Mengenang Aplikasi Mxit, dari Cari Pacar Virtual hingga Saling Ngatain Suporter Bola – Terminal Mojok

Mengenang Aplikasi Mxit, dari Cari Pacar Virtual hingga Saling Ngatain Suporter Bola

Artikel

Sebelum 2010, kemunculan ponsel berbasis Symbian dan Java menjadi gengsi tersendiri bagi anak sekolah kelahiran 90-an. Rasa gengsi tersebut akan semakin meningkat ketika ponsel yang dimilikinya telah dilengkapi kamera megapixel dan aplikasi chating yang bisa diunduh secara bebas. Salah satu aplikasi media sosial yang sempat saya gandrungi saat itu adalah aplikasi Mxit, sebuah aplikasi untuk chatting yang tampilannya mirip dengan Blackberry.

Aplikasi Mxit bisa dibilang aplikasi yang membuat penggunaanya betah menghadap layar ponsel. Tak jarang aplikasi ini mampu menghasilkan teman virtual. Apalagi dengan adanya emoji mata cinta, mendapatkan pacar virtual adalah hal yang mungkin terjadi ketika para kawula muda tenggelam dalam obrolan di Mxit.

Umumnya jika sudah mendapatkan kontak Mxit, kalimat pertama yang sering terucap sebagai pembuka obrolan adalah, “Dengan siapa, dari mana?” Terkadang juga disingkat menjadi, “dngn cyp, drMn?” Maklum kala itu masih jarang ponsel qwerty sehingga mempersingkat kata dengan menghilangkan huruf vokal menjadi solusi demi mengakselerasi aktivitas per-chatting-an.

Sayangnya, pada 2016 lalu, aplikasi Mxit telah resmi menghentikan operasionalnya. Meski keberadaan aplikasi tersebut telah hilang dari jagat media sosial, tapi kenangan akan aplikasi tersebut masih tetap terngiang bagi anak-anak kelahiran 90-an, utamanya pengguna ponsel berbasis Symbian dan Java.

Berikut ini adalah beberapa kenangan tentang aplikasi yang identik dengan warna hitam tersebut.

#1 Promosi kontak di Ime nyambi cari pacar virtual

Ime adalah ruang bebas bagi para pengguna aplikasi Mxit. Di ruang ini, siapa pun dapat mempromosikan akunnya atau menambahkan kontak dengan pengguna Mxit yang ada di wilayah lain. Ketika membuka Ime, saya kerap menemukan beberapa pengguna Mxit yang berasal dari Jawa Timur seperti Surabaya, Trenggalek, dan Malang.

Jamak sekali ditemukan kalimat promosi seperti, “cari tMen cwok yang g piktor” (piktor = pikiran kotor). Para perempuan pengabdi Mxit menggunakan kalimat tersebut untuk melakukan screening awal dari laki-laki yang pikirannya kerap mengarah pada urusan selangkangan.

Pernah saya iseng mencoba mempromosikan diri saya sendiri di Ime, dan mendapatkan kontak seseorang yang sempat menjadi pacar virtual tanpa pernah bertemu.

#2 Rivalitas suporter bola sambil memuaskan hasrat ngomong kasar

Pertama kali saya mengenal rivalitas antara Bonek dan Aremania bukanlah dari media atau tabloid Socccer, melainkan berkat adanya aplikasi Mxit. Di mana melalui menu Ime, saya kerap menemukan kalimat-kalimat kasar seperti hewan berkaki empat yang ditujukan kepada suporter klub bola seperti Arema, Bonek, Viking dan, The Jack. Dari Ime ini pula saya mengenal kata “jancok” yang terkadang juga ditulis dengan kata “dancok”.

Jika tim junjungannya kalah dalam pertandingan, bukan tidak mungkin ejekan bernada sarkas akan menggelora. Mereka yang menang akan mengejek permainan lawan yang buruk. Sementara mereka yang kalah mengelaknya dengan tuduhan pertandingan tidak fair. Pokoknya baddas pisan, euy. Gara-gara beda klub sepak bola, seseorang bisa merapal nama hewan dan berbalas cacian.

Andai kala itu sudah ada polisi virtual yang mainan Mxit, mungkin Pak Polisi tidak bisa istirahat karena banyaknya kalimat yang tidak pantas berseliweran di media sosial.

#3 Chat room sebagai sarana “cie-cie” yang lagi PDKT

Chat room ini boleh dibilang mirip seperti grup WhatsApp atau grup BBM. Siapa pun pengguna aplikasi Mxit bisa diundang masuk dan bisa pula keluar dari grup kapan pun.

Umumnya chat room yang terbentuk tidak akan bertahan lama. Dulu chat room Mxit ini seringnya dipakai untuk ngecengin orang yang sedang pedekate. Dari situlah lontaran cie-cie akan santer terdengar oleh mak comblang dari masing-masing pihak.

Andai Mxit masih ada sampai sekarang, mungkin aplikasi ini akan menjadi alternatif taaruf online selain WhatsApp. Di mana anggota dalam chat room tersebut berisi ustaz dan ustazah yang memantau aktivitas berbalas pesan antara pihak laki-laki dan perempuan, agar keduanya tidak saling japri.

Sumber Gambar: YouTube MJ Tube

BACA JUGA 7 Aplikasi Chat Alternatif untuk Pindah dari WhatsApp yang Sudah Makin Aneh atau tulisan Dhimas Raditya Lustiono lainnya.

Baca Juga:  Penggambaran Nafsu Manusia dalam Lakon Pewayangan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.