Mengenal Kalimat-kalimat Template dalam Obrolan Julid – Terminal Mojok

Mengenal Kalimat-kalimat Template dalam Obrolan Julid

Artikel

Nasrulloh Alif Suherman

Apakah kalian tahu kegiatan yang paling banyak digandrungi oleh masyarakat kita pada umumnya? Betul sekali, perjulidan duniawi adalah kegiatan yang paling sering dilakukan, ditemui, dan dinikmati oleh banyak orang. Selain tidak memakan biaya, kegiatan julid yang sudah menjadi (((tradisi))) ini bisa dilakukan di mana saja, baik saat berbelanja di tukang sayur, hingga saat sedang makan di restoran paling mewah sekali pun.

Julid adalah kegiatan yang dilakukan oleh berbagai kalangan. Tidak melihat gender, suku, ras, dan agama. Semuanya suka julid, julid is nikmat~

Sebagai orang yang cukup memperhatikan dan menggemari aktivitas julid, saya menemukan beberapa kalimat yang sering menjadi template dalam sebuah obrolan julid. Mulai dari yang singkat, sedang, sampai yang pura-pura tidak tahu padahal nyindir. Bagi kalian yang mungkin tidak terlalu memperhatikan, simak pengamatan saya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ini~

#1 Eh, eh, tahu nggak?

Kalimat seperti ini cukup sering saya temukan saat sedang ngobrol dengan teman. Kalau saat ngobrol tiba-tiba ada yang bicara seperti itu, tolong sigap dan perhatikan, sebab kemungkinan besar kalian akan masuk dalam sesi obrolan julid. Kalimat “Eh, eh, tahu nggak?” jadi template sebelum memulai obrolan julid lantaran merupakan kalimat padat, namun menarik perhatian.

“Eh, eh,” adalah panggilan yang tidak terlalu menghabiskan banyak energi dan membuat orang-orang pasti menoleh. Setelah itu gunakan “Tahu nggak?” yang bakal mengundang pertanyaan di benak masing-masing orang. Tidak percaya? Coba perhatikan secara saksama saat ngobrol dengan teman yang doyan julid, wqwqwq.

#2 Lihat deh si Anu

Nah, kalau kalimat yang satu ini kadang saya temukan dalam perkumpulan ibu-ibu yang sedang ngobrol. Baik itu sedang ngobrol di tukang sayur, arisan, sampai yang tiba-tiba lagi ketemu di jalan. Awalnya obrolan biasa, lama-lama mengarah ke satu individu dan mengorek hal yang kelihatan tidak “normal” di mata mereka. Aduh, memang paling canggih kalau soal mengkritik orang lain, dah!

#3 Jangan bilang siapa-siapa

Asem sih, katanya jangan bilang siapa-siapa, tapi ngomong ke banyak orang. Ini salah satu tindakan terpuji yang boleh ditiru ya, Bund. Sebab, kalau ada masalah pasti infonya akan menyebar dengan sangat cepat. Memang ada yang benar-benar bermaksud jangan kasih tahu siapa-siapa sih, tapi yang dikasih tahu juga ngasih tahu ke orang lain dan ngomong, “Jangan bilang siapa-siapa.” Terus yang dikasih tahu lanjut lagi ke orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Ujung-ujungnya balik ke telinga yang pertama. Haduh…

#4 Bukannya apa-apa

Di tengah obrolan julid, pasti ada saja kalimat seperti ini di tengah-tengah percakapan. Biasanya digunakan oleh orang yang menyahut dan mengiakan ucapan si tukang julid yang memulai. Kalimat ini seakan enggan atau “tidak bermaksud” untuk menjelekkan, tapi tetap weh dihajar. Ini nih contoh orang yang kebanyakan basa-basi, tapi sebenarnya pengin juga. Aya aya wae~

#5 Nggak nyangka ya, padahal orangnya baik

Asli deh, kalimat semacam ini juga ada dalam obrolan-obrolan julid. Setelah dimulai dengan kalimat-kalimat yang mengungkapkan sisi buruk seseorang, pendapat yang ragu-ragu, pendapat yang ngomporin, hingga obrolan mulai lancar, ujung-ujungnya pasti ada rasa kaget yang diucapkan dengan template kalimat julid.

“Nggak nyangka ya, Bu. Padahal mah dia orangnya anu, orangnya gini.” kira-kira begitulah gambaran penggunaan ucapan tersebut.

#6 Kalimat-kalimat religius

Kalau sedang julid, pasti ada satu atau dua orang yang menggunakan kalimat-kalimat religius macam istighfar sampai takbir. Jadi, biasanya orang-orang demikian adalah orang yang terus membantah, dan supaya mereka yang sedang julid berhenti julid. Lihat saja film Tilik yang sempat viral itu, ada kan satu orang yang begitu.

Namun, ada juga yang cuma ngomong istighfar di mulut saja, alias tetap hantam terus tuh obrolan, tidak pakai rem, dan gasss terus. Yang penting julid. Ada-ada saja sih, ngomong kalimat religius, tapi tetap dilanjutkan. Lebih baik kalau merasa religius, menyingkir saja lah~

Ingat, julid keseringan itu tidak baik walaupun nikmat. Dilihat dari sisi positifnya, julid bisa jadi bahan iktibar. Tapi ya jangan keseringan sampai setiap hari juga! Mendingan tuh mulut dipakai buat ngaji (masya Allah) daripada buat ngomongin orang lain. Intinya, julid secukupnya dan tetap sewajarnya. Jiahhh.

BACA JUGA Eren Yeager di ‘Attack on Titan’ Cenderung Jahat dan Abuse of Power dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Baca Juga:  Julid Abadi, yang Fana Itu Kebaikan dan Keburukan
Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
10


Komentar

Comments are closed.