Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenang Artidjo Alkostar yang Sebetulnya Biasa-biasa Saja

Ang Rijal Amin oleh Ang Rijal Amin
5 Maret 2021
A A
Mengenang Artidjo Alkostar yang Sebetulnya Biasa-biasa Saja mojok.co/terminal

Mengenang Artidjo Alkostar yang Sebetulnya Biasa-biasa Saja mojok.co/terminal

Share on FacebookShare on Twitter

Dosen saya pernah bercerita, ia berencana membuat otobiografi seorang hakim yang layak dihormati sebagai begawan hukum di Indonesia, Artidjo Alkostar. Ia menempati kamar pidana di Mahkamah Agung, beragam julukan ia dapat. Ketika sudah banyak orang muak dengan penegakan hukum di Indonesia yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, anggapan itu mesti ditunda kalau beliau yang menangani perkara.

Sekali waktu ketika dosen saya tadi dengan mobilnya berkendara di jalanan, di bawah terik cuaca Yogya dan jalanan yang dijejali kendaraan, seorang kakek melaju melewatinya dengan Honda Astrea. Penampilannya biasa saja layaknya lelaki tua pada umumnya. Tapi, mengenali wajahnya membuat dosen saya ini tak mungkin melewatkan detik-detik itu tanpa menyadari bahwa yang ia lihat adalah suatu kontradiksi.

Bukan karena Honda Astrea menjadi keunikan bagi jalanan Yogya, melainkan karena lelaki tua itu adalah hakim agung yang sedang kita bicarakan, Artidjo Alkostar.

Betapa aneh perasaan yang menyerang seorang dosen muda tatkala melihat sosok yang hendak ia telusuri kehidupannya ditemukan tanpa sengaja masih berkendara sepeda motor dengan merek lama. Lebih ironis lagi, ketika kita membandingkan Artidjo berhadapan dengan pejabat semacam lurah yang tak pernah berkendara selain mobil.

Ini bukanlah soal kemampuan atau sekadar daya beli, melainkan soal bagaimana pejabat negara menampilkan diri di muka umum. Kalau soal mobil saja, petani di daerah saya rata-rata memiliki mobil yang dibeli tanpa nyicil layaknya lurah dan camat. Dan itu cukup membuat para petani bisa mengolok-ngolok mobil plat merah yang berjejalan di hari libur, baik ke pantai maupun pesta perkawinan.

Hidup di masa kapitalisme global, mode transportasi merupakan penanda identitas. Hal itu meniscayakan adanya kesadaran kelas bagi penggunanya. Mobil memberi tanda dan status sosial bagi pemiliknya dan orang lain akan menilainya dari kendaraan apa yang ia pakai. Jangankan seorang walikota, camat saja bisa malu kalau bawahannya datang mengendarai mobil ke kantor, apalagi ketika para petani ternyata sanggup menjangkau mobil.

Seorang pejabat tentu saja tak mau dikira warga biasa. Dengan begitu mobil tidak akan lagi dilihat dari nilai gunanya sebagai alat transportasi, melainkan dari nilai identitas yang melekat padanya. Semakin seorang pejabat berhasrat memperlebar jarak dan menegaskan identitas yang berbeda dari masyarakat biasa, maka semakin tinggi pula hasrat untuk meraup pendapatan lebih dari gaji yang sanggup didapatnya. Iya kalau si pejabat buka usaha warung makan, tapi kalau korupsi, bagaimana?

Di situlah Artidjo Alkostar dengan sepeda motornya, atau dengan bajaj yang ditumpanginya berkantor ke lembaga tertinggi yudisial menolak menghamba pada nilai identitas yang memaksa pejabat negara untuk terus meningkatkan standar penilaian mengikuti tren yang berlaku di pasar.

Baca Juga:

Obituari Mat Solar: Menyebar Tawa dari Bajaj Bajuri sampai Tukang Bubur Naik Haji

Obituari Kang Gobang Preman Pensiun, Pria Sejati yang Menebus Dosa dengan Menapaki Jalan yang Begitu Sunyi

Suatu sikap yang sebetulnya biasa-biasa saja. Namun, menjadi “mewah” karena jarang yang sanggup mempraktikannya.

Tidaklah tepat bila mengira sosok Artidjo Alkostar hanya menjelma algojo bagi para koruptor. Sebuah kesan yang seolah menyiratkan beliau hanya bermodal keberanian saja melawan kekuatan penopang di balik terdakwa kasus korupsi yang ditanganinya. Yang melahirkan putusan-putusan lebih berat bagi para terdakwa ketimbang yang diberikan pengadilan di bawah MA.

Lebih dari itu, Artidjo sesungguhnya adalah hakim progresif. Kalau ia seolah-olah begitu tertinggal dalam mengikuti tren komoditas, ia amat terdepan ketimbang hakim-hakim umumnya dalam memahami fenomena sosial.

Semisal, dalam tulisannya pada sebuah rakernas MA dengan pengadilan seluruh Indonesia, ia menerangkan bahwa dalam perkara kejahatan seksual, hubungan pelaku dengan korban menjadi pertimbangan bagi putusan hakim. Sebab, terdapat unsur eksploitasi terhadap posisi rentan korban di sana, baik secara sosial maupun ekonomi.

Kita dapat membayangkan bahwa pelaku dalam kasus perdagangan manusia yang memanfaatkan keadaan ekonomi untuk mengelabui korban, tidak saja dipersalahkan atas kejahatan perdagangan manusia, melainkan juga atas kejahatan eksploitasi terhadap kemiskinan korban.

Dengan begitu, ia ingin menegaskan bahwa keadilan harus mengedepankan kesadaran kelas, mengakui situasi sosial-ekonomi yang dihadapi oleh korban dan pelaku, serta menyadari ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Seandainya sikap ini diikuti hakim-hakim pada umumnya, kita tidak akan meributkan kasus Mbok Minah yang dituduh mencuri 3 buah kakao, ataupun kasus Baiq Nuril sebagai korban pelecehan seksual yang justru kena pidana.

Lagi-lagi, gagasan ini adalah gagasan yang biasa-biasa saja. Umar bin Khattab 15 abad yang lalu bahkan telah mempraktikannya, ia menolak menghukum budak yang mencuri karena kelaparan tak diberi makan tuannya. Alih-alih menghukum budak, Umar justru menghukum sang majikan.

Kita tak perlu heran bila kemudian Artidjo Alkostar kerap memperberat hukuman para koruptor, sebab mereka tidak dalam kondisi kelaparan. Pertimbangan atas kondisi sosial-ekonomi yang mereka miliki justru membuatnya layak mendapat hukuman berat.

Seperti saya katakan di awal, jika hukum diibaratkan pisau, di tangan Artidjo pisau itu mestinya dipegang secara terbalik. Hukum harusnya tajam ke atas dan tumpul ke bawah.

Sayangnya, beliau telah meninggalkan kita, tepat sehari sebelum hari kehakiman. Gagasan dan sikap hidupnya layak didengungkan dan menjadi pengingat bagi kita. Kita berharap kelak, akan lahir Artidjo-Artidjo baru yang menjalankan kredo, “Fiat justitia et pereat mundus” yang berarti, hendaklah keadilan binasa walau dunia harus ditegakkan.

Eh, astagfirullah… kebalik, hendaklah keadilan ditegakkan walau dunia harus binasa.

Sumber gambar: YouTube Tribunnews.com

BACA JUGA Hukum Lebih Menyenangkan Dipelajari Lewat Buku daripada Lewat Kenyataan dan tulisan Ang Rijal Amin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2021 oleh

Tags: obituaripenegak hukumtokoh pergerakan
Ang Rijal Amin

Ang Rijal Amin

Tinggal di Facebook Ang Rijal Amin

ArtikelTerkait

obituari pak panut mojok

Obituari Pak Panut dan Bagaimana Beliau Menyelamatkan Perut yang Lapar

20 Juli 2021
Keadilan Restoratif: Istilah yang Tak Lagi Berharga Gara-gara Penegak Hukum Indonesia

Keadilan Restoratif: Istilah yang Tak Lagi Berharga Gara-gara Penegak Hukum Indonesia

28 Oktober 2022
nicholas angel hot fuzz polisi penegak hukum mojok

Seharusnya, Standar Penegak Hukum Itu kayak Nicholas Angel

16 September 2020
jalauddin rakhmat terminal mojok

Selamat Jalan Jalaluddin Rakhmat, Pahlawan Ilmu Komunikasi Indonesia

19 Februari 2021
obituari penyair umbu landu paranggi oleh sigit susanto terminal mojok.co

Umbu Landu Paranggi Berjaket Tentara dan Ia Memakai Pet ala Che Guevara

10 April 2021
Pertemuan Pertama dan Terakhir Saya Bersama Iman Budhi Santosa terminal mojok.co

Pertemuan Pertama dan Terakhir Saya Bersama Iman Budhi Santosa

12 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Sidoarjo dan Surabaya Isinya Salah Paham, Bikin Kecewa Saja (Unsplash)

Sidoarjo Nggak Perlu Capek-capek Saingan sama Surabaya, Cukup Perbaiki Jalan yang Lubangnya Bisa Buat Ternak Lele Saja Kami Sudah Bersyukur!

24 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

22 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental
  • Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros
  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.