Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mengenal Istilah-istilah Kelamin yang Digunakan Orang Jawa untuk Memanggil Anak

Aly Reza oleh Aly Reza
16 April 2020
A A
istilah kelamin untuk memanggil anak
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam sebuah perbincangan di warung kopi—sebelum PSBB diberlakukan—kawan saya yang bukan orang Jawa sempat mengonfirmasi kepada saya, apa benar istilah kelamin digunakan orang jawa untuk memanggil anak?

Pertanyaan tersebut diakuinya terbesit setelah menyaksikan siaran ILC (yang entah apa temanya saya lupa) di YouTube pada bagian ketika dalang edan Sujiwo Tejo berujar, “Orang Jawa itu dari kecil sudah dididik akrab dengan hal-hal tabu. Para orang tua kalau manggil anaknya itu dengan sebutan alat kelamin. Kalau cewek dipanggil vagina, kalau cowok penis.”

Setelah mengasih tunjuk video tersebut kepada saya, kawan saya ini lantas bertanya, “Masa orang Jawa manggil anaknya; na vagina, gitu? Kok aneh, ya?” Mendengar itu saya ngeklek (terbahak) dengan cara paling radikal. Ya bukan begitu juga Sutrisnooo.

Khazahan Jawa memang terlampau luas untuk diarungi, terlalu dalam untuk diselami, dan terlalu abstrak untuk dipahami. Untuk menggambarkan betapa kayanya khazanah Jawa bahkan ada anekdot berbunyi: kalau bahasa Indonesia cuma punya satu istilah untuk ‘makan’, maka lain lagi dengan orang Jawa. Bagi masyarakat Jawa, makan bisa dicacah-cacah menjadi sekian deksripsi tergantung siapa yang menggunakan istilah tersebut? Makan dalam istilah jawa bisa berupa, mangan, mbadok, madhang, nyekek, nguntal, dhahar, dan segala macem. Pun berlaku untuk hal-hal lainnya.

Termasuk dalam urusan panggilan terhadap anak. Untuk memudahkan identifikasi objek yang dipanggil, biasanya para orang tua akan memanggil anaknya dengan sebutan sesuai dengan jenis kelaminnya. Fungsi lain yakni jika seseorang tidak mengenal si anak, maka cukuplah dia memanggil anak tersebut dengan jenis kelaminnya maka si anak pun akan segera mengerti bahwa dialah yang dipanggil.

Seperti contoh, dulu sewaktu kecil banyak sekali kawan-kawan saya dari laki-laki atau perempuan yang ikut main di pekarangan rumah simbah. Ketika ada anak yang berlari-lari di bibir jurang, maka simbah akan menegurnya dengan ungkapan, “Jangan dekat-dekat jurang cung, bahaya.” Kata cung tersebut merujuk pada kawan laki-laki saya yang memang sedang di tepian jurang. Tanpa diperingati dua kali, kawan laki-laki saya pun akan mengerti bahwa dirinyalah yang diwanti-wanti.

Dalam istilah linguistik memanggil anak dengan sebutan nama kelamin disebut dengan kramanisasi seks. Yaitu strategi penghalusan ekspresi seks dalam kehidupan orang Jawa. Selain untuk memudahkan dalam hal identifikasi gender, kramanisasi menurut beberapa pakar linguistik dan mengutip pendapat dari Sujiwo Tejo secara lebih jauh mengandung unsur sex education, satu hal yang penting disampaikan dengan gamblang tapi dianggap tabu oleh sebagian orang. Apalagi kalau bahasnya di hadapan anak-anak.

Jika beberapa anak-anak kota punya pengalaman mati kutu ketika kepergok nonton adegan esek-esek sama orang tuanya, beda lagi dengan kami anak turun Jawa yang kebetulan juga dari desa juga. Saya kasih tahu, semasa kecil kami bahkan sering nonton adegan ciuman antara Bari Prima dengan lawan mainnya bareng sama para orang tua kami. Dengan sendirinya kami akan paham, bahwa adegan tersebut hanya patut dilakukan oleh orang dewasa. Mangkanya tanpa disuruh pun kami para anak-anak akan mengambil inisiatif untuk menutup pandang beberapa saat selama adegan tersebut berlangsung. Meskipun sesekali wejangan tersebut akan keluar juga dari mulut para orang tua kami yang termangu di depan TV.

Baca Juga:

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

Nah, kawan-kawan sekalian, saya nggak akan pakai teori yang ndakik-ndakik untuk memaparkan temuan mengenai panggilan kelamin terhadap anak di Jawa. Dari informasi yang saya gali sendiri dari simbah, berikut adalah beberapa jenis sapaaan dengan menyebut jenis kelamin yang cukup populer dan familiar:

Satu: Panggilan untuk laki-laki

Dimulai dari panggilan yang paling populer yaitu, le atau thole. Ada yang menyebut kalau thole merupakan gabungan dari dua unsur kata yaitu, thol dan le. Thol artinya konthol (kelamin laki-laki) sementara le adalah anak. Dengan begitu panggilan thole sama maknanya dengan menyebut, “anak yang ber-konthol” yang otomatis bermuara kepada anak laki-laki.

Sedangkan menurut simbah saya, thole merupakan akronim dari kata konothole yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia maka artinya menjadi penisnya. Karena penis hanya dimiliki oleh anak laki-laki, maka panggilan tersebut sudah jelas ditujukan untuk bocah laki-laki. Konthole juga sering diambil thol saja dalam penyebutan. Akar katanya adalah konthol (penis).

Berikutnya ada juga panggilan cung yang merupakan kependekan dari kata kuncung. Kalau diartikan secara halus, panggilan ini diambil dari istilah tren gaya rambut ala anak-anak Jawa desa tempo dulu. Gaya cukur kuncung ini definisi sederhananya bisa dilihat dari gaya cukur Ronaldowati dalam serial Ronaldowati yang tayang di TPI beberapa tahun yang telah lewat. Saking trennya gaya cukur seperti ini, Didi Kempot bahkan mengabadikannya dalam salah satu lirik lagunya yang berbunyi: cilikanku rambutku dicukur kuncung.

Setelah berdiskusi dengan simbah, kuncung sendiri ternyata bisa berkonotasi erotis. Kuncung ditujukan pada kelamin laki-laki yang bentuknya lonjong dan memiliki kuncung (bagian kepala kelamin sebelum disunat) di depan. Saya sendiri agak kurang mantap, apakah mengartikan kuncung dengan pucuk kelamin laki-laki sudah tepat? Kata cung nggak jarang juga dianggap kependekan dari kata kacung. Makna kasarnya adalah pesuruh. Simbah saya memberi dua alternatif tafsir untuk kata ini.

Pertama, pesuruh diidentikkan dengan anak-anak yang sering disuruh ibunya untuk sekadar membeli terasi dari warung tetangga. Karena masih terlalu general, maka simbah memberi alternatif kedua, yaitu merujuk pada pekerjaan sebagai pesuruh atau kacung yang pantasnya diemban oleh anak laki-laki. Kacung dalam konteks tafsir yang kedua merujuk pada jenis pekerjaan berat. Terakhir, ada lagi ungkapan yang cenderung halus dan bukan merupakan jenis kramanisasi seks, yaitu panggilan nang. Kata nang tidak lain adalah akronim dari kata lanang yang berarti laki-laki.

Dua: Panggilan untuk perempuan

Kramanisasi seks untuk panggilan perempuan yang umum adalah wuk. Asal katanya adalah wawuk, dimaksudkan untuk menyebut kelamin perempuan. Atau kalau di desa saya lebih populer dengan sebutan bawuk dengan arti yang sama. Bawuk dalam pengertian simbah saya adalah istilah untuk menggambarkan bau tidak sedap. Ini sesuai dengan kodrat kelamin perempuan yang sesekali memang menguar aroma tidak sedap. Saat sedang keputihan misalnya.

Disusul sapaan selanjutnya yaitu, nduk atau genduk. Keduanya memiliki padanaan arti dengan belenduk dan gendukan/gundukan, atau dalam bahasa Indonesia: bulatan. Hal ini meunjukkan ciri perempuan yang khas dengan bulatan di dadanya (payudara). Sapaan lain yang masih memberi gambaran tentang payudara adalah nok atau denok.

Sebutan nok atau denok pada dasarnya berarti gumpalan. Ditujukan kepada perempuan karena perempuan lah yang memiliki gumpalan di dadanya. Simbah memberi perspektif lain bahwa nok adalah plesetan untuk genok/genuk, wadah air terbuat dari tanah liat. Cara memasukkan air ke dalam genok/genuk adalah dengan disiramkan atau dikucurkan. Bagi simbah, ini adalah gambaran kelamin perempuan sebagai wadah untuk disirami atau dikucuri air (mani) laki-laki dalam hubungan persenggamaan.

Karena sedari kecil sudah dididik untuk menembus batas-batas ketabuan, maka ketika membincang mengenai kondisi biologis, kesehatan reproduksi, maupun sex education menjadi sesuatu yang nggak mengagetkan bagi kami.

Saya malah kadang heran sama orang-orang yang mau nyebut vagina saja dengan malu-malu kucing. Padahal vagina atau penis bukan termasuk istilah yang kotor dan menjijikkan, kecuali apa yang keluar dari keduanya. Bukan juga tidak pantas untuk dikatakan secara terang-terangan. Sebab keduanya memang ada dalam diri kita. Dan sialnya, orang-orang yang menyebut alat reproduksi ini dengan nama aslinya, sering kali diidentikkan dengan sosok yang mesum dan cabul. Meski memang ada juga yang begitu, beberapa.

BACA JUGA Hierarki Penyebutan Orang Meninggal dalam Bahasa Jawa dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 April 2020 oleh

Tags: Bahasa Jawapanggilan anak di masyarakat jawa
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari “Horok” Sampai “Nine” Mojok.co

8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari “Horok” Sampai “Nine”

29 Juli 2025
13 Kosakata Bahasa Bali yang Mirip Bahasa di Jawa

13 Kosakata Bahasa Bali yang Mirip Bahasa di Jawa

13 November 2022
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
Mempertanyakan Orang Jawa Tulen yang Masih Bingung dengan Istilah Bahasa Jawa “Selawe”, “Seket", dan “Sewidak” Mojok.co

Mempertanyakan Orang Jawa Tulen yang Masih Bingung dengan Istilah Bahasa Jawa “Selawe”, “Seket”, dan “Sewidak”

22 Mei 2024
5 Kosakata Bahasa Jawa Khas Orang Pati yang Sulit Dimengerti Orang Demak

5 Kosakata Bahasa Jawa Khas Orang Pati yang Sulit Dimengerti Orang Demak

14 Februari 2024
17 Istilah Jatuh dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Kesrimpet sampai Ngglundung

17 Istilah Jatuh dalam Bahasa Jawa, Mulai dari Kesrimpet sampai Ngglundung

9 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.