Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mendebat Pagar Alun-alun Utara Jogja yang Kehilangan Fitrah ‘Takhta untuk Rakyat’-nya

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
24 Juli 2020
A A
menggugat pagar alun-alun utara jogja mojok.co

menggugat pagar alun-alun utara jogja mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Malam tanggal 22 Juli 2020 adalah malam terakhir saya menahan diri. Sudah sebulan saya menahan gemas dengan proyek terbaru Dinas Kebudayaan DIY. Proyek yang menelan biaya Rp2,3 miliar itu adalah pembangunan pagar keliling Alun-alun Utara Jogja.

Kegemasan ini saya luapkan langsung kepada sang pagar. Pagar bergaya pacak suji ini berdiri kokoh mengitari alun-alun, bagai tombak yang berjajar gagah. Warna hijau pareanom menambah kesan yang kraton banget. Tapi saya tidak sreg dengan adanya pagar ini. Pagar sepele ini menghilangkan kesan terbuka dan sesrawungan guyub rukun dari Alun-alun Utara.

“Njengengan kenapa harus berdiri, Mbah?” Itulah kalimat pembuka saya kepada sang pagar. Mempertanyakan alasan kenapa pagar ini berdiri. Alasannya sih klasik. Mengembalikan alun-alun seperti tempo dulu. Menurut Sri Sultan HB X sendiri, pagar Alun-alun Utara Jogja memang pernah dipagar. “Hadirku menjadi penanda keistimewaan Jogja, Ngger,” jawab sang pagar berteori.

Alasan pembangunan pagar ini mengacu dari buku Serat Tuntunan Padalangan karya M.Ng. Nojowirongko alias Atmotjendono pada 1948. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa di sekitar Alun-alun Utara terdapat pagar keliling bergaya pacak suji. Acuan lain adalah lukisan Johannes Rach tahun 1771. Dalam lukisan tersebut, terlihat bahwa Alun-alun Utara dikelilingi pagar besi sebanyak dua baris.

Gambar dari Wikimedia Commons

“Saya nggak setuju, Mbah! Pagar tersebut tidak mengitari Alun-alun Utara seperti njenengan. Dari lukisan tersebut terlihat dua baris pagar, lalu ada area kosong yang seperti jalan. Baru setelahnya ada dua prajurit membawa tombak berhadapan. Di belakang prajurit itulah alun-alun sekarang! Pada waktu itu memang terlihat besar karena bagian jalan aspal belum ada, Mbah!” jawab saya sambil menepuk-nepuk besi pagar yang dingin.

Jawaban saya ini berdasar diskusi dengan dua guru saya. Om Bram dan Om Bobby. Blio berdua adalah duet arsitek yang tertarik dengan sejarah Jawa. Dari hasil trawangan amatiran kami, kami yakin pagar dalam lukisan tersebut masih ada hingga hari ini. Namun, pagar ini berganti menjadi pagar batu bata yang sekarang mengapit SD Pangudi Luhur dan Lapas Kelas 1 Jogja. Sedangkan pagar pada posisi baru ini memang tidak pernah ada dalam sejarah.

“Kamu mau melawan hasil olah pikir para ahli, Ngger?” tanya sang pagar. Saya terenyak, teringat pernyataan G.K.R. Mangkubumi. Blio menyatakan telah membaca referensi dan melakukan riset ke Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. “Tapi kan itu Solo?” kata saya dalam hati, berpikir bahwa mendebat tentang lokasi pagar yang benar tidak akan meluluhkan hati sang pagar hingga mau pindah sendiri.

Belum lagi, pihak Kraton Yogyakarta juga menyatakan bahwa lokasi pagar baru ini tidak sesuai dengan lokasi pagar asli. Beralasan bahwa Alun-alun Utara saat ini lebih kecil dari sebelumnya. Namun, saya merasa alasan ini hanya jawaban sekenanya. Jika ingin Alun-alun Utara seperti dulu, mengapa harus memaksakan dengan pagar yang tak sesuai?

Baca Juga:

Salah Paham Terkait Jalan Malioboro Jogja yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang, bahkan oleh Orang Jogja Sendiri

Betapa Merananya Punya Rumah Tanpa Pagar, Jadi Markas Bocil Mabar

Tapi saya belum selesai. “Mbah, jika memang berniat menjaga keistimewaan, apakah pagar Alun-Alun sebegitu pentingnya? Jogja istimewa bukan hanya daerahnya. Tapi juga karena orang-orangnya, Mbah!” saya meminjam lirik dari Jogja Hip Hop Fondation. Terlebih dana pembangunan pagar ini berasal dari Dana Keistimewaan Jogja. Dana dari APBN ini dialokasikan sesuai amanat UU 13/2012 Pasal 42.

Dana Keistimewaan berfungsi untuk mendanai kewenangan tambahan tertentu yang dimiliki oleh DIY. Di dalam kewenangan ini termasuk perkara kebudayaan dan pertanahan. Hemat saya, jika ingin menjaga keistimewaan, bukankah dana Rp2,5 miliar lebih elok dialokasikan untuk kegiatan kebudayaan? Apalagi rakyat Jogja sudah rindu pasar malam Sekaten yang hilang dua tahun terakhir. “Sekarang kita siaga Covid-19 ngger. Jangan berkumpul dulu.” Waduh, jawabannya susah dibantah ini.

Namun, materi debat saya tidak hanya perkara fakta sejarah ataupun alokasi dana. Namun juga nilai filosofi yang dimunculkan pagar ini. Bagi saya, pagar ini seperti mengaburkan kutipan populer dari Sri Sultan HB IX, “Takhta untuk rakyat.” Kutipan yang bermakna sangat dalam, yang sejalan dengan kehadiran Alun-alun Utara Jogja.

Alun-alun Utara adalah simbol sederhana atas takhta untuk rakyat ini. Di sana rakyat berekspresi sekaligus mendekatkan diri pada sang raja. Berkumpul, bersenda gurau, bahkan mencari pakan ternak bisa dilakukan di alun-alun ini. Rakyat bisa merasakan langsung kemurahan hati Sultan ketika berada di alun-alun.

Alun-Alun Utara juga menjadi tempat rakyat mengadu pada sang raja. Sejak Majapahit, dikenal sebuah budaya bernama tapa pepe. Tapa pepe adalah cara rakyat berdemonstrasi dengan menjemur diri sambil duduk bersila tanpa berkata-kata di tengah alun-alun. Tentu rakyat yang rela kepanasan di tengah lapangan pasti ingin menyuarakan sesuatu yang penting. Raja akan memanggil rakyat tersebut dan mempersilakan untuk mengaturkan aspirasi.

“Jika alun-alun njenengan pagari, bagaimana kami bisa dekat dengan Sinuhun? Bagaimana rakyat bisa merasakan takhta untuk rakyat seperti Suwargi Sultan HB IX? Meskipun disebut ruang publik, namanya pagar tetap memberi batasan tidak langsung. Berpuluh-puluh tahun Alun-alun Utara terbuka, Jogja tetaplah istimewa. Bahkan alun-alun menjadi saksi Pisowanan Ageng, ketika rakyat memperjuangkan keistimewaan Jogja. Kenapa harus dipagar, Mbah? Apa kami dibatasi untuk tapa pepe secara simbolis? Secara tidak langsung membatasi aspirasi kami?”

Belum sempat saya merasakan balasan dari sang pagar, banyak pengunjung alun-alun yang memperhatikan saya. Daripada saya dibawa ke RSJ Grhasia, lebih baik saya pulang. Biarkan pertanyaan saya yang terakhir dijawab oleh sang waktu. Toh, mau berdebat sampai ayan, pagar sudah berdiri kokoh. Saya hanya ingat satu kalimat, “Sabdo Pandito Ratu.” Sudah cukup membuat saya tutup mulut menerjang dinginnya mangsa bediding Jogja.

BACA JUGA Ontran-Ontran Yogyakarta dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2020 oleh

Tags: alun-alun utara jogjakeraton yogyakartapagar
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Betapa Merananya Punya Rumah Tanpa Pagar, Jadi Markas Bocil Mabar

Betapa Merananya Punya Rumah Tanpa Pagar, Jadi Markas Bocil Mabar

26 April 2025
gusti ahmad pelarian HB V mojok kraton jogja

Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII

29 Januari 2024
Salah Paham Terkait Malioboro Jogja yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang bahkan oleh Orang Jogja Sendiri

Salah Paham Terkait Jalan Malioboro Jogja yang Telanjur Dipercaya Banyak Orang, bahkan oleh Orang Jogja Sendiri

3 November 2025
Komunisme Berubah Jadi Kapitalisme kalau Soal Mengiklankan Partai terminal mojok.co

Wawancara dengan Pagar Bunderan Soshum UGM yang Sering Diketawain karena Dianggap Nggak Guna

25 Maret 2020
Penamaan Kampung di Jogja yang Terinspirasi dari Prajurit Keraton terminal mojok.co

Penamaan Kampung di Jogja yang Terinspirasi dari Prajurit Keraton

10 September 2020
Sama-sama Direvitalisasi, Berikut Ini 4 Hal yang Ada di Alun-alun Tegal tapi Tidak Ditemui di Alun-alun Utara Jogja

Sama-sama Direvitalisasi, Ini 4 Hal yang Ada di Alun-alun Tegal tapi Tidak Ada di Alun-alun Utara Jogja

2 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak (Wikimedia Commons)

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak: Sebuah Usaha Menghapus Cap Makanan Nggak Jelas dari Jidat Sate Taichan

7 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.