Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Mengadu Gitasav dan Sophia Latjuba: Contoh Konkret Praktik Misoginis di Media Sosial

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
7 Februari 2023
A A
Mengadu Gitasav dan Sophia Latjuba Contoh Konkret Praktik Misoginis di Media Sosial Terminal Mojok

Mengadu Gitasav dan Sophia Latjuba Contoh Konkret Praktik Misoginis di Media Sosial (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jagat media sosial Twitter kembali dimeriahkan oleh keributan perempuan versus perempuan. Kali ini objeknya adalah pernyataan Gitasav (((lagi))) yang diadu dengan Sophia Latjuba. Terdengar agak aneh memang, tapi secara sederhana bisa dipahami bahwa hal ini terjadi (lagi) akibat mendarah dagingnya nilai misoginis dalam masyarakat kita.

Mulanya, Gitasav membalas sebuah komentar di akun Instagramnya terkait “rahasia” dirinya awet muda. Dia menjawab bahwa menganut childfree adalah anti-aging alami yang membebaskan dirinya dari faktor risiko penuaan dini.

Menurut kalian real ga sih punya anak tu bikin cepet tua? ini bukan bahas soal perawatan kulitnya dulu, I mean.. stressnya lebih berat banget kalo punya anak ketimbang yang nggak. (cuma perkiraanku loh ya). no salt
[askrl] pic.twitter.com/CDld0fO9xR

— Askrlfess (@Askrlfess) February 6, 2023

Keributan dimulai ketika warga Twitter yang memang hobi berargumen itu kemudian menyatakan ketidaksetujuan dengan pernyataan Gitasav tersebut. Mereka membawa nama Sophia Latjuba, aktris berusia 50 tahun lebih yang masih tampak muda meskipun punya anak.

Sudah bisa ditebak ya arah perdebatannya? Netizen ramai-ramai menafikan argumen Gitasav dengan menjadikan kondisi fisik Sophia Latjuba sebagai tameng. “Kata siapa punya anak bikin tua? Tuh buktinya Sophia Latjuba awet muda meski punya anak.” Kurang lebih demikianlah isi argumennya.

Gitasav dan Sophia Latjuba bahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing

Sebenarnya nggak ada yang lebih benar atau lebih salah dari pilihan keduanya. Kedua perempuan itu bahagia dengan cara hidupnya masing-masing. Gitasav bahagia dengan pilihannya untuk childfree. Dan saya rasa Gita juga menjawab pertanyaan netizen terkait “rahasia” awet muda itu dengan apa yang ia alami dan yakini, yaitu childfree.

Di mana letak salahnya? Ya nggak ada, sama saja dengan para ibu yang membagikan cerita inspiratifnya bagaimana dia berproses dari yang tadinya punya kebiasaan susah bangun pagi akhirnya bisa rutin bangun pagi setelah punya anak. Dia menganggap punya anak adalah fase bertumbuhnya. Nggak ada salahnya juga, kan?

Pun Sophia Latjuba yang sedang trending juga menjalani hidupnya dengan baik. Jadi ibu, hobi olahraga, dan nggak tahu rumus lainnya apa yang membuat dia nampak lebih muda dari perempuan lain seusianya.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Akun Affiliate yang Jualan Numpang Tragedi Itu Biadab, dan Semoga Nggak Laku!

Kalau kita bisa happy dengan kebahagiaan Sophia dan kebahagiaan ibu-ibu lain, kenapa kita nggak bisa happy dengan pilihan Gitasav dan caranya berbangga dengan pilihan hidupnya? Jawabannya adalah pola pikir misoginis yg mendarah daging.

Praktik misogini kerap ditemukan dalam konten media sosial

Melansir laman Komnas HAM, misogini adalah bentuk diskriminasi terhadap gender perempuan yang melibatkan kebencian. Seorang misoginis akan memandang perempuan sebagai pihak yang memang pantas ditindas, disudutkan, dan dieksploitasi.

Dalam bentuk ekstrem, perilaku misogini kerap kita temukan dari konten-konten di media sosial yang menyalahkan perempuan korban kekerasan seksual, menormalisasi perilaku KDRT terhadap perempuan, bahkan hingga normalisasi femisida.

Tapi, dalam bentuk yang lebih ringan, perilaku menyudutkan perempuan acap kali juga kita temukan melalui cara-cara yang seolah memperlawankan perempuan satu dengan lainnya. Nggak cuma Gitasav dan Sophia Latjuba kok yang dijadikan objek, banyak juga bentuk lainnya. Misal, kalau ada kasus perselingkuhan, lebih sering mana kita temukan komentar yang menghakimi laki-laki pelaku selingkuh dibandingkan yang memperlawankan perempuan selingkuhan versus pasangan resminya?

Bentuk lainnya yang juga jamak di media sosial adalah perlawanan antarsesama ibu yang saling menjatuhkan. Yang lahiran pervaginam vs caesar, yang asi vs sufor, dan lain-lain.

Saatnya berhenti membentur-benturkan pilihan perempuan

Kita memang terlalu lama menginternalisasi kebencian terhadap perempuan. Jadi, kayaknya kalau ada perempuan tampak punya pilihan, bawaannya benci mulu. Ketika pilihannya dianggap lazim oleh masyarakat, kita masih sibuk mencari celahnya untuk dipersalahkan. Apalagi kalau pilihannya dianggap nggak lazim, seperti Gitasav yang memilih childfree ini.

Kebiasaan berpikir biner juga memperburuk keadaan. Seolah kalau Gitasav memilih childfree dan berbangga dengan pilihannya, maka dia benci atau menentang pilihan perempuan lain yang memilih punya anak. Kalau pro A pasti benci B, padahal dalam hidup nggak hanya ada 2 pilihan, kan? Bisa juga kita sebagai individu memilih childfree sembari ikut berbahagia dengan perempuan lain yang berjuang untuk punya anak, ataupun sebaliknya.

Kapan ya kita bisa berhenti membentur-benturkan bentuk pilihan perempuan dan berhenti menjadi defender A melawan B? Lalu beralih menjadi seorang pro kemerdekaan, pro terhadap kebebasan perempuan mengakses berbagai bentuk pilihan perempuan. Ikut support dan bahagia terhadap Q dan B dan C sampai Z yang dipilih secara merdeka oleh perempuan.

Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Gitasav Adalah Bukti Sulitnya Perempuan untuk Punya Pilihan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2023 oleh

Tags: childfreeGitasavmisoginisSophia LatjubaTwitter
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Fitur Story Twitter Sebaiknya Nggak Usah Ada, Terkesan Ikut-ikutan Banget terminal mojok.co

3 Hal Menyebalkan yang Sering Muncul Saat Tubir di Twitter dan Bikin Diskusi Jadi Nggak Seru

17 Agustus 2021
Yang Terjadi Ketika Perempuan Stop Bilang 'Terserah' terminal mojok.co

Yang Terjadi Ketika Perempuan Stop Bilang ‘Terserah’

13 Februari 2021
Jerome Polin Tanya di Twitter, Netizen Ngamuk. Kalian Ini Kenapa, Sih Terminal Mojok

Jerome Polin Tanya di Twitter, Netizen Ngamuk. Kalian Ini Kenapa, Sih?

27 Januari 2022
perkembangan media sosial

Balada Mengikuti Perkembangan Media Sosial Dalam Satu Dekade

20 Mei 2019
Andihiyat

Andihiyat Adalah Basnya Lini Masa Twitter Indonesia

30 Mei 2020
dark jokes mencandai kematian orang akun twitter meninggal dunia didi kmepot ashraf sinclair mojok

Pelajaran dari Kasus Akun Twitter yang Suka Menjadikan Artis Meninggal sebagai Becandaan

6 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

30 Januari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.