat positif bisa diambil dari kisah Harry Potter ini. Bagaimana berharganya nilai persahabatan yang tulus diantara Harry Potter, Hermione Granger, dan Ronald Weasley. Bagaimana hangatnya suasana natal di Hogwarts, lengkap dengan dekorasi Natal yang indah dan makanan yang lezat. Bagaimana nilai-nilai persaudaraan antaranggota Laskar Dumbledore yang berbeda asrama dan latar belakang. Dan arti-arti kesetiaan, sopan santun, uga sifat mulia yang digambarkan oleh seluruh tokoh yang ada di dalamnya. Bagaimana kita melihat kebaikan dalam orang yang selama ini kita anggap sebagai jahat, dan tidak sembarangan menuduh seseorang adalah orang jahat tanpa azas praduga tidak bersalah seperti yang digambarkan Severus Snape. Inilah sihir yang sesungguhnya yang diciptakan oleh JK Rowling.

Baca Juga:  Bukan Undip atau Unnes, Kampus Paling Unggul di Semarang Adalah UIN Walisongo

Saya pikir, poin-poin yang saya sebutkan di atas adalah faktor yang menyebabkan kenapa Harry Potter begitu digandrungi oleh semua orang, termasuk anak-anak. Dan mungkin belum akan ada yang akan menandingi kesuksesannya dalam beberapa dekade ke depan nanti. Dan begitu saya merindukan masa kejayaan Harry Potter saat saya sekolah dulu. Bahkan, saat ini saya kembali membaca novel Harry Potter dari edisi pertamanya untuk mengisi waktu luang karena saya kehilangan pekerjaan karena pandemi, dan baru memasuki edisi keenamnya. Untuk kawan-kawan Terminal Mojok yang memiliki lowongan kerja, terutama di Kota Bandung, bisa kontak saya, ya! Wqwqwq~

BACA JUGA Mengenang 7 Tokoh Guru Pertahanan Ilmu Hitam Hogwarts yang Menyebalkan dalam Film Harry Potter dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
15


Komentar

Comments are closed.