Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenal Kultur Jaker, para Pengamen Klimis yang Memuliakan Pekerjaannya

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
24 Desember 2020
A A
Mengenal Kultur Jaker, para Pengamen Klimis yang Memuliakan Pekerjaannya terminal mojok.co

Mengenal Kultur Jaker, para Pengamen Klimis yang Memuliakan Pekerjaannya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Mereka tampil dengan kemeja rapi, celana halus, dan berikat pinggang. Kadang bersepatu, kadang pula memakai sandal. Wajah yang terlihat bersih dengan gaya sisiran klimis. Sekilas mereka terlihat seperti bapak-bapak kantoran.

Yang membedakan, mereka menentang gitar, atau gitar kecil 3 senar yang disebut kentrung. Mereka juga wira wiri di lampu merah atau berkeliling dari satu rumah ke rumah lain. Mereka bekerja sebagai pengamen.

ADVERTISEMENT

Mungkin kita memandang pengamen sebagai sosok khas jalanan. Kumal, bau, dan terkesan urakan. Namun, tidak dengan beberapa pengamen. Beberapa pengamen berumur ini tampil sebagai sosok necis yang jauh dari stigma pengamen.

Mereka menyebut pekerjaan mengamen sebagai jaker. Jaker sebenarnya adalah kata “kerja” yang dibalik. Dari istilah ini saja, para pengamen necis ini menempatkan pekerjaan mereka dengan luhur. Mereka menolak stigma negatif pengamen sebagai orang jalanan yang tidak beradab. Lantaran mereka memandang pekerjaan mengamen lebih dari sekadar jalan cari uang saat kepepet. Mengamen adalah cara hidup.

Lantaran menjadi passion, maka mereka mengamen dengan totalitas. Umumnya mereka akan memainkan lagu hingga selesai, meskipun sudah diberi uang. Mereka juga senang jika mendapat request lagu. Sering kali saya dan teman-teman request lagu-lagu Iwan Fals atau Panbers pada pengamen jaker ini.

Ada dua tokoh jaker legendaris di Jogja. Pertama adalah Peter Lennon. Om-om dengan tampilan khas The Beatles ini rajin mengamen di sepanjang Jalan Kaliurang. Tentu dengan lagu wajib seperti “Hey Jude” dan “Let It Be”. Yang kedua adalah almarhum Sujud Kendang Sutrisno. Tokoh yang dijuluki pengamen agung ini terkenal dengan tabuhan kendang serta lirik lagu nakal karangannya sendiri.

Latar belakang jaker juga beragam. Ada yang mengamen karena itu pekerjaan mereka. Ada pula yang mengamen karena ingin saja. Nah, yang kedua ini unik. Beberapa sudah hidup cukup mapan. Namun, ini tidak menghalangi mereka untuk tetap panas-panasan demi tetap mengamen.

Saya sering bertemu jaker ketika ngaso di angkringan atau burjonan. Setiap ada kesempatan, saya coba sapa mereka, “Habis jaker, Pak?” Biasanya mereka akan menyahut ramah jika paham dengan kode jaker ini.

Baca Juga:

Jalan Benteng Pancasila Mojokerto Tak Lagi Istimewa, Uang dan Nyawa Selalu Terancam Akibat Kejahatan Jalanan Tak Diselesaikan

Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

Akan tetapi, pertemuan saya dengan jaker lebih intim. Pengamen jaker yang saya temui pertama kali adalah eyang saya. Blio bukanlah tunawisma atau terjebak kemiskinan. Eyang saya tetap memiliki pemasukan dari bisnis batik. Eyang putri saya juga seorang guru dan PNS. Tapi, kok, ya blio masih mau panas-panasan di jalan?

Tentu ini membangkitkan penasaran saya. Apa yang menjadi alasan seseorang untuk menjadi pengamen. Bahkan ia menjalani kerjanya yang mungkin lebih melelahkan dari pekerjaan utamanya. Beberapa kali saya bertanya pada mereka, terutama ketika ngobrol sambil wedangan di angkringan.

Beberapa yang saya tanya memang menjadikan mengamen sebagai pencaharian utama. Namun, bukan berarti mereka sekadar mengamen. Mereka menolak untuk berpakaian lusuh yang membuat iba. Di mata mereka, mengamen tetaplah sebuah pekerjaan. Dan beranda necis adalah cara mereka menghargai sebuah pekerjaan.

Mereka juga menolak cara mengamen yang sekadar cari uang. Mereka tetap ingin menghibur orang lain dengan imbalan. Kecuali mengamen di lampu merah, mereka akan selalu menyelesaikan lagu yang dinyanyikan. Tidak ada alasan untuk memotong lagu. “Jika kerja itu harus tenanan, Mas,” ujar salah satu jaker yang saya temui di angkringan dekat Stasiun Lempuyangan.

Ada juga jaker lain yang biasa mengamen di Seturan, Jogja. Sayang sekali, obrolan seru tahun lalu ini membuat saya lupa bertanya nama blio. Jaker yang rambutnya dikucir ini bukan tunawisma. Ia bukan pula orang dengan kondisi ekonomi ngenes. Sebenarnya, blio sedang menikmati masa tua, ketika anak-anaknya juga sudah berkeluarga dan berkecukupan semua. Akan tetapi, blio tetap mengamen dengan sungguh-sungguh.

“Saya suka nyanyi, Mas. Tapi, muka jelek seperti saya tidak laku nyanyi di rumah makan,” ujar blio sambil terkekeh. Pengamen klimis ini mengatakan bahwa anak-anaknya sudah melarang blio untuk mengamen. Namun, ia tetap saja ngeyel, meskipun harus sembunyi-sembunyi saat mengamen.

Penampilan pengamen satu ini juga sangat mbois. Kemeja bowling dengan dua kancing terbatas dibuka. Celana halus diikat dengan sabuk kulit. Kacamata hitam digantung seperti dasi. Walah, saya pun pengen tampil necis seperti bapak yang berusia 50-an tahun ini.

“Jaker seperti saya lebih butuh pendengar daripada uang. Lha nek saya nyanyi di rumah, ibune (istri) malah nggak suka, jhe,” imbuh blio. Ketika saya tanya pendapatan blio, hanya dijawab, “Cukup buat jajan kayak gini, Mas. Kanggo duit lanang (untuk uang laki-laki).” Istilah uang laki-laki adalah uang simpanan untuk memuaskan hobi laki-laki. Misal burung kicau, koleksi akik, atau ngopi cantik.

Makin lama saya ngobrol dengan blio, makin jauh juga saya memahami eyang saya. Dulu sebelum stroke, eyang saya mengutarakan keinginan untuk iseng-iseng mengamen kembali. Tentu keluarga saya menolak mentah-mentah. Waktu itu saya cuma berpendapat, “Yang penting halal dan tidak merusak badan.”

Ternyata, mengamen punya nilai lebih bagi beberapa orang. Pengamen jaker adalah suara merdu akar rumput yang penuh semangat hidup. Dan sampai saat ini, saya lebih bangga mengenal eyang saya sebagai pensiunan jaker daripada seorang bangsawan.

BACA JUGA Jenis-jenis Pengamen di Sekitar Kita dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2020 oleh

Tags: jakerPengamen
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Pengamen Datang, Nafsu Makan Menghilang: Keluh Kesah Pelanggan Warung Makan yang Hanya Ingin Makan dengan Tenang

Pengamen Datang, Nafsu Makan Menghilang: Keluh Kesah Pelanggan yang Hanya Ingin Makan dengan Tenang

29 November 2023
Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

18 Agustus 2024
ngamen gratis

Tulisan “Ngamen Gratis” di Beberapa Tempat Makan yang Berpotensi Menyakiti Hati Seorang Pengamen

12 Juli 2019
Kawasan Braga Bandung dan Sekitarnya Itu Asyik buat Nongkrong, asal Nggak Ada Punglinya Aja

Kawasan Braga dan Sekitarnya Itu Asyik buat Nongkrong, asal Nggak Ada Punglinya Aja

16 Oktober 2023
Coba Kasih Tahu, Kenapa Ngasih Imbalan ke Pengamen Itu Nggak Wajib?

Coba Kasih Tahu, Kenapa Ngasih Imbalan ke Pengamen Itu Nggak Wajib?

5 Maret 2020
pengamen Bis Jurusan Solo-Yogyakarta

Kangen Lagu Pengamen di Bis Solo-Yogyakarta

19 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan Mojok.co

4 hal yang tidak saya sangka bisa dilakukan driver ojek online selain mengantar penumpang dan makanan

1 Agustus 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

31 Juli 2026
Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang mencapai jutaan rupiah Mojok.co

Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang bisa mencapai jutaan rupiah

30 Juli 2026
Andai dapat rejeki nomplok Rp100 miliar, saya mau bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin Mojok.co

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

30 Juli 2026
4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo Mojok 

4 hidden gem Desa Ngadirejo Pasuruan yang nggak masuk brosur wisata Bromo 

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.