Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mendaftar 15 Kutipan Nggatheli dalam Film Tilik

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
19 Agustus 2020
A A
Opini Julia Suryakusuma terhadap Film ‘Tilik’ Berbau Kolonialisme Gaya Baru feminisme terminal mojok.co

Opini Julia Suryakusuma terhadap Film ‘Tilik’ Berbau Kolonialisme Gaya Baru feminisme terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Film pendek Tilik (2018) adalah realisasi kegelisahan saya sejak kecil. Saya berpikir, ibu-ibu kalau sedang naik kendaraan untuk tilik atau menjenguk (orang sakit, meninggal atau, baru melahirkan), biasanya mereka ngomongin apa. Dan rasa penasaran tersebut terbayarkan dengan karya dari sutradara Wahyu Agung Prasetyo melalui Ravacana Films yang didukung Dinas Kebudayaan DIY. Setelah film ini di-upload melalui kanal YouTube mereka, trending topic menjadi ganjaran manis. Sekaligus memperlihatkan bahwa tidak hanya saya yang resah dan penasaran.

Film Tilik ini mengisahkan budaya para ibu-ibu Dasawisma di Bantul dan sekitarnya. Atas asas solidaritas dan bumbu bernama nggosip, kedua hal ini melebur menjadi hal yang padu. Di Bantul sendiri budaya tilik—jika tepatnya jauh—bisa melakukan hal-hal ekstrem yang digambarkan melalui film tersebut, ya, naik truk. Ibu saya bahkan pernah naik truk dari Bantul sampai Pacitan (Jawa Timur), pulang-pulang katanya bisa bikin buku karena saking banyaknya gosip yang ia dapatkan.

Saya juga pernah menulis tentang hubungan bilateral antara tilik dan Kobutri dalam “Adu Tangkas Bus Kota Kopata, Aspada, Puskopkar, dan Kobutri” dan tak banyak yang dapat digali. Hadirnya film Tilik seakan menambah khazanah hasil observasi mengenai hal ini. Maka dari itu, di sini saya akan mencoba membedah beberapa kutipan menarik dari film yang pernah menjuarai Piala Maya untuk kategori film pendek.

Mendaftar kutipan-kutipan nggatheli dalam film Tilik

#1 Dian ki gaweane opo, yo? (Dian itu kerjaannya apa, ya?)

Barangkali kalimat ini tidak pantas dijadikan kutipan yang mengesankan. Namun, kata-kata ini mengajarkan saya bahwa sebuah gosip ibu-ibu itu dimulai dari sebuah pertanyaan. Dari pertanyaan tersebut, biasanya yang menjawab itu adalah yang melemparkan pertanyaan. Lalu muncul asumsi, setelah itu perang argumen yang sifatnya sesat pikir (baca: gosip) pun terjadi. Dalam kasus ini, Bu Tejo adalah moderator yang luar biasa.

#2 Njenengan mbok ra waton yen ngendikan (Kamu jangan asal kalau ngomong)

Formasi bergunjing bertambah seru, semisal ada salah satu ibu-ibu yang sifatnya kontra. Di sini, Yu Ning adalah antitesis dalam melerai gosip-gosip tersebut. Biasanya, ia akan kalah suara dan gibahan dari pihak pertama akan semakin bertambah dan nggapleki. Alasannya akan melebar ke keluarga dan harta benda target gosip.

#3 Nek Dian gaweane nggenah, ra mungkin ndue bondo ngono kuwi (Kalau Dian kerjaannya bener, maka nggak mungkin akan punya harta sebanyak itu)

#4 Ya Allah, Yu Nah, ki piye to, Yu Nah, ngahahaha, wong ameh ndelok padang awit negoro kok malah muntah-muntah to, Yu Nah, ngahahaha

Ini merupakan kata-kata penenang jika ada salah satu ibu-ibu yang sedang mukok-mukok atau mabok perjalanan. Lagi-lagi, Bu Tejo adalah pusat kegayengan dan ke-kemlinthi-an tata surya.

#5 Bukane aruh-aruh karo aku, malah minggati coba (Bukanya menyapa melihatku, malah menghindar)

Bu Tejo kembali membuka diskursus dengan dialektikanya untuk Dian yang ia prediksi sedang hamil di luar nikah. Ini seharusnya blio membuat spanduk begini, “Seminar Bergunjing di Atas Truk Bersama dengan Ibu-Ibu Mau Tilik”.

#6 Jempol e kareti ndisik, ben ra sido kepuyuh (Jempolnya dikareti dulu, biar nggak kebelet kencing)

Ajur! Hidup sembilan tahun di Bantul, saya baru tahu mitos ibu-ibu yang satu ini.

Baca Juga:

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

#7 Piye to Gotrek (si sopir bus), keeeh, aku kon nguyuh neng tengah sawah po piyeee! Wegah aku, wedi ulo! (Gimana sih Gotrek, aku disuruh pipis di tengah sawah apa gimana? Nggak mau, takut ular!)

Kemudian, salah satu ibu-ibu menggoda begini, “Tur ora wedi karo ulone Pak Tejo to, Bu?” (Tapi nggak takut sama “ular”-nya Pak Tejo kan, Bu?). Seluruh truk nimpali dan bersorak, “Huuuuu.” Kalau ada saya, bakal saya timpali, “Cekiweeer!”

#8 Heee?

Scene berpindah kala Bu Tejo memberi tambahan uang kepada Gotrek. Kemudian, Yu Ning bilang diterima saja dan memberi tahu Pak Tejo bakal maju pemilihan lurah. Bu Tejo pun bilang begini, “Ora, ora, tur yo sakjane kih, ehem, ehem, nek misal, eheeem (ia sembari memainkan gelang di tangannya), yo warga seng ngajokke bojoku dadi, nganu… lurah, koyo Gotrek ngono, opo Yu Ning dadi tim sukses, yo, mosok aku yo nolak, ngahahaha.”

“Kuwi mau melbu sogokan, ketimbang dadi memolo, lho.” (Itu tadi termasuk sogokan, ketimbang jadi musibah lho.) Begitu timpal Yu Ning.

“HEEE?” ini merupakan gaya kaget khas Bu Tejo yang ikonik.

#9 Langsung tumandang, ora kakehan omong. (Langsung bekerja, nggak kebanyakan bicara)

Ia perkataan Bu Tejo saat sedang kampanye terselubung untuk suaminya. Hal ini disebabkan Bu Lurah sedang sekit-sakitan dan anak lanangnya imbas-imbis nggak jelas. Bu Tejo adalah penerapan grass-root politik bobrok terbaik.

#10 Bojoku wes ora iso ‘atahiyat’ (Suamiku sudah nggak bisa ‘atahiyat)

Guyonan ibu-ibu muslim untuk menggambarkan laki-laki impoten ini lebih lucu dan lebih sadis dari guyonan bapak-bapak cakruk.

#11 TUOOOT, TUOOOTTT!

Suara klakson truk Gotrek untuk menandakan ibu-ibu harus ngumpet duduk lantaran mereka melewati perempatan. “TUOOOT, TUOOOT”, klakson kedua, ibu-ibu sudah boleh berdiri kembali. Ilmu tambahan untuk memahami pola tilik ibu-ibu menggunakan truk yang mengabaikan unsur kesalamatan babar blas.

#12 Aku ki ora fitnah, aku gur jogo-jogo wae lho (Aku tuh nggak fitnah, aku cuma jaga-jaga lho)

“Ora usah nyebar fitnah, Bu!” tegur Yu Ning yang sepertinya sudah muntab dengan gosip yang disebarkan Bu Tejo sepanjang perjalanan. Dengan ndakik, Bu Tejo bilang, “Aku ki ora fitnah, aku gur jogo-jogo wae lho. Yo, jogo-jogo nek Dian ki wedokan ra nggenah. Nggoda-nggodani bojo-bojone dewe”. Trik ini umum dijumpai pada orang yang mau mengadu domba atau ngeles ketika informasi yang ia berikan tidak valid. Kedudukan kutipan ini setara dengan “Aku nggak ada maksud, tapi… (isi dengan fitnahannya)” dan “(Fitnah)… tapi, semua kembali ke pribadi masing-masing.”

#13 Aku sengit yen ono seng ngerasani bapake bocah-bocah (Pak Tejo). Dumeh saiki dadi pemborong sukses, kekancan karo para pejabat (Aku kesal kalau ada orang menggunjingkan bapaknya anak-anak. Hanya karena sekarang jadi pemborong sukses, berteman dengan para pejabat)

Jebul, selain ofensif dalam nggosip, Bu Tejo bagus juga dalam defensif embela diri saat terimpit oleh praduga Yu Ning. Tak cokot lho, Bu Tejo!

Yu Ning pun melawan, “Informasine Bu Tejo ki ra jelas je sumberne. Lha wong mung seko omogan-omongan nggon Pesbuk ro internet kok.” Tapi, yang paling wangun adalah jawaban dari Bu Tejo, “Welah, isih langka lho. Informasi seko internet ki mitayani ono fotone, ono gambare, heee.” Tuh kan, ternyata ada yang lebih bahaya dari bocah SD ngomong bajilak saat kalah push-rank: yakni orang yang percaya semua info di internet pasti benar.

#14 Apa tak telponkan saudara saya yang polisi, ya, Phaaaak? (Apa saya teleponkan saudara saya yang polisi, ya, Paaaak?)

Gara-gara perdebatan antara Bu Tejo dan Yu Ning yang berlangsung sengit, kode klakson khas truk pembawa gabah, “TUOOOT, TUOOOT” dari Gotrek tidak mereka pedulikan dan mereka pun ditilang oleh polisi.

“Apa tak telponkan saudara saya yang polisi, ya, Phaaaak? Bintangnya lima jejer-jejer gini berani apaaa?” teriak Bu Tejo, yang menggunakan kata-kata template dan kebiasaan orang Indonesia ketika ditilang.

#15 Dadi wong ki mbok yo sing solutip ngono lho (Jadi orang tuh ya yang solutif gitu lho)

“Dadi wong ki mbok yo sing solutip ngono lho” kata Bu Tejo dengan gaya yang mangkeli. Ini adalah sarkas dari Bu Tejo kepada Yu Ning yang salah menerima informasi dari Dian. Solutip di sini bukan solatip, namun solutif. Kata-kata ini pada dasarnya sangat benar, tapi karena diucapkan oleh Bu Tejo yang sedang berada di atas angin, kok rasanya tetap menyebalkan.

Dan dengan ending yang harus kalian lihat sendiri, film Tilik menyajikan realitas kehidupan yang maha membolak-balikkan perasaan. Kita jadi bingung, di film ini sebenarnya penjahatnya siapa.

BACA JUGA 5 Panduan Ghibah Bu Tejo di Film ‘Tilik’ bagi Netizen Sejagat dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2020 oleh

Tags: Bantulfilm tilikibu-ibu
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Honda All New Beat Boleh Jumawa karena Laris, tapi Soal Kuliatas Yamaha Gear 125 Juaranya Terminal Mojok.co

6 Alasan Sulit Marah pada Ibu-ibu Motor Matic yang Melanggar Lalu Lintas

6 November 2022
5 Privilese Tinggal di Sleman Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul Mojok.co

5 Privilese Tinggal di Sleman Sisi Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul

8 September 2024
Derita Jadi Orang Batak di Bantul, Sulit Mencari Rumah Makan Batak yang Cocok di Lidah Mojok.co

Derita Jadi Orang Batak di Bantul, Sulit Mencari Rumah Makan Batak yang Cocok di Lidah

11 November 2023
7 Kebiasaan Ibu-ibu Saat Belanja yang Bikin Geleng-geleng Kepala Terminal Mojok

7 Kebiasaan Ibu-ibu Saat Belanja yang Bikin Geleng-geleng Kepala

6 Desember 2022
Penutupan Plengkung Gading Adalah Kecemasan Terbesar Saya Sebagai Penglaju Bantul-Sleman Mojok.co

Penutupan Plengkung Gading Adalah Kecemasan Terbesar Saya sebagai Penglaju Bantul-Sleman

23 September 2025
3 Sisi Menyebalkan Ibu-ibu Tetangga Saat Bertamu ke Rumah Mojok.co

3 Sisi Menyebalkan Ibu-ibu Tetangga Saat Bertamu ke Rumah

30 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Monginsidi, Jalan Braganya Salatiga: Ikonik dan Nggak Kalah Cantik

Salatiga Tidak Punya Stasiun, Cukup Merepotkan bagi Orang yang Terbiasa Bepergian dengan Kereta Api

10 Maret 2026
Vespa Matic Dibenci Banyak Orang, Hanya Orang Bodoh yang Beli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor (Bagian 2)

11 Maret 2026
Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

9 Maret 2026
Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

8 Maret 2026
4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya Terminal

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya

9 Maret 2026
Apa itu Selat Hormuz dan Kenapa Posisinya Strategis?

Apa itu Selat Hormuz dan Kenapa Posisinya Strategis?

9 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol
  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.