Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenal Kata Umpatan Jogja yang Nggak Ada Serem-Seremnya

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
22 Oktober 2020
A A
Perlahan tapi Pasti, Warmindo Menggeser Angkringan dari List Tempat Makan Murah terminal mojok.co

Perlahan tapi Pasti, Warmindo Menggeser Angkringan dari List Tempat Makan Murah terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai anak muda yang berkecimpung di lingkungan warung kopi, pasti tidak asing dengan kata umpatan, yang dalam bahasa jawa dikenal dengan sebutan “mesoh” atau “misuh”. Bagi orang Jawa Timur, kalimat umpatan ini tidak harus digunakan ketika sedang marah. Bisa juga sebagai sapaan terhadap orang yang akrab. Di Jawa Timur, kita bisa mesoh dengan bebas di hampir semua tempat, entah di jalan raya, warung kopi, rental PS, bahkan di sekolah atau kampus.  Namun, berbeda dengan di Jogja, melontarkan kata umpatan di tempat umum adalah hal tabu, atau dalam bahasa Jogja disebut wagu. Masyarakat Jogja memang terkenal ramah. Baik dari ucapan maupun perbuatan. 

Ini tercermin di semua tempat. Misalnya di jalanan. Saya sering dibuat kagum oleh tingkah masyarakat Jogja. Khususnya pengendara motor. Anda akan sangat sulit menemukan kalimat umpatan “tercecer” di jalanan Jogja. Pengendara motor di sana sangat sopan sekali. Pernah suatu ketika saat lampu merah sedang rusak dan lalu lintas awut-awutan, ada pengendara motor yang hampir menabrak pengendara motor lainnya. Saya sudah membayangkan akan melihat adu jotos gratisan secara langsung, namun saya tertegun. Alih-alih adu jotos, pengendara yang hampir tertabrak hanya mengacungkan jari jempol ketika orang yang hampir menabraknya meminta maaf.

Begitu juga di warung kopi atau di rental PS. Kedua tempat yang setahu saya merupakan “sarang” lontaran kata umpatan, ternyata tidak demikian ketika di Jogja. Saya sendiri tidak tahu secara pasti kenapa bisa seperti itu. 

Ini bukan berarti orang Jogja tidak bisa mengumpat. Seramah apapun orang Jogja, kalau marah ya marah, tidak mungkin dong kalau marah malah ngasih giveaway.

Orang Jogja juga kerap mengucap kata umpatan, namun di tempat tertentu dan dengan kosa kata yang di telinga saya terasa aneh juga hambar. Bagi saya, umpatan adalah luapan emosi ketika sedang merasakan sesuatu. Jadi, kata umpatan seharusnya terlihat garang dan seram.

Kata umpatan orang Jogja justru lucu. Saya kasih tahu, umpatan orang Jogja yang paling default adalah “bajigur”. Iya, Anda tidak salah baca, bajigur adalah sebuah umpatan di daerah istimewa ini. Saya bahkan tidak perlu menyensor kata umpatan tersebut karena bagi saya itu bukan kata yang kotor.

Sekali lagi, saya tidak sedang bercanda. Umpatan default orang Jogja memang bajigur.

Saya yang penasaran pun mulai bertanya pada warga Jogja tentang makna bajigur dalam tatanan bahasa umpatan mereka. Apakah ada makna filosofisnya, atau memang sekadar umpatan saja. 

Baca Juga:

Budaya di FBSB UNY: Sekadar Tambahan Nama atau Beneran Punya Makna?

Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

Lha gimana, bajigur ini kan sejenis minuman hangat, kenapa bisa dijadikan umpatan? umumnya yang dijadikan umpatan adalah kosa kata sebangsa hewan atau kata sifat yang konotasinya negatif. Makanya bagi saya ini adalah keanehan. 

Jika disepakati bahwa yang digunakan sebagai kata kasar adalah sebangsa makanan dan minuman, seharusnya saya juga menemui kata umpatan sejenisnya, seperti, “Woo dasar gudeg!” atau “Dasar sate klatak!”Sayangnya, hal konyol seperti itu tidak pernah saya temukan. Artinya tidak semua kosa kata sebangsa makanan dan minuman dijadikan kata kasar.

Memang masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun berdasarkan cerita dari warga setempat, bajigur adalah plesetan dari kata bajingan. Sama seperti umpatan jangkrik, yang merupakan plesetan dari janc*k.

Jika kita cari di wikipedia, bajingan adalah seseorang yang menjadi pemegang kendali sapi pada kendaraan cikar atau gerobak sapi. Dulu, khususnya di daerah Jawa, kendaraan belum sebanyak sekarang. Ketika masyarakat ingin melakukan perjalanan jauh untuk berdagang, atau sekadar mencari hiburan, mereka hanya bisa mengandalkan cikar sapi, atau gerobak sapi. Itu pun mereka nebeng.

Nah, tidak seperti kereta atau angkutan umum lainnya yang memiliki jam operasional tetap, kemunculan gerobak sapi ini tergolong serampangan. Kadang datang pas pagi, siang, bahkan sore.

Masyarakat yang tidak sabar menunggu akhirnya meluapkan emosinya dengan kata umpatan, “Bajingane kok suwe tenan tekane.” (bajingannya kok lama gak datang-datang).

Dari sana, terjadilah pergeseran makna, yang awalnya bajingan adalah sebuah profesi, selanjutnya dipakai untuk menyifati orang yang suka terlambat, “Suwe tenan kowe, koyo bajingan wae.” (lama sekali kau, seperti bajingan saja).

Lambat laun, kata bajingan menjadi sebuah umpatan, ini bisa dilihat di KBBI bahwa bajingan bukan lagi diartikan sebagai sopir gerobak sapi, melainkan sebagai kurang ajar atau kalimat makian.

Kemudian (masih menurut warga sekitar), alih bahasa dari bajingan ke bajigur ini dipengaruhi oleh budaya orang Jogja yang memang suka satir. Hal ini memang harus saya amini.

FYI, saya seorang guru. Pernah suatu ketika saat kunci jawaban yang saya berikan ndilalah salah, orang tua murid langsung WhatsApp saya begini, “Pak, ini nomor 6 jawabannya benar begitu kah? Kok saya jadi bingung yah, apa saya yang salah baca?”

Agak kesatir-satiran. Berbeda dengan orang Jawa Timur yang ketika ada kasus serupa, mereka akan langsung mengatakan, “Pak, nomor 6 ini harusnya jawabannya ini, bukan ini.” Pada intinya orang Jogja suka menggunakan kalimat satir, sedangkan orang Jawa Timur memakai kalimat sarkas.

Meski awalnya agak aneh, pada akhirnya, saya pun setuju dengan peribahasa “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Saya juga setuju dengan Cak Nun yang mengatakan bahwa Jogja ini bukan kota budaya, melainkan ibu kota kebudayaan. Sebab banyak hal yang bisa dipelajari dari Jogja. Bukan sekadar masalah UMR.

Namun, menjadi tidak asyik ketika kita mesoh seperti orang Jawa Timur saat di Jogja. Kata “bajigur” tetap menggambarkan kekesalan dan luapan emosi yang afdal. Bisa jadi umpatan “jangkrik” justru hambar kalau digunakan buat marah-marah di Jogja.

BACA JUGA Membandingkan Biaya Hidup di Jogja dengan Malang dan tulisan M. Afiqul Adib lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2020 oleh

Tags: Budayaemosi
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

Ganti Nama Tidak Menjamin Apa-apa, Bajingan Tetaplah Bajingan sekalipun Ganti Nama Seribu Kali

30 Agustus 2024
Hal-hal Unik yang Saya Jalani Saat Menjadi Ekspatriat di Arab Saudi

Hal-hal Unik yang Saya Jalani Saat Menjadi Ekspatriat di Arab Saudi

22 Agustus 2023
Cheers! Menelusuri Budaya Minum soju di Korea Selatan terminal mojok

Cheers! Menelusuri Budaya Minum Alkohol di Korea Selatan

16 April 2021
kafir

Nonton Drama Korea tidak Termasuk Bagian dari Kafir

10 September 2019
3 Kebiasaan di Kampus (yang katanya) Merdeka, tapi Membuat Mahasiswa Tidak Merdeka

3 Kebiasaan di Kampus (yang katanya) Merdeka, tapi Membuat Mahasiswa Tidak Merdeka

18 Agustus 2024
Orang yang Nggak Enakan dan Suka Ngalah Sering Kali Jadi Korban Eksploitasi Temannya

‘Nggak Enakan’ Orang Indonesia sepertinya Perlu Dikasih Batas

3 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Cocok Jadi Suguhan saat Lebaran Mojok.co

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Nggak Mengecewakan dan Cocok Jadi Suguhan Lebaran

26 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

24 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.